BEKASI, KOMPAS.com - Sistem pembuangan terbuka atau open dumping di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, belum ditutup sepenuhnya pada Agustus 2026.
Meski kebijakan menuju pengelolaan sampah 100 persen Jakarta telah dimulai pada 1 Agustus 2026, praktik open dumping di Bantargebang tidak bisa langsung ditutup secara instan.
Kepala Unit Pengelola Sampah Terpadu (UPST) Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Agung Pujo Winarko, menyebut proses penghentian open dumping akan dilakukan secara bertahap hingga tahun 2029.
Baca juga: Truk Sampah Antre hingga 600 Meter di TPST Bantargebang, Lindi Menetes di Sepanjang Jalan
"Jadi, kita akan coba menjelaskan bahwa Jakarta sudah memulai transformasi terhadap pengelolaan sampah. Tentu, dengan bertahap sampai nanti di tahun 2029 semua sampah di Jakarta bisa terkelola dengan baik dan murni hanya residu saja yang masuk ke TPST Bantargebang pada 2029 nanti," kata Agung kepada wartawan di TPST Bantargebang, Selasa (4/7/2026).
Berdasarkan peta jalan atau roadmap pengelolaan sampah Jakarta, Agung menyebut volume open dumping akan ditekan secara berkala seiring dengan beroperasinya fasilitas pengolahan di dalam kota.
"Kalau untuk pelaksanaan open dumping itu, dari yang awalnya saat ini 70 persen, kita targetkan di akhir tahun ini hanya 50 persen. Target kita juga memang di akhir tahun ini, kita ada dalam proses untuk penambahan geomembran, estimasi kita bisa kurang lebih mungkin sekitar 5 sampai 6 hektar," tutur Agung.
Baca juga: Ini Penampakan Gunungan Sampah Bantargebang yang Ditutup Geomembran
Kemudian, setelah itu, Pemprov kembali menargetkan penurunan angka open dumping hingga 33,56 persen pada 2027.
Pada 2028, barulah Jakarta ditargetkan sudah benar-benar menutup open dumping ke Bantargebang dengan 66,44 persen sampah terkelola di fasilitas dan 33,56 persen sisanya dibuang sebagai residu ke Sanitary Landfill di Bantargebang.
Adapun, kata Agung, transformasi ini tidak hanya menitikberatkan pada penutupan open dumping Bantargebang, melainkan juga berfokus mengoptimalkan fasilitas dari hulu dan tengah.
Baca juga: Babak Baru Pengelolaan Sampah di Bantargebang: Open Dumping Ditutup Mulai Hari Ini, Apa Dampaknya?
"Dari hulu sampai hilie itu jadi beriringan ya, di hulu kita dorong agar pengurangan dan pemilahan sampah sejak dari sumber oleh warga, lalu di tengah ada peningkatan fasilitas seperti TPS3R dan RDF," ucap Agung.
Diubah Jadi Controlled LandfillSebagai langkah awal transisi, sistem open dumping di Bantargebang mulai diubah menjadi controlled landfill.
"Kalau open dumping itu memang dia tidak ada penataan sedikit pun di sana. Jadi hanya dibuang, dia terbuka, sampah ditumpuk, tidak ada perataan, tidak ada pemadatan, terbuka saja. Dan dia terkena hujan, terkena panas," kata Agung.
Baca juga: Mulai 1 Agustus, Bantargebang Hanya Terima Sampah Residu, lalu ke Mana Sampah Lainnya?
Sementara itu, pada sistem controlled landfill, sampah yang tiba akan ditangani lebih sistematis menggunakan alat berat sebelum akhirnya ditutup rapat.
"Kita melakukan perataan, kemudian pemadatan terhadap landfill kami. Diratain, dipadatin. Setelah itu kita tutuplah dengan material pelindung tadi (geomembran). Ini harapannya dia tidak air lindi atau air hujan yang misalkan terjadi hujan, dia akan tidak langsung masuk ke dalam timbunan," tutur Agung.





