REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Kemandirian pangan keluarga tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas. Di kawasan permukiman padat perkotaan, pekarangan sempit pun dapat diubah menjadi sumber pangan sehat melalui sistem pertanian vertikultur.
Gagasan inilah yang diusung Prodi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung dalam program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Kelurahan Manjahlega, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, Ahad (2/8/2026).
Baca Juga
Walkot Farhan: Pelaku Penebangan 10 Pohon di Depan Lapangan Padel Terancam 3 Tahun Penjara
Muhammadiyah Masuk Dewan Muslim Inggris, Perkuat Kiprah Diaspora Indonesia
Bacaan Dzikir Pagi Lengkap Arab, Latin, dan Artinya Sesuai Sunnah
Program tersebut tidak hanya mengajarkan teknik bercocok tanam secara vertikal, tetapi mengintegrasikan inovasi pengolahan rempah menjadi produk pangan fungsional yang berpotensi mendukung upaya pencegahan penyakit diabetes. Pendekatan ini sekaligus mempertemukan aspek ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, pemberdayaan ekonomi, dan kewirausahaan berbasis potensi lokal.
Ketua Tim PKM Prodi Teknologi Pangan UM Bandung, Sakina Yeti Kiptiyah, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat skema pemberdayaan kemitraan masyarakat yang didanai Hibah BIMA Kemendiktisaintek Tahun 2026. Tema yang diangkat adalah pendampingan inovasi produk olahan berbasis rempah-rempah yang dapat dikembangkan sebagai pangan fungsional untuk membantu menurunkan risiko diabetes.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Kasus diabetes di Indonesia terus mengalami peningkatan. Oleh karena itu, diperlukan langkah preventif melalui pemanfaatan pangan lokal, khususnya rempah-rempah yang memiliki potensi sebagai bahan pangan sehat. Kami ingin masyarakat tidak hanya mampu menanamnya, tetapi mengolahnya menjadi produk bernilai tambah," ujarnya.
Dia menjelaskan, pengabdian dimulai dengan pelatihan membuat instalasi vertikultur atau sistem tanam bertingkat yang cocok diterapkan di lingkungan perkotaan dengan keterbatasan lahan. Berbagai jenis tanaman rempah kemudian dibudidayakan dalam sistem tersebut untuk selanjutnya diolah menjadi produk pangan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat kesehatan.
Menurut Sakina, pendekatan ini diharapkan mampu mendorong masyarakat menjadi lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sekaligus membuka peluang usaha berbasis produk herbal lokal. Produk-produk tersebut nantinya juga didampingi dalam aspek pengemasan, branding, hingga strategi pemasaran agar memiliki daya saing di pasar.
"Harapan kami, masyarakat dapat memaksimalkan potensi rempah-rempah lokal menjadi produk yang lebih dikenal luas dan menjadi alternatif pangan yang lebih sehat. Program ini juga kami rancang agar berkelanjutan sehingga dapat memberikan dampak nyata bagi penurunan prevalensi diabetes di Indonesia," katanya.
Kaprodi Teknologi Pangan UM Bandung, Khairiah, mengapresiasi pelaksanaan PKM tersebut. Menurutnya, pengabdian kepada masyarakat merupakan implementasi nyata peran perguruan tinggi dalam mentransformasikan hasil keilmuan menjadi solusi yang dapat langsung dirasakan masyarakat.
"Program seperti ini diharapkan terus berlanjut karena memberikan manfaat nyata. Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan riset, tetapi menghadirkan inovasi yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat," ujarnya.