Deretan besi yang selama beberapa hari membatasi sisi depan Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, kini tak lagi terlihat. Senin (3/8/2026) sore, area yang sebelumnya tertutup pagar setinggi sekitar dua meter kembali terbuka. Trotoar di sepanjang jalan di kawasan tersebut pun kembali menyambut pejalan kaki tanpa sekat tinggi yang sempat memancing perhatian publik.
Seperti biasa, kendaraan masuk dan keluar halaman mal. Di atas tembok pembatas, dudukan besi masih menancap di beberapa titik, menjadi jejak yang menandakan pembongkaran baru saja dilakukan. Kini, orang-orang dapat melintas tanpa lagi dihadapkan pada dinding logam yang beberapa hari sebelumnya membingkai kawasan tersebut.
Suasana di depan Mal Kota Kasablanka setelah pagar dibongkar.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Deretan traffic cone di area pagar yang telah dibongkar.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Mal Kota Kasablanka tampak lebih bersih dari depan.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Hilangnya pagar turut mengubah kesan visual kawasan. Pandangan dari trotoar kembali leluasa mengarah ke bangunan pusat perbelanjaan. Tanpa sekat besi, jalur pejalan kaki kembali terasa lebih terbuka dan menyatu dengan area di depannya. Bagi mereka yang melintas, tampilan itu terasa lebih selaras dengan wajah kawasan perkotaan.
Sebelumnya, pagar tersebut membentang sekitar 100 meter di sisi depan mal, mulai dari pintu masuk kendaraan hingga mendekati akses keluar menuju Jalan Raya Casablanca. Kemunculannya segera menjadi perbincangan di media sosial dan memunculkan berbagai spekulasi mengenai alasan pemasangannya.
Sorotan publik kemudian diikuti tanggapan Gubernur Jakarta Pramono Anung. Ia mengkhawatirkan pemasangan pagar di sejumlah pusat perbelanjaan dapat memunculkan persepsi bahwa kondisi keamanan di Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Karena itu, ia meminta para pengelola mal dan gedung komersial tidak memasang pagar secara berlebihan.
”Jangan sampai (pemagaran berlebihan) menjadi pandangan bahwa Jakarta sedang tidak baik-baik saja. Padahal, koordinasi dengan aparat keamanan dan penegak hukum terus berjalan. Jakarta aman-aman saja,” kata Pramono (Kompas.id, 3/8/2026).
Di tengah ramainya pembahasan tersebut, pendiri Pakuwon Group, Alexander Tedja, menjelaskan bahwa pemasangan pagar merupakan keputusan manajemen lokal, bukan kebijakan perusahaan di tingkat pemegang saham maupun kantor pusat. Ia juga menyatakan bahwa penataan di properti Pakuwon Group lainnya akan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru.
Sebelumnya, sejumlah mal milik Pakuwon Group di Surabaya, Jawa Timur, seperti Royal Plaza, Pakuwon City Mall, Tunjungan Plaza 1–6, dan Pakuwon Mall, lebih dahulu dipagari. Di Jakarta, selain Mal Kota Kasablanka, Blok M Plaza juga mulai membangun pagar yang lebih tinggi di sisi belakang yang menghadap Jalan Bulungan.
Warga melintasi proyek pembangunan pagar di Blok M Plaza.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Tiang-tiang pagar Blok M Plaza yang sedang dibangun.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Pengendara sepeda motor melintasi pagar belakang Blok M Plaza.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Adapun, Pakuwon Group merupakan salah satu pengembang dan pengelola pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia dengan jaringan mal yang tersebar di berbagai kota, seperti Surabaya, Jakarta, Bekasi, Yogyakarta, dan Solo. Di Jakarta, Pakuwon mengelola Kota Kasablanka, Gandaria City, dan Blok M Plaza.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa elemen fisik di ruang kota dapat memantik diskusi yang jauh melampaui fungsi dasarnya. Bukan sekadar susunan besi, pagar mampu membentuk cara orang memandang sebuah kota. Ketika pagar itu dibongkar, yang kembali bukan hanya keterbukaan tampilan pusat perbelanjaan, melainkan juga citra Jakarta yang ingin ditampilkan kepada warganya.





