Usia 27 Tahun, INTI Tegaskan Komitmen Rawat Kebinekaan dan Persatuan Bangsa

jpnn.com
1 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) menegaskan komitmennya untuk terus menjaga persatuan dan merawat kebinekaan pada perayaan hari jadi ke-27.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Umum PP INTI periode 2026–2030, dr. Indra Wahidin, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/8).

BACA JUGA: Siap Digelar, INTI 2026 Targetkan 952 Exhibitor dan 30 Ribu Pengunjung Profesional

Ketua Umum PP INTI periode 2026–2030, dr. Indra Wahidin mengatakan perjalanan selama hampir tiga dekade bukan sekadar penanda bertambahnya usia organisasi. Perjalanan tersebut menjadi bukti konsistensi INTI dalam menjaga komitmen kebangsaan melalui berbagai kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, kebudayaan, dan pemberdayaan ekonomi.

“Perjalanan 27 tahun INTI bukan sekadar tentang usia organisasi, tetapi tentang konsistensi menjaga komitmen kebangsaan. Sejak berdiri, INTI memilih berada di garis depan untuk memperkuat persatuan, merawat kebinekaan, dan membangun semangat gotong royong di tengah masyarakat,” kata dr. Indra dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/8).

BACA JUGA: Hadir di Petak Enam, Tuan Wen 1980 Angkat Warisan Kuliner Tionghoa

Menurut dr. Indra, nasionalisme tidak cukup disampaikan melalui slogan. Nilai kebangsaan harus diwujudkan melalui karya dan pengabdian yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Semangat tersebut akan diteruskan oleh kepengurusan INTI periode 2026–2030. Kepengurusan baru diarahkan untuk memperkuat konsolidasi organisasi dari tingkat pusat hingga daerah sekaligus meningkatkan kualitas tata kelola dan kepemimpinan.

BACA JUGA: Angkat Trauma Pria Tionghoa, Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Tembus SIFF

“Fokus kami adalah memperkuat kapasitas kepengurusan dari pusat hingga daerah agar INTI semakin dekat dengan masyarakat dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas,” ujarnya.

Ketua Harian INTI, Ulung Rusman menambahkan, dalam kepengurusan periode 2026–2030, INTI telah merangkum sedikitnya 26 program baru. Program-program tersebut akan dikelompokkan dalam sejumlah klaster, antara lain pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, kepemimpinan, pemberdayaan UMKM, pelayanan masyarakat, dan transformasi digital.

“Tantangan bangsa hari ini semakin kompleks sehingga organisasi masyarakat juga harus terus meningkatkan kualitas kepemimpinan dan tata kelolanya,” katanya.

Di bidang pendidikan, INTI akan memperkuat program beasiswa untuk jenjang sarjana, magister, dan doktoral. Program Beasiswa Pelangi yang telah berjalan disebut telah membentuk jaringan sekitar 1.400 penerima dan alumni.

INTI juga menyiapkan program khusus kepemimpinan melalui kolaborasi dengan Lemhannas. Program tersebut diharapkan dapat melahirkan kader-kader yang memiliki integritas, wawasan kebangsaan, dan kemampuan merespons perkembangan zaman.

Sebagai bagian dari program pemberdayaan ekonomi, INTI berencana menyelenggarakan UMKM Fair. Kegiatan itu akan menjadi wadah bagi pelaku usaha untuk mempromosikan produk, memperluas jejaring, dan meningkatkan kapasitas usaha.

INTI juga tengah menyusun program INTI Award sebagai bentuk apresiasi kepada tokoh yang dinilai telah memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa. Penghargaan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi tokoh dari komunitas Tionghoa. 

“INTI Award bukan hanya untuk tokoh Tionghoa. Kami ingin memberikan apresiasi kepada mereka yang mampu menjadi agen perubahan dan membawa masyarakat ke arah yang lebih baik,” tuturnya.

Di bidang kesehatan dan kemanusiaan, INTI akan melanjutkan program bakti sosial operasi katarak. Salah satu kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 3–6 Agustus 2026 di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Melalui berbagai rangkaian bakti sosial yang telah dilaksanakan bersama mitra, program operasi katarak INTI disebut telah menjangkau sekitar 34 ribu pasien. Ke depan, INTI akan memperluas kerja sama dengan pemerintah daerah, rumah sakit, tenaga kesehatan, dan lembaga sosial.

INTI juga akan membawa sejumlah program pelayanan masyarakat ke berbagai daerah. Salah satunya adalah program “Pasti Ada Solusi”, yang diarahkan menjadi wadah dialog dan pendampingan terhadap persoalan masyarakat.

Transformasi digital juga menjadi salah satu fokus kepengurusan INTI periode 2026–2030. Organisasi akan memperkuat pemanfaatan media sosial, podcast, serta kanal komunikasi digital agar program dan kegiatan INTI lebih mudah dijangkau masyarakat.

“INTI harus menjadi organisasi yang adaptif. Transformasi digital merupakan bagian dari penyesuaian organisasi terhadap perkembangan terbaru,” katanya.

Selain menjalankan program di dalam negeri, INTI juga berupaya memperkuat hubungan antarmasyarakat atau people-to-people relations. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui komunikasi dan kerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta komunitas Muslim dalam kegiatan kunjungan dan pertukaran ke China.

Sekretaris Jenderal INTI, Hardy Stefanus, menambahkan, Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Tantangan tersebut meliputi perubahan geopolitik, transformasi digital, ketimpangan sosial, hingga ancaman polarisasi di tengah masyarakat.

Karena itu, seluruh elemen bangsa perlu memperkuat persatuan dan menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok.

“Keberagaman Indonesia adalah kekuatan strategis yang harus terus dirawat. Jangan sampai perbedaan suku, agama, budaya, maupun latar belakang justru menjadi sumber perpecahan,” kata Hardy.

Hardy menegaskan nasionalisme merupakan fondasi utama Perhimpunan INTI. Organisasi tersebut berdiri di atas nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Tidak ada ruang bagi sikap yang memecah belah ataupun mengikis semangat persaudaraan antarsesama anak bangsa,” ujarnya.

Hardy mengatakan INTI akan terus menjadi rumah bersama yang menjunjung semangat Inklusif, Nasionalis, Toleransi, dan Independen.

Semangat tersebut akan diterapkan dengan memperkuat dialog dan membangun kolaborasi lintas suku, agama, budaya, profesi, serta generasi.

“Kami ingin menunjukkan bahwa semangat Merah Putih harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam kata-kata,” tegasnya.(esy/jpnn)


Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Mesyia Muhammad


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Panitia Tangsel Fun Walk & Run Festival Janji Tuntaskan Pembagian Medali Peserta
• 12 jam lalukompas.com
thumb
Gubsu Bobby Optimis Budaya Sumut Jadi Fashion Nasional, Bangkitkan Ekonomi
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
3 Istilah Gaul ala Gen Z untuk Menggambarkan Kondisi Finansial
• 10 jam lalubeautynesia.id
thumb
15 Aduan Langgar Etik di Internal KPK, 1 Perkara Berujung Sanksi Minta Maaf
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Update KMP Mutiara Sentosa II, Ditpolairud Polda Jatim Sebut 28 Korban Belum Ditemukan
• 10 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.