JAKARTA, KOMPAS.TV - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Selasa (4/8/2026).
Mata uang Garuda turun 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp18.029 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.997 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kembali naiknya harga minyak dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Di sisi lain, investor juga mencermati berlanjutnya defisit neraca perdagangan Indonesia.
"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah pada kisaran Rp17.980-Rp18.140 per dolar AS, dipengaruhi oleh kembali naiknya harga minyak. Kenaikan harga minyak dipengaruhi oleh eskalasi konflik Timur Tengah yang melebar ke sisi produksi kilang minyak," ujar Rully, Selasa, dikutip dari Antara.
Baca Juga: [FULL] Menkeu Purbaya-Pjs Gubernur BI Beber Nilai Tukar Rupiah-Ekonomi RI usai Rapat KSSK
Rully menjelaskan, kenaikan harga minyak menjadi salah satu sentimen global yang membebani pergerakan rupiah.
Setelah sempat turun lebih dari 5 persen pada awal pekan, harga minyak mentah Brent kembali naik hingga berada di atas level 84 dolar AS per barel dari kisaran 83 dolar AS per barel pada penutupan sebelumnya.
Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya kembali kekhawatiran pasar terhadap dampak konflik di Timur Tengah terhadap produksi dan distribusi energi global.
Dilansir Associated Press, harga minyak Brent melonjak sekitar 25 persen sepanjang Juli 2026 setelah konflik terbaru antara AS dan Iran menggagalkan kesepakatan damai sementara serta memperburuk gangguan pasokan energi di Selat Hormuz hingga Laut Merah.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV/Antara
- rupiah
- nilai tukar rupiah
- harga minyak dunia
- neraca perdagangan Indonesia
- dolar AS
- rupiah hari ini





