EtIndonesia.com Menurut beberapa pejabat Amerika Serikat yang dikutip dalam laporan berbagai media, Presiden AS Donald Trump pada Jumat (31 Juli) dikabarkan telah menyetujui rencana operasi militer baru dalam rapat kabinet di Maryland.
Operasi itu disebut-sebut dapat dimulai paling cepat pada akhir pekan ini dan menargetkan fasilitas energi utama Iran, kilang minyak, serta pembangkit listrik melalui serangan udara berskala besar. Laporan juga menyebut bahwa militer Israel kemungkinan akan ikut serta dalam operasi militer.
Trump: “Saya Kehilangan Kepercayaan”Dalam rapat kabinet itu, Trump mengatakan bahwa dirinya telah “kehilangan kepercayaan” terhadap proses perundingan dengan Iran.
Seorang wartawan bertanya:”Anda mengatakan Iran sangat tidak dapat dipercaya. Apakah Anda masih yakin dapat mencapai kesepakatan dengan Iran?”
Trump menjawab: “Saya semakin tidak mempercayai mereka karena mereka berbohong dan memutarbalikkan fakta.”
Trump juga menyatakan bahwa setelah berbulan-bulan pemboman oleh militer Amerika Serikat, persediaan rudal Iran telah banyak berkurang dan kemampuan produksinya hampir hilang. Meski demikian, ia masih berpendapat bahwa Iran pada akhirnya akan memilih mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Unggahan di Truth SocialPada Sabtu (1 Agustus), Trump mengunggah dua gambar pesawat tempur di platform media sosial Truth Social.
Pada hari yang sama, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) merilis foto yang memperlihatkan sebuah helikopter CH-47 Chinook milik Angkatan Darat AS bersiap mendarat di lokasi yang tidak disebutkan di kawasan Timur Tengah.
Helikopter jenis ini umumnya digunakan untuk mengangkut personel, peralatan, dan logistik militer.
Laporan tentang Kemungkinan Serangan BersamaMenurut laporan tersebut, sejumlah sumber mengatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir, militer Amerika Serikat kemungkinan akan segera bekerja sama dengan Israel untuk melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap:
- fasilitas energi utama Iran,
- pembangkit listrik,
- kilang minyak,
- serta infrastruktur sipil lainnya.
Laporan itu menyebut serangan tersebut berpotensi menjadi salah satu operasi udara paling besar terhadap Iran.
Israel Tingkatkan Status SiagaMedia Israel Channel 12 (N12) melaporkan bahwa militer Israel menilai Iran kemungkinan tetap akan meluncurkan rudal balasan, meskipun Israel tidak ikut dalam gelombang pertama serangan.
Karena itu, Kementerian Pertahanan Israel disebut telah menaikkan status kesiagaan menjadi “Highest Alert” (Siaga Tertinggi).
Peringatan bagi Warga Negara AmerikaSeiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, Kedutaan Besar AS di sejumlah negara, termasuk:
- Uni Emirat Arab,
- Israel,
- Yordania,
- Arab Saudi,
- dan Irak, telah mengimbau warga negara Amerika agar mempertimbangkan meninggalkan negara-negara tersebut atau setidaknya mempersiapkan diri untuk evakuasi jika diperlukan.
Warga AS juga diminta menghindari perjalanan ke pangkalan-pangkalan militer di Yordania.
Iran Ancam MembalasMenurut laporan itu, Iran menyatakan bahwa apabila Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara, Iran akan membalas dengan menyerang infrastruktur penting serta kepentingan sekutu Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
AS Lacak Aset IranSebelumnya, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan bahwa pemerintah AS sedang melacak aset-aset Iran di berbagai negara.
“Saat ini inflasi mereka telah mencapai sekitar 180 persen. Mereka bahkan tidak mampu membayar gaji tentaranya,” katanya.
“Dana-dana milik Iran itu akan digunakan untuk memberikan kompensasi kepada rakyat Iran serta warga Amerika yang menjadi korban tindakan Iran, baik dalam insiden kapal perusak USS Cole maupun serangan terhadap barak militer Amerika di Lebanon,” tambahnya.
Laporan disusun oleh Guo Yuexi, NTD Television.





