Cianjur: Volume air Bendungan Cisokan di Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menyusut drastis akibat musim kemarau yang berlangsung hampir tiga bulan. Kondisi ini mengancam kelangsungan pertanian karena pasokan air irigasi ikut berkurang.
Bendungan Cisokan menjadi andalan utama untuk mengairi hampir 5.000 hektare lahan sawah di Kecamatan Bojongpicung, Ciranjang, dan Haurwangi.
Petugas Bendungan Cisokan, Hendra Purnama, mengungkapkan bahwa penyusutan debit air terjadi lantaran tidak ada hujan dalam tiga bulan terakhir. Saat ini, debit air hanya tercatat sekitar 4.202 liter per detik.
"Bahkan pernah sampai 2.952 liter per detik. Itu penurunan yang sangat signifikan," kata Hendra, Selasa, 4 Agustus 2026.
Baca Juga :
Kekeringan di Jawa Barat Meluas, 313.302 Jiwa Terdampak
Hendra mengkhawatirkan debit air akan terus merosot jika kemarau masih berlanjut. Untuk memastikan seluruh lahan pertanian tetap mendapat pasokan air, pengelola bendung bersama UPTD Operasi dan Pemeliharaan (OP) dan P3A Mitra Cai menerapkan sistem pembagian air bergilir atau gilir-giring.
Dengan sistem ini, wilayah irigasi dibagi menjadi tiga kelompok. Setiap kelompok mendapat alokasi air selama dua hari secara bergantian. Kebijakan ini bertujuan menjamin lahan di wilayah hilir tetap mendapat pasokan meski dalam jumlah terbatas.
Ilustrasi. Foto: Pexels/Chien Ba
"Sesuai kesepakatan, kita menggunakan sistem gilir-giring. Ini sangat penting untuk menjaga pasokan air ke lahan pertanian," jelas Hendra.
Apabila kemarau masih berlangsung panjang dan debit Bendungan Cisokan terus menyusut, ribuan hektare sawah di Bojongpicung, Ciranjang, dan Haurwangi berpotensi mengalami kekeringan yang lebih parah. Bahkan, hal itu dapat mengancam produktivitas padi pada musim tanam tahun ini.




