707 Orang Keracunan MBG di Semarang, BGN Hentikan Sementara SPPG Terkait

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS– Sebanyak 707 orang diduga mengalami keracunan makan bergizi gratis (MBG) di Semarang. Korban dugaan keracunan tersebut merupakan siswa dan guru SMK Negeri 6 Semarang. Terkait dengan kasus itu, Badan Gizi Nasional telah menghentikan sementara dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi terkait.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin (3/8/2026) mengatakan, BGN menduga insiden keracunan makanan tersebut diduga dipicu oleh beberapa bahan makanan yang dikonsumsi oleh penerima MBG.

Waktu memasak yang dilakukan terlalu dini sebelum makanan didistribusikan juga bisa menjadi penyebabnya. Jeda waktu yang terlalu lama bisa berisiko terhadap keamanan pangan.

Baca Juga707 Siswa dan Guru SMKN 6 Semarang Keracunan Massal Seusai Santap Menu MBG
Baca Juga707 Siswa dan Guru di Semarang Diduga Keracunan Seusai Santap MBG, Penyebab Diselidiki

“Sejauh ini investigasi yang kami terima adalah ada beberapa bahan, ya ada daun singkong, ada bumbu rendang dan lain-lain, kita lagi minta dari Dinas Kesehatan untuk dicek lab-nya. Kita butuh waktu paling tidak tujuh hari atau lima hari kerja untuk sampai dengan hasilnya,” katanya.

Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Semarang, dugaan keracunan makanan akibat MBG dialami oleh 707 orang yang terdiri atas 693 siswa dan 14 guru di SMK Negeri 6 Semarang. Dugaan sementara keracunan terjadi akibat mengonsumsi makanan pada Jumat (31/7). Sebagian besar kasus mengalami pusing, mual, muntah, dan diare.

Dari seluruh korban terdampak, sebanyak 13 orang harus dirawat. Saat ini, kondisi para korban mulai membaik. Meski begitu, pemantauan tetap dilakukan pada seluruh kasus yang diduga terdampak keracunan tersebut,

Terkait kasus tersebut, Sudaryono mengatakan, penghentian sementara dilakukan sambil menunggu hasil investigasi selesai. Surat peringatan juga sudah diberikan pada SPPG tersebut.

Sanksi nantinya bisa diberikan pula pada mitra terkait lainnya, yayasan SPPG, dan koordinator. Setiap SPPG diminta untuk lebih tegas mematuhi standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditentukan.

Hal tersebut disampaikan pula oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Mochamad Abdul Hakam. Dalam Kompas.id (1/8), ia mengatakan, Dinas Kesehatan telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari sekolah, penyelenggara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Semarang Timur, serta Yayasan Putra Maju Mapan Mandiri yang membawahkan SPPG penyuplai MBG ke SMKN 6 Semarang.

“Sebagai langkah kehati-hatian, distribusi makanan dari penyelenggara SPPG terkait dihentikan sementara hingga proses penyelidikan epidemiologi dan pemeriksaan laboratorium selesai dilakukan,” ujar Hakam.

Nihil toleransi

Sudaryono pun menegaskan bahwa BGN menekankan prinsip zero tolerance atau nihil toleransi terhadap insiden terkait keamanan atau keracunan makanan. Kepatuhan terhadap SOP dan sistem pengelolaan dapur merupakan kunci untuk menjamin keamanan makanan yang disajikan kepada para penerima manfaat.

Baca JugaKeracunan MBG Jadi Teror, Pemerintah Wajibkan Sertifikasi dan Perketat Pengawasan
Baca JugaMBG Disarankan Tidak untuk Semua, tapi Siswa yang Paling Membutuhkan

“Saya sebagai Kepala Badan Gizi yang baru ini memastikan itu, zero tolerance terhadap keracunan, zero tolerance terhadap tindak pidana korupsi dan hanky panky, nitip-nitip duit itu nggak boleh lagi,” tuturnya.

Sudaryono menambahkan, BGN tengah mempercepat penerapan sistem digital dalam pemantauan pelaksanaan program MBG untuk mencegah kejadian keracunan yang berulang. Lewat digitalisasi, seluruh tahapan produksi makanan dapat terdokumentasi dan terpantau secara menyeluruh.

Saya sebagai Kepala Badan Gizi yang baru ini memastikan itu, zero tolerance terhadap keracunan, zero tolerance terhadap tindak pidana korupsi dan hanky panky, nitip-nitip duit itu nggak boleh lagi.

Waktu memasak, menu, serta penggunaan bahan dan bumbu akan bisa dipantau. Data tersebut akan tersistem secara digital sehingga seluruh pihak bisa memantau dengan baik.

Dengan sistem baru, transparansi pun diharapkan meningkat. Orangtua siswa bisa memantau proses memasak. Begitu pula guru dan Dinas Kesehatan setempat.

“Kita sudah siapkan sistemnya. Ini sekarang lagi kita paksa semua dapur, ada Korcam (koordinator kecamatan) dan lain-lain, lagi kita paksa kita kerja pakai sistem. Jadi kapan kol mulai dicacah, kapan dimasak itu semua kita lock. Dan kita lagi siapkan ini (sistemnya). Kita kebut semua. Moga-moga seminggu dua minggu ini sudah beres,” tutur Sudaryono.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Santri di Karawang Dituduh Begal Lalu Disiram Air Panas-Dianiaya
• 12 jam laludetik.com
thumb
Pagar Mal Kokas Disorot Pramono Berujung Dibongkar
• 17 jam laludetik.com
thumb
5 Berita Terpopuler: Mengganggu Kenyamanan, PPPK Paruh Waktu Desak Peralihan ke ASN Penuh, Faktanya Begini
• 8 jam lalujpnn.com
thumb
Agung Podomoro Land (APLN) Raup Laba Bersih Rp185 Miliar di Semester I-2026
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Truk Tertabrak KA di Perlintasan Tanpa Palang Sergai Sumut, Sopir Tewas
• 5 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.