Dari Kegagalan Menuju Sapta Abdi Praja, Charina Anggie Simbolon Wujudkan Mimpi Sang Ayah

kompas.com
7 jam lalu
Cover Berita

KOMPAS.com - Tidak semua prestasi lahir dari jalan yang mulus. Bagi Charina Anggie Simbolon, menjadi salah satu lulusan terbaik atau Sapta Abdi Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan XXXIII merupakan puncak perjalanan panjang yang dipenuhi penolakan, doa, dan keteguhan hati.

Perempuan asal Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), itu berjuang mewujudkan cita-cita ayahnya menjadi seorang perwira.

Anggie lahir dan besar di lingkungan rumah dinas Komando Distrik Militer (Kodim) di Batam.

Ayahnya merupakan prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) berpangkat Pembantu Letnan Satu (Peltu), sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Kesederhanaan keluarga membentuknya menjadi pribadi yang selalu bersyukur dan pantang menyerah.

Baca juga: Alasan Prabowo Tunjuk TNI AD Kerjakan Proyek Jembatan Garuda

"Saya hidup dan tumbuh dengan kesederhanaan. Orangtua saya mendidik saya untuk selalu bersyukur (dengan) apa pun yang kita miliki," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Selasa (4/8/2026).

Di balik kesederhanaan itu, sang ayah menyimpan mimpi yang belum sempat terwujud. Keinginan menjadi seorang perwira akhirnya dititipkan kepada keempat anaknya.

"Nak, karena papa tidak bisa, silakan kalian berempat berjuanglah menjadi seorang perwira, apa pun yang kalian mau, sekolah di kedinasan mana pun," ucap Anggie kenang pesan ayahnya.

Perjalanan menuju IPDN tidak berlangsung mudah. Selepas lulus SMA, anak kedua tersebut beberapa kali mengikuti berbagai seleksi, mulai dari Akademi Kepolisian (Akpol), Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kejaksaan, hingga seleksi IPDN pada 2021, tetapi belum berhasil.

Baca juga: Seleksi CPNS 2026 Jadi Digelar? Ini Jawaban Kepala BKN

Di tengah kondisi keluarga yang masih harus membiayai adik-adiknya, Anggie sempat ingin bekerja. Namun, keinginan itu tidak diizinkan sang ayah.

Masa penantian itu membawanya menjadi relawan selama sembilan bulan di sebuah shelter yang mendampingi korban perdagangan manusia maupun kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami arti perjuangan dan rasa syukur.

"Saya belajar bahwa hidup itu memang penuh perjuangan. Walaupun saya merasa saya gagal, tetapi Tuhan masih memberikan saya keluarga yang hangat untuk selalu men-support," tutur Anggie.

Berbekal pengalaman dan tekad yang kuat, Anggie kembali mengikuti seleksi IPDN pada 2022. Saat hasil Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) muncul di layar komputer dengan nilai memuaskan, air matanya langsung mengalir.

Baca juga: Mendagri Ungkap Alasan Lulusan IPDN Banyak Diminta Kepala Daerah

"Itu saya nangis. Saya berterima kasih sama Tuhan. Terima kasih Tuhan, mungkin ini memang langkahku untuk banggakan Papa Mama," ucap Anggie.

Setelah dinyatakan lulus seluruh tahapan seleksi, ia resmi menjadi Praja IPDN.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Saya selalu mengandalkan Tuhan di dalam hidup saya,” tegas Anggie.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Klasemen Piala AFF 2026: Timnas Indonesia Melorot di Grup A usai Dihajar Vietnam
• 19 jam lalubola.com
thumb
Netanyahu Dikabarkan Tolak Rencana Trump, Tak Mau Tarik Pasukan dari Gaza
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bank Dunia: Satu dari Empat Perusahaan Indonesia Terindikasi Gelapkan Pajak
• 22 jam lalukompas.id
thumb
Purbaya Sebut Dirinya Menteri Keuangan Paling Tidak Beruntung di Dunia, Kenapa?
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Tabung CNG Merah Putih Masuk Tahap Uji Coba Terakhir
• 21 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.