I Made Dwi Mardiayasa masih berusia 21 tahun ketika ia memutuskan sesuatu yang sebenarnya cukup berani untuk anak muda desa zaman sekarang: memilih tinggal dan bertani kakao, saat dua saudaranya memilih jalan lain, satu menjadi guru, satu lagi bekerja di sektor pariwisata. Bagi keluarganya, pilihan itu bukan hal remeh. I Made Dwi Mardiayasa adalah anak kedua dari I Ketut Sudomo, petani kakao yang seluruh hidupnya kini digantungkan pada kebun yang sama.
Bagi Ketut Sudomo sendiri, kakao telah mengubah banyak hal yang dulu mustahil. Dari yang dulunya tidak bisa membeli apa-apa, kini ia sudah membangun rumah dan mendapatkan banyak hal yang dulu ada di luar jangkauan. Ketika sang ayah kini mulai menua, Mardiayasa-lah yang memilih untuk turun penuh membantu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, tapi karena ia melihat langsung apa yang bisa diberikan kebun ini pada keluarganya.
Kisah kecil dari satu keluarga ini sebenarnya adalah miniatur dari persoalan besar yang dihadapi seluruh sektor kakao Indonesia: regenerasi petani. Bukan hanya soal siapa yang akan meneruskan kebun, tapi juga siapa yang selama ini kontribusinya jarang diakui, terutama perempuan.
Ketika Yayasan Kalimajari memetakan rantai pasok dan rantai nilai kakao Jembrana dari kebun hingga ke mana pun biji kakao itu berangkat. Ada temuan yang mengubah cara mereka merancang seluruh program pendampingan.
"Ternyata di antara tahapan-tahapan itu, peran petani perempuan dan petani muda sangat tinggi," ujar Direktur Yayasan Kalimajari, Agung Widiastuti. "Kalau perempuan tidak diperkuat, tidak dikuatkan, dan tidak dilibatkan dalam program ini, tentu saja kami tidak akan bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Ini bukan soal harus ada partisipasi perempuan sebagai angka. Jauh dari itu."
Ia mencontohkan proses sortasi biji kakao setelah fermentasi sebagian besar dikerjakan oleh perempuan. Di kebun, ada pula ibu-ibu yang menguasai teknik sambung pucuk dan sambung samping, keterampilan teknis yang menentukan kualitas bibit kakao ke depan. "Jangan diremehkan," kata Agung. "Kalau kemudian perempuan tidak diperkuat, dia akan terlempar dari proses ini. Padahal kontribusinya luar biasa. Ini juga akan meningkatkan pendapatan keluarga, meningkatkan proses yang ada di koperasi."
Dari temuan itu, Kalimajari dan KSS menginisiasi program bernama GALS (Gender Action Learning for Sustainability). "Bukan karena saya seorang perempuan," Agung menegaskan. "Tapi saya melihat perempuan itu luar biasa. Gender yang kami kuatkan bukan cuma perempuannya, dalam satu keluarga, petani laki-laki dan petani perempuan punya peran yang sama. Tapi memang perlu afirmasi, karena selama ini perempuan tidak diperkuat. Yang datang pelatihan adalah petani laki-laki, yang kerja di kebun adalah petani perempuan. Tapi tidak pernah ada transfer pengetahuan di antara keduanya."
Bagi Agung, tantangan terbesar bukan hanya soal akses, melainkan cara pandang yang sudah mengakar. "Ada stereotip di lapangan bahwa perempuan tidak usah ikut belajar sambung pucuk atau sambung samping, karena itu dianggap kerjaan laki-laki," katanya. "Kultur kami di Bali sangat patrilineal. Peran-peran strategis perempuan sering tidak diapresiasi."
Perubahan itu, menurutnya, terasa nyata pada hal-hal praktis di lapangan, termasuk siapa yang berhak mengambil keputusan saat suami sedang tidak ada. "Kalau bapaknya masih rapat atau sibuk, petani perempuan tidak perlu menunggu. Kalau memang sudah waktunya menyambung dan musim akan berubah, kenapa harus menunggu? Perempuan pun bisa mengambil keputusan karena dia paham," ujar Agung.
