Bahlil Soroti Usia Pemilih di Pemilu 2029: Kita Harus Koreksi Internal

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menilai kader partainya perlu melakukan koreksi internal agar mampu menghadapi perubahan politik ke depan.

Menurutnya, salah satu langkah paling penting yang harus dilakukan adalah memperkuat proses pengkaderan, karena di situlah letak roh sebuah partai politik.

Bahlil mengatakan perubahan zaman menuntut partai politik untuk meninggalkan pola-pola lama yang sudah tidak lagi relevan.

“Dan di era transformasi seperti sekarang, pola-pola lama nggak bisa lagi kita pakai. Boleh kita pakai, tapi kita harus combine,” kata Bahlil saat membuka kegiatan Training of Trainers (ToT) Akademi Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Senin (3/8).

Ia juga mengingatkan komposisi pemilih pada Pemilu 2029 akan didominasi kelompok usia produktif. Karena itu, partai politik harus mampu menyesuaikan strategi agar tidak tertinggal.

“Pemilu 2029, itu jumlah pemilih 17 sampai dengan 50 tahun, 73%,” ujarnya.

Menurut Bahlil, tantangan politik saat ini bukan lagi soal siapa yang lebih kuat atau lebih pintar, melainkan siapa yang mampu bergerak lebih cepat mengikuti perubahan.

“Kalau Golkar tidak mampu melakukan adaptasi, ini kita akan ketinggalan. Ini bukan persoalan pintar mengalahkan yang bodoh atau kuat mengalahkan yang lemah. Ini persoalannya adalah yang cepat mengalahkan yang lambat,” katanya.

Karena itu, Bahlil menegaskan Partai Golkar harus melakukan evaluasi dari dalam. Ia menyebut pengkaderan menjadi aspek paling penting dalam proses pembenahan tersebut.

“Nah, kita partai harus melakukan koreksi internal. Dan salah satu yang harus kita lakukan menurut saya adalah proses pengkaderan. Rohnya di sini, rohnya di sini. Jangan kita berpikir kalau idenya Pak Kahar itu kan tunggu 6 bulan pemilu baru kita main. Itu bagi yang bisa, gitu loh. Bagi kader yang sempurna itu juga boleh,” jelas Bahlil.

Bahlil juga menyinggung metode kampanye dan strategi politik yang menurutnya sudah tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Ia mencontohkan pengalaman saat mengikuti kegiatan outbond kader Partai Golkar pada masa kepemimpinan Aburizal Bakrie.

“Dulu outbond zamannya Bang Ical, waktu outbond terakhir karena ada mainan-mainan yang kita nggak bisa beli, terakhir air kan gitu, Bang. Saya masih ingat itu, Pak Luhut yang dulu kalau tidak salah itu timnya. Itu disuruh karena nggak bisa kita main, suruh ambil air, padahal beli. Ya aku ngerti ini beli suara kan maksudnya waktu outbond itu. Tapi pola itu nggak lagi relevan, gitu loh,” katanya.

Menurut Bahlil, perubahan strategi harus diiringi dengan penguatan kualitas kader. Karena itu, ia menilai penyelenggaraan Training of Trainers (ToT) Akademi Partai Golkar menjadi bagian penting dalam membangun sumber daya manusia partai.

“Itu oke, tapi menurut saya penting ada adaptasi gitu. Nah, ToT ini menurut saya, Bang, ini sangat penting. Saya meminta kepada teman-teman yang melakukan ToT ini serius,” ujarnya.

Bahlil bahkan meminta seluruh anggota DPR RI dari Partai Golkar diwajibkan mengikuti ToT tersebut. Menurutnya, kader yang duduk di parlemen juga harus memahami batas antara kepentingan partai dan kepentingan pribadi.

“Dan kepada semua anggota DPR RI, jadikan mereka peserta. Jadikan wajib. Supaya tahu mana kepentingan partai, mana kepentingan pribadi. Kalau nggak ada filter yang mengontrol kita, susah,” kata Bahlil.

Ia menegaskan Partai Golkar bukan sekadar organisasi politik, tetapi juga merupakan aset bangsa yang memikul harapan masyarakat. Oleh sebab itu, kader harus dibekali nilai-nilai kebangsaan.

“Partai Golkar ini adalah partai aset negara, harapan masyarakat. Nah, kalau kita tidak diajarkan dan menanamkan sebuah pondasi nilai-nilai yang kuat terhadap tujuan berbangsa dan bernegara, ya bagaimana bisa kita lakukan itu?” ujarnya.

Bahlil juga mengaku memahami pentingnya fondasi nilai dalam berpolitik berdasarkan pengalamannya sebagai anggota kabinet. Ia mengatakan dinamika yang dihadapi selama menjabat sebagai Menteri Investasi hingga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sangat besar sehingga membutuhkan pegangan yang kuat.

“Saya jujur saja pengalaman saya di anggota kabinet, sekalipun dinamikanya kayak puting beliung, dinamikanya luar biasa loh. Antara saya jadi Menteri Investasi dengan Menteri ESDM itu dinamikanya luar biasa sekali,” tutur Bahlil.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Optimistis Indonesia-Thailand Bisa Perkuat Ekonomi ASEAN: Kita Punya Komoditas
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Bendera Merah Putih Raksasa Membentang di Kaki Gunung Arjuno Malang
• 42 menit lalukumparan.com
thumb
Pendidikan Sejak Dini: Investasi Terbaik untuk Masa Depan Bangsa
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Bahlil prioritaskan legalisasi 25 ribu sumur minyak rakyat di Sumsel
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Mau Resign, Pegawai Koperasi Simpan Pinjam di Tangerang Diduga Disekap dan Dianaya Bosnya
• 5 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.