Inflasi Medis Indonesia Tembus 17,8 Persen, Biaya Berobat Makin Membebani Keluarga

jpnn.com
4 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - JAKARTA - Lonjakan biaya layanan kesehatan menjadi ancaman baru bagi ketahanan finansial keluarga Indonesia.

Inflasi medis di dalam negeri diperkirakan mencapai 17,8 persen pada 2026, jauh melampaui inflasi umum yang berada di kisaran 2,5 persen.

BACA JUGA: Ratusan Keluarga Rayakan Hari Anak Nasional di #1 Family Fest Prudential Syariah

Berdasarkan laporan Health Trends 2026 dari Mercer Marsh Benefits, tingkat inflasi medis Indonesia tersebut menjadi yang tertinggi di Asia.

Kondisi ini menunjukkan biaya konsultasi dokter, pemeriksaan penunjang, obat-obatan, tindakan medis, dan rawat inap meningkat jauh lebih cepat dibandingkan biaya hidup secara umum.

BACA JUGA: Prudential Syariah Ingatkan Orang Tua Lindungi Anak dengan Asuransi Jiwa

"Kenaikan biaya berobat berpotensi menggerus tabungan keluarga, mengganggu rencana keuangan, serta memperbesar kebutuhan terhadap perlindungan kesehatan yang memadai," kata Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Emira E. Oepangat, Senin (3/8).

Tekanan biaya kesehatan juga dipengaruhi ketidakpastian geopolitik global dan pelemahan nilai tukar rupiah.

BACA JUGA: Deteksi Sentimen Nasabah Lebih Cepat, Prudential Indonesia Memanfaatkan AI

Ketergantungan terhadap obat-obatan, alat medis, serta sejumlah komponen operasional yang berasal dari impor membuat biaya pelayanan kesehatan sensitif terhadap pergerakan kurs.

Ketika nilai rupiah melemah, biaya pengadaan obat, alat kesehatan, dan teknologi medis berpotensi meningkat.

Kenaikan tersebut kemudian dapat diteruskan ke dalam tarif pelayanan yang harus dibayar pasien maupun perusahaan asuransi.

"Lonjakan biaya medis tidak hanya menekan keuangan masyarakat, tetapi juga berdampak langsung terhadap industri asuransi jiwa," kata Emira.

AAJI mencatat pembayaran klaim kesehatan sepanjang 2025 mencapai Rp26,8 triliun. Angka tersebut meningkat 9,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan klaim yang lebih cepat dibandingkan penerimaan premi turut mendorong kenaikan rasio klaim atau loss ratio di sejumlah perusahaan asuransi. Loss ratio menggambarkan perbandingan antara premi yang diterima perusahaan asuransi dan klaim kesehatan yang dibayarkan. 

"Makin tinggi rasio tersebut, makin besar tekanan terhadap kemampuan perusahaan dalam menjaga keberlanjutan pembayaran klaim," tuturnya.

Tingginya biaya kesehatan didorong oleh sejumlah faktor. Perkembangan teknologi kedokteran dan penggunaan peralatan medis modern meningkatkan akurasi diagnosis serta kualitas perawatan, tetapi juga memerlukan investasi dan biaya operasional yang besar.

Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan setelah pandemi juga meningkat. Kondisi tersebut mendorong kenaikan volume pemanfaatan rumah sakit, klinik, laboratorium, serta fasilitas kesehatan lainnya.

Data BPJS Kesehatan yang disampaikan dalam Indonesia Anti-Fraud Forum 2025 memperkirakan praktik fraud, waste, and abuse atau FWA dapat berkontribusi hingga 5 persen terhadap total rasio klaim industri kesehatan. Kondisi tersebut membuat pengawasan terhadap proses pelayanan dan pembayaran klaim menjadi penting agar kenaikan biaya tidak semata-mata dibebankan kepada pasien maupun pemegang polis.

Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth mengatakan penguatan tata kelola klaim dan transparansi biaya diperlukan untuk menjaga keberlanjutan perlindungan kesehatan.

“Kenaikan biaya kesehatan akibat inflasi medis adalah realita yang dihadapi oleh seluruh ekosistem layanan kesehatan. Prioritas kami di Prudential Indonesia adalah memastikan nasabah tetap dapat memperoleh akses terhadap perawatan medis yang mereka butuhkan dengan rasa tenang,” kata Yosie.

Menurutnya, Prudential Indonesia memperkuat tata kelola klaim, memanfaatkan teknologi analitik data, serta bekerja sama dengan rumah sakit untuk mendorong efisiensi dan transparansi biaya.

“Upaya ini kami lakukan agar perlindungan kesehatan tetap berkelanjutan dan kami dapat terus memberikan kepastian pembayaran klaim ketika nasabah membutuhkan,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan, menjaga pola hidup sehat juga menjadi bagian penting dari perlindungan keuangan. Pola makan yang seimbang, olahraga teratur, istirahat yang cukup, serta pemeriksaan kesehatan berkala dapat membantu mendeteksi risiko penyakit lebih dini.

Masyarakat juga perlu mempertimbangkan produk perlindungan yang tidak hanya memberikan manfaat rawat inap, tetapi menawarkan layanan tambahan untuk mendukung pencegahan penyakit dan pengelolaan kesehatan.

Yosie mengatakan perlindungan kesehatan idealnya tidak hanya hadir ketika nasabah menjalani perawatan di rumah sakit, tetapi juga mendampingi mereka dalam menjaga kesehatan sehari-hari.

“Karena itu, Prudential terus menghadirkan pengalaman yang lebih mudah, transparan, dan relevan bagi nasabah, mulai dari akses ke jaringan rumah sakit berkualitas melalui PRUPriority Hospitals, layanan digital melalui PRUServices, hingga berbagai manfaat apresiasi melalui PRUPoints,” katanya. (esy/jpnn)


Redaktur : Mufthia Ridwan
Reporter : Mesyia Muhammad


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Perjelas Aturan Dagang Logam Tanah Jarang, Produk Ikutan Boleh Diekspor
• 7 jam lalukompas.id
thumb
100 Kapal Sempat Tertahan, Pemerintah Pastikan Ekspor Mineral Kembali Jalan
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Prabowo Prihatin Banyak Kepala Daerah Terjerat Korupsi
• 1 jam laluokezone.com
thumb
Penjualan Alat Berat Melonjak 47%, Kobexindo Raup Pendapatan Rp1,02 Triliun
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Petugas Damkar DKI yang Gugur Saat Padamkan Kebakaran Diberi Kenaikan Pangkat
• 4 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.