Yang paling sering hilang dari perempuan petani, ia melanjutkan, bukan pengetahuan, melainkan kepercayaan diri. "Begitu banyak petani perempuan hebat, tapi mereka tidak punya akses. Mereka punya pengetahuan dan keterampilan, tapi tidak punya kepercayaan diri untuk bicara di depan publik. Lewat GALS, kami asah bagaimana mereka mampu bicara di depan publik dan mengambil keputusan karena mereka tahu dan sadar, bukan sekadar mengikuti."
Salah satu langkah yang mungkin tak terduga dari program ini adalah kolaborasi Kalimajari dengan Yayasan Pink Ribbon untuk menggelar screening kanker bagi anggota koperasi. "Karena kami ingin sekali perempuan itu berdaya, perempuan itu bisa bekerja, dia punya tubuh sehat," kata Agung. "Nggak usah ngomongin kakao organik, tapi petaninya sakit."
Sekitar 200 orang mengikuti screening tersebut. Dari jumlah itu, sekitar 22 orang ternyata teridentifikasi berisiko tanpa mereka sadari sebelumnya. Bagi Agung, ini bagian dari makna paling nyata dari kata "keberlanjutan" yang sesungguhnya. "Ini sebenarnya makna yang paling real ketika kita ngomongin sustainability," ujarnya. "Nggak cuma meningkatkan produksi, nggak cuma meningkatkan kualitas SDM-nya juga harus kita jaga."
Persoalan regenerasi, bagi Agung, adalah krisis senyap yang mengintai seluruh sektor pertanian Indonesia, bukan hanya kakao. "Bayangkan kalau tidak ada generasi penerus, tidak ada kader yang meneruskan," katanya. "Itu menjadi problem terbesar di dunia pertanian Indonesia saat ini." Karena itu pula Kalimajari sengaja merancang program khusus untuk anak muda sebagai bagian dari pendekatan gender yang lebih luas, bukan program terpisah, melainkan satu kesatuan strategi.
Semangat ini yang membuat kisah I Made Dwi Mardiayasa terasa relevan jauh melampaui satu keluarga di Jembrana. Ketika generasi muda Indonesia umumnya berbondong-bondong meninggalkan desa demi pekerjaan di kota, ada anak muda 21 tahun yang melihat kebun ayahnya dan memutuskan: ini bukan beban yang harus dipikul, melainkan masa depan yang layak diperjuangkan.
Semangat regenerasi dan pemberdayaan ini kini tidak berhenti di Jembrana saja. Ia menginspirasi terbentuknya program TRAKSI bersama Rainforest Alliance, Rikolto, Pemda Jembrana, dan Valrhona, membawa ruang belajar bersama yang sama ke enam koperasi lain di Bali (Tabanan), Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi. Perluasan ini penting karena menunjukkan bahwa apa yang terjadi di Jembrana bukan keberuntungan lokal semata, melainkan model yang bisa direplikasi ketika pendampingan yang tepat, termasuk pendampingan yang secara sengaja memperkuat perempuan dan anak muda hadir sejak awal.
Pemerintah Kabupaten Jembrana turut menopang keberlanjutan ini lewat Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2020 tentang Perlindungan dan Pengembangan Komoditas Kakao, lengkap dengan dukungan pembiayaan bagi koperasi dan penyediaan benih unggul bagi anggotanya. Modal yang akan sangat menentukan apakah generasi seperti Kadek punya alasan kuat untuk tetap tinggal.
Pada akhirnya, regenerasi di Jembrana bukan sekadar statistik jumlah petani muda yang bertambah. Ia adalah kisah tentang seorang ayah yang akhirnya bisa membangun rumah dari hasil kebunnya, seorang anak yang memilih tinggal alih-alih pergi, dan perempuan-perempuan yang perlahan mendapatkan kembali ruang bicara yang selama ini bukan tidak mereka miliki, hanya belum pernah diberi tempat.





