Harga emas dunia diperkirakan cenderung konsolidasi pada pekan ini, di tengah penantian pelaku pasar terhadap serangkaian data ketenagakerjaan AS.
IDXChannel - Harga emas dunia diperkirakan cenderung konsolidasi pada pekan ini, di tengah penantian pelaku pasar terhadap serangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Fokus pasar beralih dari data inflasi yang lebih jinak ke kondisi pasar tenaga kerja AS.
Sejumlah indikator penting, mulai dari ISM Manufacturing PMI, JOLTS Job Openings, ADP Employment Change, ISM Services PMI, klaim pengangguran mingguan, hingga laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Juli pada Jumat mendatang diperkirakan menjadi penentu arah pergerakan emas.
Pada perdagangan terakhir, Jumat (31/7/2026) pekan lalu, harga emas spot ditutup turun 1,45 persen ke level USD4.044,28 per troy ons setelah dolar AS menguat dari posisi terendahnya dalam lebih dari satu bulan.
Secara mingguan, emas terkoreksi tipis 0,21 persen.
Meski demikian, sepanjang Juli logam mulia masih membukukan kenaikan 0,92 persen, sekaligus menjadi kenaikan bulanan pertama dalam lima bulan terakhir.
Survei mingguan Kitco News menunjukkan para analis masih belum memiliki pandangan yang seragam mengenai arah harga emas dalam jangka pendek.
Analis senior Barchart.com, Darin Newsom, menilai emas masih bergerak dalam pola yang sama tanpa perubahan berarti.
"Pergerakan masih sideways. Tidak ada yang berubah dari pasar emas, dan justru itulah yang membuat fase konsolidasi ini semakin menarik," katanya.
Sementara itu, Senior Market Strategist Forex.com James Stanley masih melihat peluang penguatan. Menurutnya, level psikologis USD4.000 per troy ons sejauh ini masih mampu menjadi area pertahanan yang kuat bagi harga emas.
Di sisi lain, Chief Market Strategist SIA Wealth Management Colin Cieszynski mengambil sikap netral.
Ia menilai emas masih berada dalam fase konsolidasi di sekitar level USD4.000 per troy ons sehingga belum memberikan sinyal arah yang jelas.
Hasil survei Kitco terhadap analis Wall Street juga mencerminkan ketidakpastian tersebut.
Dari 17 analis yang berpartisipasi, lima orang atau 29 persen memperkirakan harga emas naik pada pekan ini. Sebanyak enam analis atau 35 persen memprediksi harga melemah, sementara enam analis lainnya memperkirakan emas bergerak mendatar.
Pandangan investor ritel juga mulai beragam. Dari 184 responden dalam jajak pendapat daring Kitco, sebanyak 47 persen memperkirakan harga emas naik, 30 persen memprediksi turun, sedangkan 23 persen menilai emas akan tetap berkonsolidasi.
Pelaku pasar kini menantikan rangkaian data ekonomi AS yang berpotensi menjadi katalis utama. Pekan ini diawali dengan rilis ISM Manufacturing PMI Juli pada Senin, disusul data JOLTS Job Openings pada Selasa.
Selanjutnya, pasar akan mencermati data ADP Employment Change dan ISM Services PMI pada Rabu, kemudian data klaim pengangguran mingguan pada Kamis.
Perhatian pasar akhirnya tertuju pada laporan NFP Juli yang akan dirilis Jumat, karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed. (Aldo Fernando)





