Jakarta, VIVA – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksi, perekonomian nasional tahun 2026 bakal tumbuh antara 5,6-6 persen, ditopang sinergi kebijakan pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Karenanya, Purbaya berjanji bakal terus berupaya untuk menjaga daya beli masyarakat, mendorong belanja pemerintah, dan meningkatkan investasi hingga akhir tahun ini.
"Sinergi kebijakan antara lembaga anggota KSSK akan terus diperkuat guna menjaga keberlanjutan momentum pertumbuhan," kata Purbaya dalam konferensi pers di kantor LPS, kawasan SCBD, Jakarta, Senin, 3 Agustus 2026.
- [Mohammad Yudha Prasetya]
"Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 diperkirakan berada pada kisaran 5,6-6,0 persen year-on-year," ujarnya.
Dia menjelaskan, nantinya belanja negara hingga akhir tahun akan diarahkan untuk mendukung konsumsi rumah tangga melalui sejumlah program.
Antara lain yakni program perlindungan sosial, stabilitas harga pangan dan energi, hingga stimulus diskon tarif transportasi selama periode libur sekolah.
Tak hanya itu, proyek-proyek hilirisasi yang bernilai tambah tinggi juga akan direalisasikan, guna mendongkrak investasi hingga akhir tahun. Terlebih, Purbaya menekankan bahwa PMI manufaktur yang masih berada di level ekspansi juga akan turut mendukung hal tersebut.
"Aktivitas manufaktur sempat termoderasi pada akhir kuartal II, namun kembali melanjutkan ekspansi pada Juli 2026 dengan PMI manufaktur di level 50,2. Hal itu menunjukkan pemulihan optimisme pelaku usaha," kata Purbaya.
Selain itu, lanjut Purbaya, pembangunan infrastruktur pada program prioritas pemerintah juga akan terus digulirkan hingga akhir tahun mendatang.
Tujuannya tak lain adalah demi meningkatkan porsi belanja pemerintah dalam akumulasi pertumbuhan ekonomi nasional.
"Konsumsi pemerintah diperkirakan juga akan tumbuh positif, sejalan dengan percepatan belanja program prioritas, pembayaran gaji ke-13 bagi aparatur negara, dan penyaluran bantuan sosial," ujarnya.





