- Pasar keuangan Indonesia ditutup menguat pada perdagangan terakhir Juli, bursa saham dan rupiah menguat
- Dow Jones mengakhiri perdagangan terakhir di Juli dengan kompak menguat
- Data ekonomi mulai dari inflasi, PMI Manufaktur hingga PDB hingga perkembangan perang akan menjadi penggerak pasar hari ini dan satu pekan ke depan
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ditutup cerah pada perdagangan terakhir Juli 2026. Kenaikan ini diharapkan tetap berlanjut di Agustus tahun ini.
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini dan sepekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Bursa saham Indonesia akhirnya mengakhiri "kutukan" dengan menguat secara bulanan di Juli 2026. Setelah terus menerus melemah sejak Januari-Juni 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menguat 10,51% di Juli 2026.
Pada perdagangan terakhir Juli, Jumat (31/7/2026), IHSG ditutup menguat 0,8% ke posisi 6236,126.
Sebanyak 437 saham menguat, 193 melemah dan 159 stagnan. Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 250,53 miliar.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) turut naik menjadi Rp10.947 triliun.
Dalam sepekan, IHSG melonjak 0,64%. Artinya, IHSG selalu menguat dalam empat pekan terakhir.
Penguatan terjadi meski aktivitas perdagangan melambat dibandingkan oekan sebelumnya. Rata-rata nilai transaksi harian pada pekan lalu turun 21,86% menjadi Rp15,44 triliun.
Dalam sepekan, investor asing mencatat net buy Rp5,991 triliun, sementara investor domestik membukukan net sell dalam jumlah yang sama.
Secara sektoral, dalam sepekan, sektor barang baku memimpin kenaikan dengan penguatan 2,71%, disusul consumer cyclicals 2,61%, kesehatan 2,51%, dan teknologi 2,12%. Sebaliknya, sektor properti dan real estate menjadi yang tertekan paling dalam dengan penurunan 3,49%.
Di jajaran top gainers pekan lalu, saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) melesat 67,62%, diikuti PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL) yang naik 60,87% dan PT Mega Perintis Tbk (ZONE) sebesar 51,49%.
Sementara itu, saham PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) menjadi top losers pekan lalu setelah anjlok 23,74%, disusul PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) yang turun 20,88% dan PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) yang melemah 17,06%.
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir Juli.
Namun, penguatan tersebut belum mampu menutup pelemahan yang terjadi sepanjang pekan dan bulan lalu.
Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,47% ke posisi Rp17.990/US$ pada perdagangan Jumat (31/7/2026).
Kendati menguat cukup tajam pada perdagangan terakhir, rupiah masih melemah 0,31% dalam sepekan.
Kinerja tersebut menjadi yang terburuk dibandingkan mata uang Asia lainnya. Tekanan yang dialami rupiah semakin mencolok karena indeks dolar AS justru jatuh 1,53% sepanjang pekan ke posisi 99,914.
Jika ditarik lebih panjang, rupiah terdepresiasi 0,64% sepanjang Juli. Mata uang Garuda sempat kembali berada di atas level Rp18.000/US$ di tengah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada awal pekan lalu.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stagnan di 7,337% pada perdagangan Jumat (31/7/2026).
(mae/mae)




