Jalan pulang para srikandi jalanan

antaranews.com
10 jam lalu
Cover Berita
Surabaya (ANTARA) - Di tengah lalu lintas Kota Surabaya yang nyaris tak pernah berhenti, semakin banyak perempuan mengenakan jaket ojek daring, menggenggam setang sepeda motor, lalu menyusuri jalan demi jalan untuk mengantar penumpang atau makanan.

Di balik perjalanan itu, tersimpan kisah tentang ibu yang mengejar biaya sekolah anak, istri yang menggantikan suami kehilangan pekerjaan, hingga perempuan yang memilih tetap bekerja meski ruang geraknya dibatasi keadaan.

Fenomena ini memperlihatkan perubahan wajah ekonomi perkotaan. Pekerjaan yang dahulu identik dengan laki-laki, kini menjadi ruang bertahan hidup bagi banyak perempuan. Fleksibilitas waktu membuat profesi pengemudi ojek daring menjadi pilihan ketika lapangan kerja formal sulit dijangkau.

Namun, fleksibilitas itu juga menyimpan risiko. Pendapatan bergantung pada jumlah pesanan, perlindungan kerja terbatas, dan keselamatan menjadi taruhan setiap kali roda mulai berputar.

Di Surabaya, Jawa Tinur, pemerintah kota mulai membaca persoalan tersebut bukan sekadar sebagai isu ketenagakerjaan, melainkan bagian dari pembangunan keluarga.

Data Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Surabaya menunjukkan terdapat sekitar 21.000 hingga 22.000 pengemudi ojek daring di kota itu, dengan sedikitnya 1.008 di antaranya merupakan perempuan.

Jumlah tersebut memang belum dominan, tetapi cukup menggambarkan bahwa perempuan kini menjadi bagian penting dari ekonomi digital perkotaan.


Melampaui bantuan

Selama ini, perhatian terhadap pengemudi ojek daring sering berhenti pada bantuan sosial atau pemberian perlengkapan kerja. Padahal, kebutuhan terbesar mereka jauh lebih kompleks.

Pemkot Surabaya mencoba menggeser pendekatan tersebut. Perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan diberikan kepada pengemudi sebagai langkah awal mengurangi risiko lahirnya kemiskinan baru ketika pencari nafkah mengalami kecelakaan atau meninggal dunia. Kebijakan ini penting karena jaminan sosial tidak hanya melindungi pekerja, tetapi juga menjaga keberlangsungan keluarga yang bergantung pada penghasilan harian.

Langkah berikutnya adalah pemberdayaan. Pengemudi perempuan didorong memiliki keterampilan lain, mulai dari menjahit, tata rias, hingga usaha rumahan. Gagasannya sederhana, tetapi strategis. Semakin banyak sumber penghasilan yang dimiliki keluarga, semakin kecil ketergantungan terhadap pekerjaan berisiko tinggi di jalan.

Pendekatan ini sejalan dengan arah pembangunan yang menempatkan perempuan sebagai penggerak ekonomi keluarga, bukan sekadar penerima bantuan. Bahkan berbagai pihak mulai ikut terlibat.

Pada Juli 2026, misalnya, kolaborasi Pemerintah Kota Surabaya dengan Ikatan Alumni Magister Manajemen Universitas Ciputra memberikan dukungan kepada 100 pengemudi ojek daring perempuan melalui program Ride to Hope sebagai bentuk penghargaan, sekaligus penguatan semangat mereka.

Meski demikian, pengalaman lapangan menunjukkan bahwa pelatihan saja belum otomatis meningkatkan kesejahteraan. Ada peserta yang telah menerima pelatihan dan bantuan peralatan, tetapi usahanya tidak berkembang. Persoalannya bukan lagi pada modal fisik, melainkan keberanian memulai, kemampuan mengelola usaha, akses pasar, hingga pendampingan jangka panjang.

Di sinilah pemberdayaan sering menghadapi tantangan terbesar. Memberikan mesin jahit jauh lebih mudah dibanding membangun mental kewirausahaan. Menyelenggarakan pelatihan satu hari jauh lebih sederhana dibanding memastikan usaha bertahan selama bertahun-tahun.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi (kanan) berbincang dengan pengemudi ojek daring Anna Indrawati (tengah) saat mengunjungi rumahnya di Kelurahan Perak Utara, Surabaya, Jawa Timur beberapa waktu lalu. Kunjungan tersebut dilakukan untuk menawarkan pekerjaan melalui Program Padat Karya Pemerintah Kota Surabaya kepada Anna dan suaminya sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga. ANTARA

(ANTARA FOTO/Diskominfo Surabaya.) Ekosistem tumbuh

Penguatan ekonomi perempuan tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata. Platform digital, perusahaan, perguruan tinggi, komunitas, lembaga keuangan, hingga masyarakat memiliki ruang untuk berkolaborasi.

Kolaborasi tersebut menjadi semakin penting karena persoalan yang dihadapi pengemudi ojek daring perempuan tidak hanya berkaitan dengan pendapatan, tetapi juga akses terhadap perlindungan sosial, peningkatan kapasitas, hingga peluang mengembangkan usaha yang berkelanjutan.

