Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM, Bahlil Lahadalia, menyebut pemerintah tengah menyiapkan formula harga bioetanol untuk mendukung rencana penerapan campuran bensin beretanol atau E10 pada 2027 dan peningkatan menuju E20.
Bahlil mengatakan, pemerintah tidak hanya menyiapkan aspek teknis penerapan etanol, tetapi juga memastikan skema keekonomiannya agar industri, petani, dan negara mendapatkan manfaat.
Ia menjelaskan bahwa mekanisme insentif bioetanol kemungkinan akan menyerupai skema pengelolaan dana biodiesel oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang menutup selisih harga (disparitas) antara bioetanol dan bahan bakar minyak (BBM) fosil dalam skema biodiesel.
"Mungkin akan seperti BPDPKS, tetapi sampai dengan sekarang kita lagi mengatur formulasinya," ujar Bahlil saat menyambangi press room Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (3/8/2026).
Secara karakter etanol memang berbeda dengan biodiesel. Jika biodiesel menggunakan bahan baku sawit yang diolah menjadi FAME, etanol berasal dari komoditas pertanian seperti jagung, singkong, dan tebu.
"Tebu ini biasanya larinya ke molase nih. Nah, harga mereka kita langsung patok tetapi kita bikin semacam harga yang ekonomis supaya petani juga punya pendapatan yang bagus," jelas Bahlil.
Menurut Bahlil, pemerintah perlu memperhitungkan selisih antara harga etanol dan harga bensin yang berlaku saat ini. Ia mencontohkan, harga bioetanol berada di sekitar Rp11 ribu per liter, sementara harga bensin non subsidi seperti Pertamax berada di kisaran Rp16 ribu per liter.
Baca Juga: Biodiesel B50 Berlaku, Ini Tips Merawat Mesin Diesel dari Mitsubishi Fuso
Baca Juga: Bahlil Buka Tahap Perdana PLTS 100 GW, Bali Dipilih Jadi Lokasi Awal, Tinggal Tunggu Prabowo
"Karena ini etanol ini adalah bensin bersih yang bagus, harusnya idealnya dia pakai harga yang paling 16.000. Nah, kalau dia etanolnya di 11.000 kemudian harga bensin sekarang 16.000, berarti kan ada terjadi selisih tuh. Itu mungkin tidak ada dana talangan," ujarnya.
Namun, pemerintah juga memperhitungkan perubahan harga minyak dunia dalam menentukan formula tersebut.
"Tetapi ketika harga minyak dunia turun, ya kan, contoh harga minyak dunia turun menjadi 9.000 atau 10.000, etanolnya 11.000, berarti akan ada selisih 1.000. Nah, ini yang kita akan membentuk ininya. Kita akan membuat satu formulasi yang baik untuk kepentingan industri, petani, dan negara," tutup Bahlil.





