JAKARTA, KOMPAS.TV - Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan setelah muncul ancaman serangan tak terbatas dari Iran terhadap kawasan Teluk Persia dan sekitarnya.
Dalam dialog Sapa Indonesia Pagi, Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret (UNS), Septianto Galan Prakoso, menilai ancaman tersebut tidak bisa dianggap sekadar gertakan.
Menurutnya, Iran memiliki alasan untuk merespons ancaman yang diterimanya, namun setiap langkah tetap harus mempertimbangkan hukum humaniter internasional agar tidak memperluas eskalasi konflik.
Baca Juga: FULL! KMP Mutiara Sentosa 2 Terbakar, DPR & MTI Desak Evaluasi Transportasi Laut | KOMPAS PAGI
Septianto juga menyoroti keputusan Presiden AS Donald Trump yang menunda serangan besar ke Iran setelah berkomunikasi dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.
Ia menilai negara-negara Timur Tengah perlu mengambil sikap yang lebih tegas untuk mendorong penyelesaian damai, sementara konflik berkepanjangan berpotensi mengganggu stabilitas kawasan, pasokan energi global, dan hubungan geopolitik internasional.
Menurutnya, tanpa mediator yang kuat dan komitmen dari seluruh pihak, risiko meluasnya perang masih tetap terbuka.
Produser: Prayogi Haro
Editor: Novaltri
Penulis : Prayogi-Haro
Sumber : Kompas TV
- as vs iran
- perang timur tengah
- trump vs mujtaba





