JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggencarkan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai langkah mitigasi menghadapi ancaman El Nino. Salah satu fokus utama menjaga ketersediaan air di 240 bendungan yang mengalami kekeringan agar pasokan air baku, irigasi, hingga pembangkit listrik tetap terjaga.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, sejak BMKG memprediksi kemarau yang bertepatan dengan El Nino pada Maret, berbagai langkah antisipasi telah dilakukan bersama kementerian dan lembaga terkait.
“Kita perlu mempersiapkan diri, sehingga kita telah melaksanakan beberapa kali apel siaga di Riau, di Kalimantan Barat, lalu minggu lalu di Kalimantan Tengah kemarin lusa, mempersiapkan menghadapi kebakaran hutan dan lahan,” kata Faisal dalam Dialog Nasional - Memperkuat Respons Lintas Sektor Dalam Menghadapi Dampak El Nino Kuat, Selasa (4/8/2026).
“Juga dengan kementerian PUPR, kita telah berkoordinasi dalam rangka dapat mengisi bendungan-bendungan yang saat ini mengalami kekeringan,”lanjutnya.
Dampak El Nino tidak hanya dirasakan pada sektor pertanian, tetapi juga mengancam ketersediaan sumber daya air. Karena itu, BMKG bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan cadangan air di bendungan yang mulai mengalami kekeringan.
“Pertanyaannya mengapa kita harus bertindak sekarang? Karena El Nino ini menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang, musim hujan datangnya lebih lambat, dan curah hujannya menurun serta suhu udara meningkat. Untuk suhu udara meningkat ini masih akan terjadi di tahun 2024. Suhu udaranya masih akan meningkat karena bumi merespons dengan lebih lambat ya,” kata Faisal.
“Nah kemudian untuk sektor pangan risikonya penurunan produksi dan gangguan kalender tanam. Untuk sektor sumber daya air, ketersediaan air baku menurun, kapasitas waduk berkurang dan jaringan irigasi terganggu. Ini kita sudah saat ini sedang melakukan operasi modifikasi cuaca untuk pengisian waduk-waduk di Pulau Jawa,”ujarnya.




