Eksotis bahari Maratua, warisan laut bagi Nusantara 

antaranews.com
13 jam lalu
Cover Berita
Berau (ANTARA) - Meresapi keanggunan laut Nusantara serasa merenungi betapa agung karya Sang Pencipta yang terpancar melalui warisan bahari dengan segala keindahan biotanya yang tetap terjaga. Pesona itu begitu terasa ketika menginjakkan kaki di Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Di garis terluar sebelah utara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), membentang sebuah pulau yang dihuni sekitar empat ribu jiwa dan dikelilingi hamparan pirus bening Laut Sulawesi.

Pulau Maratua, bagian dari kawasan konservasi Kepulauan Derawan, bukan sekadar benteng geografis di tapal batas negara, melainkan laboratorium alam bahari yang menyimpan pesona tak bertepi.

Luas daratan Pulau Maratua mencapai sekitar 384 kilometer persegi, sementara wilayah perairannya membentang hingga 3.735 kilometer persegi.

Berada di kawasan Gugusan Kepulauan Derawan yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), Maratua tampil sebagai permata surga tropis yang memikat siapa saja yang menapakkan kaki di atas pasir putihnya.

Bentuk pulau yang menyerupai huruf U atau bulan sabit menciptakan laguna luas dengan pantai yang tenang di bagian dalam, sementara sisi luarnya berhadapan langsung dengan laut dalam yang kaya keanekaragaman hayati.

"Perpaduan ekosistem karst darat dan terumbu karang bawah laut menjadikan Maratua sebagai salah satu destinasi wisata bahari berkelas dunia," kata Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur, Muhammad Faisal.

Berkunjung ke Maratua belum lengkap tanpa menjelajahi goa-goa air payau, berenang bersama penyu laut, hingga menyaksikan pusaran ribuan ikan di kedalaman laut.

Baca juga: Aneka rasa dalam keindahan wisata alam Biduk-Biduk, Berau

Baca juga: Menyelam dalam air jernih Gua Halo Tabung di Maratua

Karst perut bumi

Di balik rimbunnya vegetasi hijau, Maratua juga menyimpan keelokan geologi. Salah satu destinasi yang wajib dikunjungi adalah Goa Gumantung.

Terletak di kawasan Teluk Alulu, goa ini menawarkan pengalaman menyusuri laguna tersembunyi yang tenang dan menenteramkan. Dari dermaga utama pulau, pengunjung dapat menempuh perjalanan dengan sepeda motor menuju titik awal trekking.

Wisatawan menikmati keindahan biru laut dan pasir putih pantai di Pulau Maratua, Berau, Kaltim. (ANTARA/Ahmad Rifandi)

Jalurnya telah tertata dengan medan tanah dan batuan ringan, kemudian dilanjutkan berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang teduh di bawah rindangnya pepohonan.

Sesampainya di mulut goa, hamparan tebing karst yang menjulang tinggi langsung menyambut pandangan. Tebing-tebing itu mengapit sebuah danau air payau yang jernih dengan gradasi warna biru keperakan hingga hijau toska.

Permukaan airnya tenang bak cermin yang memantulkan cahaya matahari yang menembus celah stalaktit dan stalagmit.

Keunikan Goa Gumantung terletak pada cara menikmatinya. Luasnya ruang goa dan dalamnya genangan air memungkinkan wisatawan menyusuri lorong-lorong batu kapur dengan kano atau kayak.

Setiap kayuhan menghadirkan sensasi seolah mengeksplorasi dunia bawah tanah yang memikat. Suasana sunyi yang hanya diiringi tetesan air dari langit-langit goa menjadikan tempat ini sebagai ruang perenungan bagi para pencinta alam.

Tak kalah memesona, Pulau Maratua juga memiliki Goa Halo Tabung yang berada di Kampung Payung-Payung, kawasan pesisir yang kaya akan bentang batu kapur.

"Nama Halo Tabung berasal dari bahasa Suku Bajau. Halo berarti goa atau laguna tepi pantai, sedangkan Tabung merujuk pada jenis ikan kakak atau tompel yang dahulu banyak ditemukan di sekitar muara jembatan," ujar Camat Maratua, Ashari.

Goa Halo Tabung terbentuk melalui proses pelarutan batu kapur selama ribuan tahun. Air hujan yang mengandung karbon dioksida membentuk asam lemah yang perlahan melarutkan batuan kapur di sepanjang rekahan hingga membentuk cekungan mengerucut sedalam sekitar 25 meter.

Cekungan tersebut terisi air payau sebening kristal yang berasal dari infiltrasi air laut melalui celah batuan karst. Karena hanya berjarak sekitar 50 meter dari bibir pantai, tinggi permukaan air di dalam goa mengikuti siklus pasang surut laut.

Baca juga: Dispar Kaltim ajak warga berwisata air panas karst di Berau

Bagi pencinta adrenalin, Goa Halo Tabung menawarkan kolam alami yang spektakuler. Pengunjung dapat melompat dari tebing karst setinggi sekitar lima meter ke dalam air biru yang jernih.

Kejernihan air membuat dasar goa dan formasi batuan bawah air terlihat jelas bahkan tanpa bantuan kacamata renang. Menyelam atau sekadar mengapung di goa terbuka ini menghadirkan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.



Tornado Barakuda

Selain pesona karstnya, Maratua juga dikenal di kalangan penyelam dunia sebagai panggung pertunjukan bawah laut yang spektakuler. Salah satu ikon utamanya adalah fenomena Tornado Barakuda.

