JAKARTA, KOMPAS — Memasuki paruh kedua tahun 2026, arah investasi di pasar modal Indonesia menunjukkan pergeseran ke sektor energi dan komoditas. Hal ini berkaca pada baiknya kinerja keuangan perusahaan di sektor tersebut sebagai efek kenaikan harga komoditas, gangguan jalur distribusi di Selat Hormuz, hingga meningkatnya kebutuhan energi untuk pusat data pendukung kecerdasan buatan.
Laporan kinerja keuangan semester I-2026 dari sejumlah emiten di sektor barang baku, yang meliputi energi dan tambang, menunjukkan perkembangan yang positif. Meskipun dibayangi tantangan operasionalisasi dan basis tinggi dari periode sebelumnya, beberapa emiten di sektor tersebut mendapat keuntungan dari kenaikan harga komoditas global serta perbaikan operasional internal.
Perusahaan tambang timah nasional, yakni PT Timah Tbk (TINS), misalnya, mencatatkan lonjakan kinerja signifikan pada semester pertama 2026 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp 2,71 triliun. Berdasarkan laporan keuangan, agka ini telah melampaui target perseroan untuk keseluruhan tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 1,61 triliun.
Pendapatan TINS naik 247 persen secara tahunan menjadi Rp 10,42 triliun, didorong oleh kenaikan harga rata-rata timah LME secara tahunan sebesar 56,68 persen menjadi 50,32 dolar AS per metrik ton. Selain itu, naiknya pendapatan juga didorong oleh peningkatan produksi, serta kenaikan volume penjualan.
Porsi ekspor yang mencapai 97 persen dari total penjualan membuat TINS berada pada posisi strategis untuk memanfaatkan permintaan dari sektor teknologi dan kecerdasan buatan.
Sementara itu, emiten atau perusahaan terbuka dengan komoditas nikel, yakni PT Vale Indonesia Tbk (INCO), membukukan laba bersih sebesar 104 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,87 triliun pada semester I-2026. Laba ini meningkat empat kali lipat dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu sebesar 25 juta dolar AS.
Kendati volume penjualan nikel matte mengalami penurunan akibat pemeliharaan Tanur Listrik 3, pendapatan perseroan tetap tumbuh 28 persen secara tahunan menjadi 543 juta dolar AS berkat kenaikan harga realisasi rata-rata nikel. Nikel matte adalah produk setengah jadi hasil peleburan bijih yang memiliki kadar nikel tinggi.
Di level global, pada semester I-2026, harga nikel sempat menyentuh level tertinggi, yakni sekitar 19.000 dolar AS per ton dibanding harga rata-ratanya pada kisaran 16.500-17.357 dolar AS per metrik ton.
Di segmen petrokimia dan energi, perusahaan holding milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), mencatatkan kenaikan pendapatan bersih 76,1 persen menjadi 5,69 miliar dolar AS pada semester I-2026.
Kontributor terbesar terhadap pertumbuhan tersebut berasal dari segmen petrokimia, yang mencatat pendapatan sebesar 5,3 miliar dolar AS, melonjak 83,6 persen dibandingkan semester I-2025 sebesar 2,91 miliar dolar AS.
Sementara itu, segmen energi turut mencatat pertumbuhan dengan pendapatan 334 juta dolar AS, naik 11,3 persen dari 300 juta dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun demikian, kenaikan pendapatan belum sejalan dengan laba perusahaan. Sepanjang semester pertama tahun ini, BRPT membukukan penurunan laba 64,8 persen menjadi 190 juta dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang besarnya 540 juta dolar AS.
Mengutip keterangan resmi perseroan, Senin (3/8/2026), Direktur Utama BRPT Agus Pangestu mengatakan, penurunan laba tersebut dipengaruhi oleh ketidakpastian dinamika geopolitik yang masih membayangi pasar.
"Semester I-2026 masih diwarnai oleh situasi global yang bergejolak, dengan ketidakpastian dinamika geopolitik yang masih membayangi pasar," tuturnya.
