Terkini, Makassar – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat mencatat kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan hingga Semester I 2026 tetap menunjukkan pertumbuhan positif, meski berada sedikit di bawah laju pertumbuhan ekonomi daerah.
Aset perbankan Sulawesi Selatan tumbuh 5,99 persen (year on year), sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 5,71 persen dan penyaluran kredit tumbuh 5,27 persen.
Kepala OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin mengatakan pertumbuhan tersebut masih berada pada jalur yang sehat dan sejalan dengan perkembangan ekonomi daerah.
“Pertumbuhan sektor jasa keuangan masih positif. Kredit produktif masih lebih besar dibanding kredit konsumtif sehingga pembiayaan tetap banyak mengalir ke sektor-sektor produktif,” ujar Muchlasin dalam media briefing di Makassar, Senin 3 Agustus 2026.
Ia menjelaskan komposisi DPK masih didominasi tabungan sebesar Rp92,3 triliun atau sekitar 51 persen, disusul deposito sebesar 22 persen dan giro sekitar 15 persen.
Sementara itu, kredit produktif masih mendominasi portofolio pembiayaan dengan pangsa sekitar 52 persen.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan intermediasi perbankan masih berorientasi pada sektor riil yang menopang pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan.
Pada penyaluran kredit berdasarkan lapangan usaha, sektor perdagangan besar dan eceran masih menjadi penerima kredit terbesar, diikuti sektor pertanian, perburuan dan kehutanan, perikanan, akomodasi dan penyediaan makan minum, serta real estate.
Meski kredit perdagangan di Kota Makassar mengalami sedikit perlambatan, pembiayaan pada sektor pertanian justru meningkat sekitar 11 persen dibanding Juni tahun sebelumnya.
“Kami melihat mulai ada penyaluran kredit yang semakin sejalan dengan karakter ekonomi Sulawesi Selatan yang bertumpu pada sektor pertanian, perikanan, dan sektor riil lainnya,” katanya.
Makassar masih menjadi daerah dengan penyaluran kredit terbesar atau sekitar 53,04 persen, mengingat kota tersebut menjadi pusat aktivitas bisnis dan kantor perusahaan.
Setelah Makassar, penyaluran kredit terbesar berada di Palopo sekitar Rp10,4 triliun, Bone sekitar Rp6,2 triliun, disusul Parepare dan Bulukumba.
IKNB dan Pasar Modal Bertumbuh
Pada sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), perusahaan pembiayaan mencatat pertumbuhan 3,56 persen, sedangkan modal ventura tumbuh 3,48 persen.
Outstanding pembiayaan fintech peer-to-peer lending meningkat 29,6 persen, dari sekitar Rp2,04 triliun menjadi Rp2,64 triliun.
Sementara outstanding pergadaian melonjak dari sekitar Rp8 triliun menjadi Rp12 triliun.
Menurutnya, lonjakan tersebut dipengaruhi konsolidasi perusahaan dalam Grup Gade Mas Nusantara yang kini berkantor pusat di Makassar.
Di sektor asuransi, premi meningkat dari sekitar Rp963 miliar menjadi Rp1,26 triliun, sedangkan nilai klaim juga meningkat hingga melampaui Rp1 triliun.
Pertumbuhan paling mencolok justru terjadi di pasar modal.
Jumlah Single Investor Identification (SID) meningkat 79,28 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Investor reksa dana menjadi yang terbesar, disusul investor saham dan Surat Berharga Negara (SBN).
“Pertumbuhan investor menunjukkan semakin banyak masyarakat mulai memanfaatkan instrumen investasi resmi, khususnya reksa dana yang dinilai lebih mudah diakses oleh investor pemula,” kata Muchlasin.
“OJK optimistis tren positif tersebut akan terus berlanjut seiring meningkatnya literasi keuangan masyarakat serta membaiknya aktivitas ekonomi daerah,”tandasnya.




