REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki fase ekspansi pada Juli 2026 setelah Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur naik ke level 50,2 dari 46,9 pada Juni. Meski kembali berada di atas level 50, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai pemulihan sektor manufaktur masih memerlukan penguatan.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian Saleh Husin mengatakan, kenaikan PMI menunjukkan aktivitas manufaktur mulai pulih setelah sempat terkontraksi pada bulan sebelumnya. Namun, menurut dia, capaian dalam satu bulan belum cukup menjadi indikator bahwa industri nasional telah memasuki tren pemulihan yang berkelanjutan.
Baca Juga
Industri Pangan Sumbang 42,01 Persen PDB Manufaktur, Teknologi Jadi Fokus ProPak 2026
Produksi Tembus 300 Ribu, Isuzu Karawang Plant Perkuat Posisi Indonesia Jadi Basis Manufaktur Global
PGN Area Bogor Penuhi Kebutuhan Gas Bumi Produsen Aspal, Dukung Industri Manufaktur Ramah Lingkungan
“Kenaikan PMI ke 50,2 menunjukkan aktivitas manufaktur kembali memasuki fase ekspansi setelah terkontraksi pada Juni. Namun, karena PMI merupakan indikator jangka pendek, capaian satu bulan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa industri telah memasuki tren pemulihan yang kuat,” kata Saleh, Selasa (4/8/2026).
Menurut Saleh, pemulihan perlu ditopang konsistensi pertumbuhan dalam beberapa bulan ke depan serta didukung indikator lain, seperti peningkatan output industri, utilisasi kapasitas produksi, dan investasi. Dibandingkan negara-negara ASEAN, posisi Indonesia mulai membaik, tetapi laju ekspansinya masih tergolong moderat.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ia menjelaskan, kenaikan PMI Juli didorong meningkatnya produksi dan membaiknya permintaan domestik sehingga pesanan baru kembali bertambah. Meski demikian, industri masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain kenaikan biaya bahan baku, lemahnya permintaan ekspor, serta sikap pelaku usaha yang masih berhati-hati dalam melakukan pembelian bahan baku.
“Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan belum merata dan masih memerlukan penguatan dari sisi permintaan,” ujarnya.
Karena itu, Saleh menilai belum tepat apabila kenaikan PMI Juli langsung diartikan sebagai sinyal dunia usaha kembali agresif melakukan investasi maupun memperluas kapasitas produksi.
“Pelaku usaha diperkirakan masih akan mencermati keberlanjutan tren permintaan dalam beberapa bulan ke depan sebelum melakukan ekspansi kapasitas atau investasi baru,” katanya.
Sementara itu, pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan PMI manufaktur menjadi salah satu sinyal positif bagi aktivitas industri. Namun, menurut dia, pelaku pasar masih bersikap hati-hati karena berbagai risiko eksternal masih membayangi perekonomian global.
“Sikap hati-hati juga masih mewarnai pasar menjelang rilis data PDB kuartal kedua,” ujar Ibrahim.
Menurut Ibrahim, kehati-hatian tersebut dipengaruhi ketidakpastian global dan ekspektasi terhadap sejumlah indikator ekonomi yang akan menjadi penentu arah pemulihan ekonomi. Selain itu, pasar juga menunggu data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2026 untuk melihat arah pemulihan ekonomi ke depan.