Dari Dapur Rumah hingga Pasar Ekspor, Sambal Mantu Buktikan UMKM Bantu Jaga Inflasi dan Naik Kelas

medcom.id
3 jam lalu
Cover Berita
Bali: Cabai sering menjadi salah satu penyumbang utama inflasi di Indonesia. Namun, di balik fluktuasi harga komoditas tersebut, ada peran pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ikut menjaga pasokan pangan tetap tersedia. 
 
Salah satunya adalah Sambal Mantu, UMKM binaan Bank Indonesia asal Bali yang berhasil mengolah hasil pertanian bukan hanya menciptakan nilai tambah, tetapi juga membantu menjaga stabilitas harga pangan.
 
Kisah Sambal Mantu bermula dari pengalaman sederhana sang pendiri, Made Ani Setia Wulan, yang setiap hari harus membuat sambal untuk suaminya. Sebagai perempuan yang bekerja dan memiliki dua anak, rutinitas itu menjadi tantangan tersendiri.

"Jadi, yang kedua itu karena suami saya suka banget sama yang namanya sambal, jadi kayak hampir setiap hari saya disuruh bikin sambal. Dan, kalau kita wanita karir, punya dua anak kecil-kecil, itu kan ribet banget pagi-pagi," kenang Ani.
 
Dari kebiasaan membuat sambal dalam jumlah besar setiap akhir pekan, muncul ide untuk menyimpannya dalam toples agar lebih praktis. Ide sederhana itu kemudian berkembang menjadi peluang bisnis ketika ia melihat para petani cabai di kampung halamannya harus menjual hasil panen kepada tengkulak dengan harga rendah.


Sambal Mantu. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu

Ani pun melakukan survei ke sejumlah supermarket di Bali. Saat itu, ia menemukan sambal kemasan belum banyak tersedia, terutama sambal embe khas Bali.
 
"Di tahun 2017 itu belum ada sambal dalam kemasan seperti saat ini. Nah, ternyata sambal embe ini yang belum ada," ujar Ani menceritakan asal mula bisnis Sambal Mantu.
 
Berawal dari dua varian, Sambal Mantu kini berkembang menjadi 16 varian produk, mulai dari sambal original, sambal judes dengan tingkat kepedasan lebih tinggi, hingga sambal embe yang didalamnya terdapat teri, belut, dan petai. 
 
Menariknya, beberapa varian tersebut lahir saat pandemi covid-19 sebagai upaya membantu UMKM lain yang memproduksi teri dan belut agar tetap memiliki pasar. 
 
"Itu kita bikin juga karena kita ingin membantu UMKM di sekitar sini," ucap Ani.
  Baca juga: Pertumbuhan yang Menyatukan Bangsa: Jembatan antara Modernitas dan Keadilan UMKM Pangan Jadi Bagian Pengendalian Inflasi Di balik pertumbuhan bisnisnya, Sambal Mantu juga menjadi bagian dari ekosistem pangan yang dinilai berperan dalam pengendalian inflasi. Bagi Bank Indonesia, UMKM yang mengolah hasil pertanian memiliki fungsi strategis karena mampu memperpanjang umur simpan komoditas sekaligus menjaga ketersediaan pasokan di luar musim panen.
 
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan inflasi di Indonesia masih didominasi oleh inflasi pangan. Karena itu, keberadaan UMKM pangan menjadi mata rantai penting setelah proses produksi di tingkat petani.
 
"Inflasi paling utama sebenarnya kan inflasi pangan, disitu pasti ada pelaku UMKM yang dia terkait dengan produksi pangan, jadi UMKM yang kami sebutnya UMKM pangan," kata Achris.
 
Menurutnya, pengendalian inflasi tidak berhenti pada peningkatan produksi pertanian. Produk hasil panen juga perlu diolah agar memiliki nilai tambah dan tetap tersedia ketika pasokan bahan baku sedang berkurang.
 
"Pertama kali ada petani cabainya, tapi berikutnya ada UMKM mengolah cabainya menjadi produk turunannya, supaya ini pada saat dia butuh cabainya, nggak pas musim cabainya tetap ada karena dia diolah menjadi bawang goreng misalnya gitu. Itu adalah UMKM yang kami bilang UMKM pangan, itu penting sekali dalam ekosistem untuk mengendalai inflasi," jelas Achris.
 
Konsep tersebut dijalankan Sambal Mantu melalui pengolahan cabai menjadi sambal kemasan yang memiliki daya simpan lebih panjang. Selain membantu menyerap hasil panen petani, produk olahan juga mampu mengurangi risiko kelebihan pasokan saat panen raya.


Owner Sambal Mantu. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu

Untuk menjaga kualitas bahan baku, Sambal Mantu tidak hanya membeli cabai dari pasar. Ani membangun kemitraan langsung dengan petani cabai dan petani kelapa di Bali melalui program pemberdayaan yang dilakukan setiap tahun.
 
