Khartoum: Sedikitnya 35 orang tewas dan sejumlah lainnya terluka setelah serangan drone yang diduga dilakukan militer Sudan menghantam sebuah pengadilan adat di wilayah Darfur Barat pada Minggu, 2 Agustus 2026.
Informasi tersebut disampaikan Emergency Lawyers, kelompok pemantau hak asasi manusia yang mendokumentasikan dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh kedua pihak dalam perang saudara Sudan.
Menurut kelompok tersebut, serangan terjadi sekitar pukul 13.00 waktu setempat di Desa Garra al-Zawaya, Negara Bagian Darfur Utara.
Saat serangan berlangsung, warga sipil tengah berkumpul untuk menghadiri sidang yang membahas berbagai sengketa dan perkara masyarakat setempat.
Desa Garra al-Zawaya diketahui berada di bawah kendali Rapid Support Forces (RSF), kelompok paramiliter yang terlibat konflik dengan militer Sudan sejak April 2023. Pengadilan Adat Rusak Dikutip dari Al Jazeera, Emergency Lawyers menyebut bangunan pengadilan adat yang menjadi lokasi penyelesaian sengketa masyarakat dan konflik antarsuku juga mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.
Seorang saksi yang diwawancarai AFP mengatakan persidangan berlangsung di bawah sebuah pohon dengan dihadiri para pemimpin masyarakat.
"Sidang pengadilan berlangsung di bawah pohon dengan partisipasi para tokoh masyarakat setempat," ujar saksi yang identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan.
Menurut saksi tersebut, korban tewas mencakup empat pemimpin suku dan dua komandan RSF. Konflik Berkepanjangan Garra al-Zawaya berada di dekat Kota Kabkabiya, sekitar 150 kilometer di barat el-Fasher, yang sebelumnya merupakan benteng terakhir militer Sudan di Darfur sebelum direbut RSF melalui ofensif besar pada Oktober 2025.
Penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya menyatakan kekerasan yang mengiringi pengepungan dan perebutan el-Fasher memiliki indikasi genosida.
Setelah menguasai kota tersebut, RSF memperkuat kendalinya atas sebagian besar wilayah Darfur. Kelompok ini berakar dari milisi Janjaweed, yang dituduh melakukan berbagai kekejaman di Darfur pada awal 2000-an.
Seiring berlanjutnya konflik, kedua pihak semakin mengandalkan penggunaan drone dalam operasi militer.
PBB mencatat lebih dari 1.000 warga sipil tewas akibat serangan drone selama lima bulan pertama tahun ini.
Perang yang berlangsung sejak April 2023 antara militer Sudan yang dipimpin Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dan RSF di bawah komando Mohamed Hamdan Dagalo juga telah menyebabkan jutaan orang mengungsi dan memicu krisis kemanusiaan terbesar di dunia menurut PBB.
Baca juga: Pengadilan Sudan Vonis Mati Pemimpin RSF Hemedti Secara In Absentia




