Kepergian seorang pesohor meninggalkan kesan mendalam bagi yang pernah bertemu dengannya. Apalagi di kancah pendakian internasional. Perkenalan dan tegur sapa dengan sesama petualang lintas benua, jadi kenangan tak terlupakan.
Ini pula yang dirasakan Sofyan Arief Fesa (43), salah satu pendaki kebanggaan Indonesia penyandang gelar seven summiteers of the world, saat mengingat Nirmal Purja yang tewas di Gunung Broad Peak, Pakistan, Kamis (30/7/2026).
Nirmal “Nimsdai” Purja bersama sahabatnya Mingma David Sherpa, menjadi terkenal usai menaklukan 14 puncak tertinggi di dunia (14 eight-thousanders) dalam enam bulan pada 2019. Nimsdai waktu itu berusia 36 tahun, sedangkan David 30 tahun; mengukuhkannya sebagai manusia termuda yang sukses menjejak 14 puncak berketinggian di atas 8.000 mdpl.
Ian – sapaan Sofyan Arief Fesa – terakhir berjumpa Nimsdai di Timika, Oktober 2025. Anggota Mahitala Unpar itu dikabari kawan Sherpanya, yang akan bertemu Nimsdai di salah satu hotel. “Ya udah, jadinya ketemuan bareng,” katanya kepada penulis, Ahad (2/8/2026).
Ian yang mengelola Indonesia Expeditions (Inex) kerap bolak-balik Timika, untuk mengawal tamu ke Carstensz Pyramid. Pendaki asal Cirebon, Teguh Umbara (40), yang memakai jasa Inex, sempat pula bersua Nimsdai. “Kami baru turun dari Carstensz, Nimsdai mau naik,” ujarnya.
Cerita pendakian Teguh ke puncak Nemangkawi, saya ulas dalam Kisah Kawan yang mendaki Carstensz Pyramid.
Ian menyebutkan saat di Timika, Nimsdai mendampingi pendaki asal Timur Tengah yang sedang merampungkan seven summits. Lima tahun terakhir, kata dia, pemandu Sherpa dari Nepal mulai sering terlihat di kawasan Carstensz Pyramid. Mengimbangi pemandu asal Amerika dan Eropa. “Kalau guide bule, banyak di Carstensz,” ucapnya.
Mampir “Nimsdai Store”
Sebelumnya pada musim pendakian Mount Everest, Mei 2023, Ian berpapasan dengan Nimsdai di area kemah Everest Base Camp (EBC/5.364 mdpl). Dia menyertai klien Inex yang ingin merasakan camping di sana. “Kami menginap semalam,” sahutnya.
Kemah pendaki di EBC, lanjut Ian, masih terus lagi dari batu penanda EBC. Sekitar lima belas menit sampai satu jam perjalanan untuk ke ujung tenda terakhir. “Pemandu trekker EBC biasanya enggak masuk ke area camp, kecuali tahu jalur ke sana,” kata lelaki yang mencapai puncak Everest pada 20 Mei 2011.
Di Kathmandu, ibu kota Nepal, Ian mampir ke “Nimsdai Store”, toko perlengkapan outdoor milik Nirmal Purja. Dia menyimpan kontak Mingma David Sherpa, kompatriot Nimsdai yang sama-sama mengelola Elite Expedition. “Kantor agen pendakian yang diminati publik figur itu satu kawasan dengan Nimsdai Store. Waktu itu saya hanya melihat Nismdai, tidak sempat ngobrol,” tuturnya.
Pemberani yang MenginspirasiPopularitas Nimsdai kian melesat setelah aksi pendakiannya difilmkan oleh Netflix lewat 14 Peaks: Nothing Is Impossible yang rilis 2021. Ian mengungkapkan keberanian Nimsdai yang memutuskan pensiun sebagai tentara Gurkha di Kerajaan Inggris lalu beralih menjadi pendaki profesional, merupakan inspirasi buat banyak orang.
“Gurkha itu subsuku di Nepal, yang sejak abad ke-19 direkrut Kerajaan Inggris untuk mengabdi sebagai pasukan khusus,” terang ayah tiga anak yang sudah menamatkan buku Beyond Possible: One Soldier, Fourteen Peaks - My Life in the Death Zone karya Nirmal Purja.
Dan tentu saja, Project Possible menziarahi 14 puncak tertinggi dunia yang dikerjakan Nimsdai dan David dalam enam bulan, menjadi prestasi tak terbantahkan yang menularkan motivasi serupa bagi pendaki lainnya. “Sebenarnya yang jago bikin strategi itu David. Hanya saja karena Bahasa Inggris Nimsdai lancar, dan menarik depan kamera, dia lebih dikenal luas,” ujar Ian.
Apa Lagi yang Ingin Diraih?Aktivitas petualangan buat pehobinya selalu mengundang tantangan. Kalau dipikir, setelah merengkuh seven summits of the world dan 14 eight-thousanders, apa lagi yang mau ditorehkan Nimsdai?
Ian memberi jawaban, kalau dulu Nimsdai mendaki untuk rekor pribadi. Ingin menjadi warga negara Inggris-Nepal yang pertama melakukannya. Kini sebagai pemandu sekaligus operator Elite Expedition yang membuka kesempatan petualang dari penjuru bumi untuk mengibarkan bendera negaranya di 14 puncak tertinggi dunia dan tujuh puncak tertinggi di tujuh benua.
“Banyak artis, influencer, dan pesohor lainnya menggunakan jasa Nimsdai. Artinya sekarang urusan bisnis,” bebernya.
Belitan KontroversiKata pepatah, kian tinggi pohon, makin kencang angin menerpa. Ini tak lepas dari sosok Nimsdai. Pertama soal pilihannya menjadi warga negara Inggris (melepas kewarganegaraan Nepal), karena terdesak klaim asuransi saat kantor Elite Expedition terbakar. “Momen itu memicu kemarahan rakyat Nepal,” sebut Ian.
Kedua, soal investigasi New York Times pada 2024 yang mengungkap dugaan pelecehan seksual oleh Nimsdai terhadap klien perempuannya. Di antaranya seorang Miss Universe asal Finlandia dan dokter dari Amerika. Kasus ini membuat banyak orang kehilangan respek pada Nimsdai “Termasuk saya!” tegas Ian menentang kejahatan seksual pada kaum hawa.
Tamat Digulung AvalancheKisah keberanian Nimsdai (43) berakhir di Broad Peak (8.051 mdpl). Puncak urutan ke-12 dalam sirkut 14 eight-thousanders. Pendaki dunia berduka. Siapa yang pernah bertualang ke Himalaya dan Karakoram pasti tahu dahsyatnya longsoran salju (avalanche) di sana.
Indonesia beruntung memiliki sepuluh pendaki penyandang seven summiteers of the world. Enam – dua di antaranya wanita – dari Mahitala Unpar, dan empat lainnya asal Wanadri. Kedua perhimpunan itu bermarkas di Bandung.
Penjelajahan mereka rentang 2009-2012, membuat bangsa ini bangga. Pendaki dari kawasan tropis mampu menembus medan bersalju di Everest (Nepal), Aconcagua (Argentina), Denali (Amerika), Kilimanjaro (Afrika), Elbrus (Rusia), Vinson Massif (Antartika), dan Carstensz Pyramid (Papua).
Yang membuat lebih bahagia, pendaki Mahitala Unpar dan Wanadri, pulang dengan selamat sampai di tanah air, dan bisa membagikan pengalamannya kepada generasi muda.
*) Penulis adalah anggota Mapala UMY.