"Setiap tahun Sambal Mantu itu ada program CSR yang membantu para petani, khususnya petani cabai," ujar Ani.
 
Menurutnya, pendampingan tersebut dilakukan agar petani mampu menghasilkan cabai berkualitas sekaligus menjaga kesinambungan pasokan bahan baku bagi usaha mereka.
 
Saat ini Sambal Mantu memproduksi sekitar 100 hingga 120 botol setiap hari atau sekitar 2.000 botol per bulan. Produksi tersebut melibatkan enam pekerja lokal, sementara pada musim permintaan tinggi, warga sekitar turut diberdayakan untuk membantu proses produksi, seperti mengupas bawang.
  Baca juga: GPIPS Balinusra 2026 Fokus Jaga Pasokan Pangan di Tengah Lonjakan Wisatawan Dibina Bank Indonesia, Kini Tembus Pasar Ekspor Perjalanan Sambal Mantu berkembang tidak lepas dari pembinaan Bank Indonesia. Menurut Ani, bantuan pertama yang diterima bukan berupa modal, melainkan pendampingan mengurus sertifikasi halal ketika usaha tersebut baru dirintis pada 2017.
 
"Saat itu, di tahun 2017, saya ngurus sertifikat halal. Nah, saya dihubungi sama pihak Bank Indonesia, terus kita diikutkan dalam program sertifikat halal gratis untuk UMKM," cerita Ani
 
Sejak menjadi UMKM binaan, Sambal Mantu mendapatkan berbagai pendampingan, mulai dari kurasi produk, pelatihan pengembangan usaha, digital marketing, inovasi kemasan, hingga akses mengikuti pameran nasional seperti Festival Syariah (FESyar) dan Karya Kreatif Indonesia (KKI).
 
"Benar-benar banyak dibantu, disupport, baik itu dari Bank Indonesia maupun pemerintah daerah dan provinsi," ungkap Ani.
 

Proses packing Sambal Mantu. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu
 
Achris juga mengatakan bentuk pendampingan tersebut sebenarnya tidak berbeda dengan pembinaan UMKM sektor lainnya. Namun, untuk UMKM pangan, tujuan akhirnya adalah memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas inflasi.
 
"Supportnya sama dengan UMKM yang wastra, support kita ada, tapi tujuannya beda. Tujuannya ini mengendalikan inflasi, kalau yang wastra misalnya meningkatkan pendapatan ekspor," kata Achris.
 
Pendampingan tersebut kini membuahkan hasil. Produk Sambal Mantu tidak hanya dijual di toko oleh-oleh, supermarket, dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, tetapi juga dipasarkan melalui berbagai marketplace. Bahkan, produk tersebut telah menembus pasar Singapura, Malaysia, dan Australia. Naik Kelas Sambil Memberdayakan Masyarakat Di tengah fluktuasi harga cabai yang masih menjadi tantangan, Ani mengaku telah menerapkan sistem perencanaan bahan baku dan perhitungan biaya produksi jauh sebelum musim harga tinggi tiba. Strategi tersebut membuat kualitas produk tetap terjaga tanpa harus mengorbankan konsumen.
 
Ke depan, ia berharap pembinaan terhadap UMKM terus diperkuat, terutama dalam membuka akses pasar, inovasi produk, dan pengembangan teknologi agar semakin banyak usaha lokal yang mampu tumbuh secara berkelanjutan.
 
Perjalanan Sambal Mantu menunjukkan bahwa UMKM bukan sekadar penggerak ekonomi daerah. Melalui inovasi produk, kemitraan dengan petani, dan pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah, UMKM juga berperan menjaga stabilitas pasokan pangan dan membantu mengendalikan inflasi. Dari dapur rumah di Bali, Sambal Mantu kini menjadi contoh bagaimana usaha kecil dapat tumbuh menjadi pemain ekspor tanpa meninggalkan akar pemberdayaan masyarakat.
 

Transaksi pembeli Sambal Mantu. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gubernur Andra Sebut Banten Zona Merah Karhutla, Minta Semua Pihak Siaga
• 1 jam laludetik.com
thumb
Pemerintah Ungkap Langkah Setelah KMP Mutiara Sentosa 2 Terbakar
• 1 jam laluliputan6.com
thumb
Kepala BGN Ungkap Dugaan Sementara Keracunan MBG di Semarang: Waktu Masak Lebih Awal
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
DPR Minta Pemerintah Segera Siapkan Roadmap Transisi Pendanaan Makan Bergizi Gratis Usai Putusan MK
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
Piala Presiden 2026: Surabaya Sempat Dipertimbangkan Jadi Tuan Rumah Semifinal dan Final
• 16 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.