Fenomena langka ini merupakan sebutan bagi ribuan ikan barakuda yang berenang membentuk pusaran heliks menyerupai tornado di bawah laut.

Berenang di laguna Goa Halo Tabung, Pulau Maratua, Berau, Kaltim. (ANTARA/Ahmad Rifandi)

Di dunia, fenomena tersebut hanya populer di dua lokasi, yakni Pulau Sipadan, Malaysia, dan perairan Pulau Maratua, Indonesia. Titik penyelaman terbaik berada di kawasan Big Fish Country atau The Channel, tidak jauh dari Pulau Nabucco.

Saat arus bawah laut menguat, ribuan barakuda berkumpul membentuk dinding perak yang berputar tanpa henti. Para penyelam dari berbagai penjuru dunia rela menempuh perjalanan jauh demi menyaksikan langsung keajaiban alam tersebut.

Maratua juga dikenal sebagai salah satu kawasan peneluran alami terbesar bagi penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di Asia Tenggara.

Padang lamun yang subur serta terumbu karang dangkal menjadikan pulau ini habitat ideal bagi ratusan penyu.

Di berbagai sudut pantai, terutama di sekitar resort dan dermaga kayu di Kampung Bohesilian maupun Payung-Payung, pengunjung dapat melihat penyu berenang anggun dari atas dermaga.

Tanpa harus menyelam terlalu dalam, wisatawan cukup menggunakan snorkel untuk berenang berdampingan dengan reptil purba tersebut. Pada malam hari, didampingi pemandu lokal dan petugas konservasi, wisatawan juga dapat menyaksikan induk penyu mendarat ke pantai untuk bertelur.

Baca juga: Beloyot, dari goa sempit menuju masa depan wisata Berau

Danau ubur-ubur

Perjalanan ke Maratua belum lengkap tanpa menyeberang ke Pulau Kakaban, pulau atol karang terangkat yang berada dalam satu kawasan pengelolaan wisata.

Di tengah Pulau Kakaban terbentang danau air asin seluas sekitar 400 hektare yang dikelilingi tebing-tebing karst.

Wisatawan berenang bersama penyu, spesies yang mudah ditemukan di Pulau Maratua. (ANTARA/Ahmad Rifandi)

Danau Kakaban menjadi habitat empat spesies ubur-ubur unik yang berevolusi selama ribuan tahun hingga kehilangan kemampuan menyengat. Dua di antaranya ialah ubur-ubur emas (Mastigias papua) dan ubur-ubur terbalik (Cassiopea ornata).

Berenang di antara ribuan ubur-ubur emas yang jinak menjadi pengalaman wisata yang magis sekaligus tak terlupakan.

"Seiring semakin populernya Maratua di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara, Pemerintah Kabupaten Berau bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus membenahi infrastruktur penunjang, mulai dari dermaga hingga titian ulin," kata Muhammad Faisal.

Kini Maratua telah dilengkapi Bandara Maratua yang mampu melayani pesawat berbadan sedang.

Wisatawan dapat terbang langsung atau melalui Bandara Kalimarau di Tanjung Redeb, maupun melalui Samarinda dan Balikpapan.

Bagi yang memilih jalur laut, kapal cepat juga tersedia setiap hari dari Pelabuhan Tanjung Redeb maupun Pelabuhan Teluk Sulaiman di Biduk-Biduk.

Pilihan akomodasi pun semakin beragam, mulai dari homestay yang dikelola masyarakat lokal, vila-vila di atas laut, hingga resor bertaraf internasional.

Wisatawan juga dapat menikmati aneka hidangan laut segar hasil tangkapan nelayan serta membeli beragam cenderamata khas daerah.

"Pengembangan pariwisata di Maratua mengusung prinsip ekonomi biru dan konservasi berkelanjutan," ujar Faisal.

Pemerintah Kabupaten Berau bahkan telah menerapkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2024 tentang kemudahan investasi yang mewajibkan setiap pengembang menjaga kelestarian terumbu karang, hutan mangrove, dan kawasan konservasi bahari.

"Masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata dilibatkan secara aktif sebagai pemandu, pengelola ekowisata, sekaligus pelindung ekosistem laut," tambahnya.

Pulau Maratua menjadi bukti betapa kayanya anugerah alam Nusantara. Mulai dari tebing karst, laguna tersembunyi di Goa Gumantung dan Goa Halo Tabung, pusaran Tornado Barakuda di laut dalam, hingga keramahan masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan alam, semuanya berpadu menghadirkan pengalaman yang sulit dilupakan.

Menjelajahi Maratua bukan sekadar menikmati liburan, melainkan juga merasakan kebanggaan atas keindahan sekaligus kedaulatan wilayah terluar Indonesia.

Maratua berdiri sebagai benteng bahari sekaligus etalase pariwisata Nusantara yang siap menyambut dunia dengan pesona alam yang tetap lestari.

Baca juga: Seychelles jajaki kerja sama pengembangan wisata air panas di Berau


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jenazah Mahasiswa Tertinggal saat Transit, 2 Pengantar Kebingungan di Larantuka
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Eks Persib dan Persik Henhen Herdiana Dikaitkan dengan PSM Makassar
• 12 jam laluharianfajar
thumb
Prabowo Bakal Umumkan Stimulus untuk 500 Ribu Motor dan Mobil Listrik
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Media Asing Sorot Pagar Tinggi di Mal RI, Laporkan Potensi Ini
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
"Kiamat" Baru Hantam Inggris, Negara di Ambang Krisis Besar
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.