Tiga bank asing terbesar di Indonesia, unit usaha Citigroup Inc, Standard Chartered Plc, dan HSBC Holdings Plc, telah mentransfer sekitar US$ 640 juta atau setara Rp 11,5 triliun laba ke kantor pusatnya sejak 2024.
Menurut laporan Bloomberg, langkah tersebut seiring upaya ketiga bank mengurangi eksposur di Indonesia di tengah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto yang semakin berorientasi pada peran negara.
Laporan keuangan ketiga bank menunjukkan, Citigroup mengirim porsi laba ke perusahaan induknya melebihi rata-rata 84% pada satu dekade sebelum 2024. Sebelum Prabowo menjabat, Citi masih menahan sebagian laba di Indonesia untuk membiayai pertumbuhan bisnis dan memperkuat permodalan.
Lalu Standard Chartered atau StanChart dan HSBC juga meningkatkan porsi laba yang mereka transfer ke kantor pusat. Nilai transfer StanChart melampaui rata-rata 48% pada periode sebelumnya. Sementara HSBC melebihi rata-rata 87% pada periode 2020–2023. HSBC tidak mengungkapkan besaran dana yang dikirim ke perusahaan induknya sebelum 2020 dalam laporan keuangannya.
Bloomberg juga mengutip sejumlah bankir yang mengetahui persoalan itu. Mereka mengatakan beberapa bank asing mulai mengurangi eksposur di RI karena khawatir terhadap arah kebijakan pemerintah yang dinilai mengikis kepercayaan investor asing.
Menurut para bankir tersebut, gejolak pasar yang menekan harga saham dan nilai tukar rupiah pada awal 2025, beberapa bulan setelah pemerintahan Prabowo dimulai, turut mendorong bank-bank asing menyesuaikan eksposur mereka di Indonesia.
Rupiah Anjlok sejak Prabowo MenjabatSejak menjabat pada Oktober 2024, Prabowo memperkuat peran pemerintah dalam perekonomian. Langkah ini dilakukan antara lain melalui perluasan kewenangan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara.
Lembaga pengelola investasi negara tersebut kini mengawasi ratusan badan usaha milik negara (BUMN) dan mengelola aset yang menurut pemerintah bernilai sekitar US$ 900 miliar.
Bloomberg juga mengungkapkan, salah satu momen yang menjadi perhatian bank-bank asing kala Danantara menggalang fasilitas pinjaman senilai US$ 10 miliar pada awal 2025. Mengutip sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Kepala Investasi Danantara, Pandu Sjahrir, meminta masing-masing dari 10 bank calon kreditur berkomitmen menyediakan pembiayaan hingga US$ 1 miliar sebagai bentuk dukungan terhadap Indonesia dan Danantara.
Sejumlah eksekutif perbankan menilai permintaan itu menjadi sinyal akan ada tekanan yang lebih besar ke lembaga keuangan itu, demi mendukung agenda pemerintah. Bloomberg juga menyoroti penghimpunan dana sebesar Rp 50 triliun melalui instrumen yang disebut Obligasi Patriot pada tahun lalu. Obligasi tersebut menawarkan kupon 2%, jauh di bawah tingkat imbal hasil pasar.
Pekan lalu, pemerintah juga memutuskan membebaskan pembelian obligasi Danantara dari pengawasan hukum dan perpajakan. Sejumlah analis yang dikutip Bloomberg menilai kebijakan tersebut berpotensi menarik dana dengan asal-usul yang meragukan dan dapat memperburuk persepsi investor terhadap Indonesia.
Di sisi lain, StanChart menjadi bank yang paling agresif memulangkan laba ke perusahaan induknya. Pada 2024, bank tersebut mentransfer lebih dari Rp 1,1 triliun. Angka itu hampir empat kali lipat laba yang mereka hasilkan di Indonesia, dengan memanfaatkan akumulasi laba dari tahun-tahun sebelumnya.
Citigroup juga mengirim hampir seluruh laba yang diperoleh pada 2024 dan 2025 ke perusahaan induknya. Sementara itu, HSBC mentransfer hampir Rp 3 triliun ke kantor pusat pada 2025, meski laba bersihnya di Indonesia kurang dari Rp 2,2 triliun. Berdasarkan laporan keuangannya, nilai transfer tersebut menjadi yang terbesar sejak 2022.
“Indonesia memberikan skala bagi fase pertumbuhan Asia berikutnya. Seiring kawasan ini merestrukturisasi peta perdagangannya, HSBC berada dalam posisi unik untuk menghubungkan ambisi industri Indonesia dengan modal global, dan kami akan terus berfokus pada pertumbuhan ini,” kata juru bicara HSBC menanggapi permintaan komentar dari Bloomberg.
Sementara perwakilan dari StanChart dan Citigroup enggan berkomentar.
Selain itu, Bloomberg mencatat kenaikan pengiriman laba ke perusahaan induk juga seiring dengan penyusutan skala bisnis bank-bank global di Indonesia, yang sebenarnya telah dimulai sebelum Prabowo menjabat sebagai presiden.
Citigroup lebih dulu melepas bisnis perbankan ritelnya di Indonesia bersama tiga negara Asia Tenggara lainnya kepada United Overseas Bank (UOB) pada 2022. Setahun kemudian, StanChart menjual portofolio kredit ritelnya kepada PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN).
Sementara itu, HSBC masih melanjutkan proses divestasi bisnis ritel dan pengelolaan kekayaannya kepada Oversea-Chinese Banking Corporation (OCBC) yang diperkirakan akan rampung pada tahun depan.




