PGE (PGEO) menyiapkan sejumlah sumber pendapatan baru (new revenue stream), mulai dari green hydrogen hingga green data center.
IDXChannel - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE memperluas arah pengembangan bisnisnya dengan tidak lagi hanya berfokus pada pembangkitan listrik berbasis panas bumi. Perseroan kini menyiapkan sejumlah sumber pendapatan baru (new revenue stream), mulai dari green hydrogen hingga green data center.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menjelaskan saat ini perseroan telah memiliki pilot project untuk pengembangan fasilitas produksi green hydrogen yang berada di wilayah Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Lampung.
Menurutnya, proyek percontohan green hydrogen di Lapangan Panas Bumi Ulubelu ditargetkan mulai beroperasi (commercial operation date/COD) pada November tahun ini dengan kapasitas produksi sekitar 100 kilogram hidrogen hijau per hari.
"Ke depan, geothermal bukan hanya menghasilkan energi bersih dalam bentuk listrik, tetapi juga ada peluang lain yang bisa kita kembangkan. Salah satunya green hydrogen yang saat ini sedang kami jalankan melalui pilot project di Ulubelu," ujar Ahmad Yani dalam media briefing di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
PGE juga tengah membangun ekosistem hidrogen sebagai langkah awal sebelum dikembangkan menjadi bisnis komersial dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Perseroan melihat prospek pasar hidrogen akan terus tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan energi rendah karbon di tingkat domestik maupun global.
Selain green hydrogen, PGE juga membidik peluang dari berkembangnya industri pusat data (data center). Ahmad Yani menjelaskan, perseroan tidak akan masuk sebagai operator data center, melainkan memasok pasokan listrik hijau berbasis panas bumi yang dibutuhkan industri tersebut.
"Kami bukan berbisnis di data center, tetapi menjadi penyedia energi hijau untuk mendukung operasional green data center. Ini menjadi salah satu peluang yang sedang kami kembangkan," katanya.
Tak hanya itu, PGE membuka peluang bisnis lain seperti mineral extraction dari fluida panas bumi dan pengembangan kawasan geowisata (geotourism). Perseroan menilai optimalisasi pemanfaatan sumber daya panas bumi dapat menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar dibanding hanya menjual listrik.
Menurut Ahmad Yani, berbagai inisiatif tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang PGE untuk membangun bisnis panas bumi yang lebih berkelanjutan dan tidak hanya bergantung pada penjualan listrik.
"Bisnis konvensional geothermal nantinya akan didukung oleh berbagai bisnis turunan yang secara langsung menopang bisnis utama kami. Dengan begitu, panas bumi tidak hanya menjadi sumber energi bersih, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perusahaan," katanya.
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi mengatakan, kajian mengenai green data center saat ini masih berlangsung melalui diskusi intensif dengan pelaku industri. Perseroan berharap kajian tersebut dapat menghasilkan model bisnis yang layak untuk diimplementasikan di Indonesia.
"Kami sedang melihat bagaimana energi geothermal bisa langsung menyuplai kebutuhan green data center. Kajian masih berjalan dan sejauh ini memberikan hasil yang positif terhadap pengembangan panas bumi di Indonesia," tambahnya.
Selain itu, PGE mengembangkan konsep hilirisasi panas bumi melalui pemanfaatan green hydrogen yang ke depan berpotensi dikembangkan menjadi green ammonia apabila didukung insentif dan aspek keekonomian yang memadai. (Febrina Ratna Iskana)





