Pengendali emiten pelayaran energi PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) resmi berpindah tangan dari PT Galley Adhika Arnawama (Grup Daidan) kepada PT Wibowo Group Capital (WGC). Pergantian kepemilikan ini terjadi ketika pendapatan MBSS turun 15,1% pada semester pertama 2026 akibat melemahnya bisnis penyewaan kapal, sehingga membuka peluang ekspansi dan perbaikan kinerja.
Berdasarkan penelusuran Katadata.co.id, WGC didirikan oleh Andy Wibowo yang juga merupakan pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) perusahaan tersebut. WGC merupakan perusahaan induk yang berinvestasi di sejumlah perusahaan pembangunan dan perawatan berbagai jenis kapal.
Usai aksi ini, WGC akan mengembangkan bisnis pada segmen pengangkutan komoditas curah dan jasa pendukung logistik maritim. Setelah akuisisi rampung, perusahaan akan melakukan integrasi usaha secara bertahap dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, tata kelola perusahaan yang baik (GCG), serta kepatuhan terhadap regulasi.
Andy Wibowo juga merupakan pemilik PT Gandasari Group. Berdasarkan profil perusahaan di LinkedIn, Gandasari bergerak di sektor pertambangan, pelayaran, jasa pelabuhan dan teknik kelautan. Portofolio bisnis tersebut beririsan dengan lini usaha MBSS yang bergerak di jasa angkutan laut untuk komoditas batu bara dan nikel.
Dari sisi armada, Gandasari disebut mengoperasikan sekitar 185 kapal. Sementara MBSS memiliki empat speedboat, 20 kapal tunda, tongkang, floating crane serta berbagai peralatan perkapalan lainnya.
Kedekatan model bisnis kedua grup ini membuka peluang terciptanya sinergi. Jika integrasi berjalan sesuai rencana, WGC berpotensi membangun ekosistem yang lebih terintegrasi, mulai dari pertambangan, pelayaran hingga jasa galangan kapal.
Di sisi lain, kinerja operasional MBSS masih menghadapi tekanan. Berdasarkan laporan keuangan semester pertama 2026, pendapatan dari jasa angkutan laut berdasarkan muatan turun menjadi Rp 403,29 miliar dari Rp 474,41 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan berdasarkan waktu juga menyusut menjadi Rp 3,58 miliar dari Rp 4,85 miliar.
Penurunan pendapatan tersebut diikuti kenaikan beban pokok pendapatan menjadi Rp 315,48 miliar dari Rp 294,82 miliar. Beban umum dan administrasi juga menebal menjadi Rp 48,19 miliar dari Rp 40,17 miliar.
Meski demikian, perseroan tercatat membukukan keuntungan selisih kurs sebesar Rp 82,88 miliar. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, pos tersebut masih mencatatkan rugi Rp 35,63 miliar.
Seiring dengan itu, laba bersih MBSS masih mampu naik tipis menjadi Rp 203,79 miliar dari Rp 202,94 miliar pada semester pertama 2025, meski pendapatan usaha mengalami penurunan.
Pergantian pengendali ini pun memunculkan sejumlah pertanyaan di pasar. Selain membuka peluang terbentuknya ekosistem pertambangan dan pelayaran yang lebih terintegrasi, investor juga menantikan apakah transaksi tersebut akan diikuti kewajiban tender offer kepada pemegang saham publik.
Namun berdasarkan keterangan manajemen MBSS sebelumnya, WGC wajib melaksanakan Penawaran Tender Wajib, kecuali apabila terdapat pengecualian berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu POJK No. 9/POJK.04/2018 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka.
Sekretaris Perusahaan MBSS Emy Oktavia menjelaskan aksi akuisisi itu terjadi pada 31 Juli 2026 PT Galley Adhika Arnawama dan PT Wibowo Group Capital telah menandatangani perjanjian jual beli saham. Melalui transaksi crossing di Pasar Negosiasi Bursa Efek Indonesia, WGC mengakuisisi 1,44 miliar saham atau setara 82,5% dari modal ditempatkan dan disetor penuh MBSS dengan nilai transaksi sekitar Rp 4,2 triliun.
"Setelah penyelesaian atas transaksi ini, Penjual tidak lagi menjadi pemegang saham mayoritas Perseroan dan pelaksanaan Transaksi tidak berdampak material terhadap kegiatan usaha Perseroan," tulis Emy dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Senin (3/8). Aksi korporasi besar pekan lalu ini merupakan bagian dari strategi ekspansi WGC untuk memperkuat bisnis jasa pelayaran dan logistik maritim yang terintegrasi.