Pendekatan lintas sektor memungkinkan setiap pihak berkontribusi sesuai perannya, sehingga pemberdayaan tidak berhenti sebagai program jangka pendek, melainkan menjadi ekosistem yang saling menguatkan.

Platform penyedia layanan dapat memperkuat fitur keselamatan, menyediakan pelatihan literasi keuangan, dan memperluas akses perlindungan sosial.

Selain itu, pemanfaatan teknologi digital dapat membantu pengemudi mengelola pendapatan secara lebih baik, mengenali peluang usaha, hingga memanfaatkan layanan keuangan digital.

Kemampuan mengatur keuangan menjadi bekal penting agar penghasilan harian tidak hanya habis untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga dapat dialokasikan sebagai tabungan maupun modal usaha.

Perguruan tinggi dapat mendampingi pengembangan usaha berbasis digital, mulai dari pemasaran hingga pencatatan keuangan. Dunia usaha dapat membuka lebih banyak program tanggung jawab sosial yang tidak berhenti pada bantuan, tetapi juga menciptakan pasar bagi produk hasil pelatihan.

Lembaga keuangan juga dapat menghadirkan akses pembiayaan yang terjangkau bagi pelaku usaha mikro, disertai pendampingan agar pinjaman benar-benar digunakan untuk kegiatan produktif. Dengan demikian, pemberdayaan tidak hanya menghasilkan keterampilan baru, tetapi juga membuka peluang usaha yang mampu berkembang.

Pendampingan juga perlu mempertimbangkan realitas kehidupan perempuan. Banyak pengemudi baru dapat bekerja setelah mengantar anak sekolah, kemudian pulang untuk mengurus rumah tangga. Waktu mereka terbagi di antara pekerjaan produktif dan pekerjaan domestik.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perempuan masih memikul peran ganda. Karena itu, kebijakan pemberdayaan perlu disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan nyata di lapangan agar tidak menambah beban, melainkan justru memudahkan mereka meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Karena itu, model pelatihan yang fleksibel, berbasis komunitas, dan dekat dengan lingkungan tempat tinggal menjadi jauh lebih efektif dibanding pelatihan konvensional.

Di sisi lain, keberhasilan program tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak peserta pelatihan atau bantuan yang disalurkan. Ukuran yang lebih penting adalah berapa keluarga yang berhasil meningkatkan pendapatan, mengurangi jam kerja berisiko di jalan, atau mampu membangun usaha yang bertahan dalam jangka panjang.

Evaluasi berbasis dampak menjadi penting agar setiap program dapat terus diperbaiki. Pendampingan yang konsisten serta pemantauan perkembangan usaha akan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai efektivitas kebijakan dibanding sekadar menghitung jumlah peserta.

Surabaya sebenarnya sedang menunjukkan arah yang menarik. Pemberdayaan pengemudi ojek daring perempuan tidak diposisikan sebagai program karitatif, melainkan investasi sosial.

Ketika seorang ibu memperoleh perlindungan kerja, keterampilan baru, dan kesempatan membangun usaha, manfaatnya tidak berhenti pada dirinya. Anak memperoleh kepastian pendidikan, keluarga menjadi lebih tangguh menghadapi krisis, dan kota mendapatkan sumber daya manusia yang lebih produktif.

Dampak seperti inilah yang menjadikan pemberdayaan memiliki nilai strategis dalam pembangunan. Ketika keluarga semakin mandiri secara ekonomi, risiko kemiskinan dapat ditekan, kualitas hidup meningkat, dan ketahanan sosial masyarakat pun ikut menguat.

Perjalanan menuju tujuan tersebut tentu masih panjang. Pekerjaan rumah berupa penguatan motivasi, perluasan akses pasar, evaluasi berkelanjutan, dan kolaborasi lintas sektor tetap harus diselesaikan. Namun, arah kebijakannya telah bergerak dari sekadar memberi bantuan menuju membangun kemandirian.

Pemberdayaan pengemudi ojek daring perempuan bukan semata soal perempuan yang mengendarai sepeda motor di jalanan kota. Ia adalah cerita tentang bagaimana pembangunan memberi kesempatan bagi setiap warga untuk memiliki pilihan hidup yang lebih baik.

Ketika perempuan tidak lagi hanya bertahan, melainkan mampu tumbuh dan berkembang bersama keluarganya, saat itulah pemberdayaan menemukan makna yang sesungguhnya.




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bukan Penculikan, Penyelidikan Kasus Atlet Golf Jesslyn Wijaya Dihentikan
• 11 jam laludetik.com
thumb
Adaro Andalan Indonesia Raih Apresiasi Anugerah ESG 2026 dari IDX Channel 
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Isu Surpres Pergantian Kapolri, Bappisus: Jabatan di Dunia Pasti Akan Diganti!
• 27 menit laluokezone.com
thumb
BRI Apresiasi Nasabah Pensiunan, Perkuat Loyalitas Layanan
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Barcelona Berhenti Kejar Victor Osimhen
• 21 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.