Namun demikian, Head of Research DBS Group Research, William Simadiputra, di Jakarta, belum lama ini, memproyeksikan kondisi ekonomi pada semester II-2026 dapat mengubah cara pandang investor di pasar modal untuk lebih menitikberatkan portofolio pada sektor energi dan komoditas.
Menurutnya, dinamika geopolitik global serta kebutuhan energi untuk infrastruktur digital menempatkan sektor bahan baku pada posisi yang diuntungkan.
William menyampaikan, pihaknya mengambil posisi overweight atau memiliki prospek kinerja positif ke depan untuk investor saham berinvestasi di sektor energi dan komoditas karena sektor-sektor tersebut menjadi proxy utama terhadap tematik investasi ketahanan energi dan pangan dunia.
Ia menjelaskan, konsumsi energi global selama ini sangat bergantung pada jalur distribusi yang rentan terdisrupsi, seperti Selat Hormuz, sehingga gangguan logistik dapat berdampak langsung secara global.
Kondisi ini memicu gelombang investasi baru untuk memperkuat infrastruktur energi, di mana emiten-emiten komoditas dan energi di Bursa Efek Indonesia berada dalam posisi yang menguntungkan untuk menangkap arus modal tersebut.
Momentum pertumbuhan pusat data dan kecerdasan buatan yang membutuhkan pasokan energi besar menjadi alasan utama rekomendasi portofolio berbasis energi dan komoditas pada semester II-2026.
"Saat ini komoditas dan energi baru disadari betapa krusialnya. Di saat dunia terus mengembangkan AI dan data center, energinya ternyata bergantung pada jalur yang sempit. Momentum ini yang membuat kami merekomendasikan portofolio berbasis energi dan komoditas sebagai andalan di semester kedua 2026," kata William.
Ketika harga komoditas sedang baik, seharusnya pemerintah berhati-hati mengambil kebijakan karena akan berdampak pada seluruh ekosistem industri.
Dari sudut pandang kondisi dalam negeri, Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch, Ferdy Hasiman, saat dihubungi Kompas, mengatakan, ia menyayangkan peluang tersebut belum dapat dimaksimalkan akibat tantangan regulasi di dalam negeri.
Kebijakan pemerintah seperti pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan yang dilakukan secara mendadak, dinilai berpotensi menghambat pemanfaatan momentum kenaikan harga.
"Ketika harga komoditas sedang baik, seharusnya pemerintah berhati-hati mengambil kebijakan karena akan berdampak pada seluruh ekosistem industri. Jangan sampai pendekatan politik lebih dominan dibandingkan pertimbangan teknokratis," katanya.
Ketidakpastian aturan itu menurutnya juga menurunkan kepercayaan investor asing. Perubahan aturan yang terlalu sering dinilai dapat mengganggu investasi di sektor yang bersifat padat modal dan padat karya. Hal ini pada akhirnya dapat memengaruhi penyerapan tenaga kerja, penerimaan negara, hingga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Kalau investasi asing terus menurun, dampaknya akan terasa terhadap nilai tukar rupiah dan investasi nasional secara keseluruhan. Pemerintah perlu menjaga konsistensi regulasi agar sektor pertambangan tetap mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi," kata Ferdy.
Senada dengan William, Ferdy melihat peluang Indonesia menangkap peluang di sektor AI. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan diketahui membuka peluang baru bagi sektor pertambangan, khususnya komoditas tembaga yang menjadi bahan baku penting untuk infrastruktur digital dan pusat data.
Indonesia, kata Ferdy, memiliki posisi strategis karena didukung kapasitas produksi dua produsen besar, yakni PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Internasional, yang telah membangun fasilitas pemurnian (smelter) di dalam negeri.
Dengan kapasitas produksi katoda tembaga yang diperkirakan mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun, Indonesia berpeluang menjadi salah satu produsen utama dunia sekaligus memanfaatkan meningkatnya permintaan global seiring perkembangan AI.





