SURABAYA, KOMPAS - Sebanyak 238 korban kebakaran KMP Mutiara Sentosa II di Laut Jawa telah dievakuasi. Bahtera diduga tenggelam karena tak lagi terlihat di permukaan laut. Operasi pencarian dan pertolongan atau SAR pun dialihkan menjadi operasi rutin.
Demikian dinyatakan oleh Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya Mohammad Syafii dalam jumpa pers di Pos Komando SAR Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (4/8/2026) petang.
Turut hadir dalam jumpa pers Wakil Menteri Perhubungan Suntana, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Muhammad Masyud, investigator keselamatan pelayaran Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Aleik Nurwahyudy, pimpinan Kepolisian Daerah Jawa Timur, Komando Armada 2, dan PT Jasa Raharja (Persero).
Syafii mengatakan, bahtera tidak terlihat lagi di permukaan pada hari kedua Operasi SAR atau Senin (3/8/2026) petang. ”Hari pertama dan hari kedua masih ada. Namun, sejak hari kedua petang tidak lagi terlihat,” ujarnya.
Di hari kedua, Operasi SAR masih berlanjut. Kapal-kapal niaga, barang, penumpang turut mengevakuasi sejumlah korban. Namun, korban tidak bisa diantar ke Surabaya sehingga dipindahkan ke KN SAR Permadi yang selanjutnya mengantar 9 penumpang selamat ke Pulau Madura.
”Saat KN SAR Permadi kembali ke lokasi yang ditentukan, tidak terlihat lagi (KMP Mutiara Sentosa II) di permukaan. Kami yakinkan dengan air searching (pencarian lewat udara) oleh pesawat TNI AL tidak mendapat hasil begitu juga oleh helikopter Polri. Selama dua hari berturut-turut melaksanakan air searching tidak menemukannya,” kata Syafii.
Basarnas melihat perkembangan ke depan mengenai lokasi bahtera itu. Operasi SAR dialihkan menjadi operasi rutin dalam kendali Kantor Pencarian dan Pertolongan Surabaya. Pos Komando SAR di Tanjung Perak masih terbuka terhadap laporan dari masyarakat yang merasa kehilangan kerabat atau keluarga dan diduga menjadi korban kebakaran KMP Mutiara Sentosa II.
”Seandainya ada laporan orang hilang dan bisa diyakini, operasi SAR bisa dibuka kembali,” ujar Syafii.
Terkait dengan jumlah korban, Tim SAR telah mengevakuasi 238 jiwa termasuk 5 penumpang dalam kondisi meninggal dunia. Artinya, ada 233 jiwa dalam kondisi selamat. Jumlah ini telah divalidasi bersama petugas Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Perak, operator PT Atosim Lampung Pelayaran dari penjualan tiket on-line, dan nakhoda.
”Dari data riil, jumlah orang dalam kapal yaitu 238 orang,” kata Syafii. MV Meratus Pematang Siantar membawa 110 penumpang selamat dan 2 penumpang meninggal dunia. TB Hasnus membawa 62 penumpang selamat. KN SAR Permadi membawa 9 penumpang selamat. KM Selaras Mas membawa 13 penumpang selamat. KRI Nala-363 membawa 30 penumpang selamat dan 2 penumpang meninggal dunia dari bahtera-bahtera penyelamat lainnya. KM Mutiara Ferindo membawa 8 penumpang selamat dan 1 penumpang meninggal dunia.
Dari data riil, jumlah orang dalam kapal yaitu 238 orang.
Syafii mengatakan, seluruh penumpang yang dievakuasi memakai rompi apung (life vest). Kru kapal telah bertindak cepat untuk memastikan penumpang memakai alat keselamatan tersebut. Kebakaran kapal terjadi pada Minggu (2/8/2026) pukul 06.48 WIB dan cepat menjalar.
Langkah pertama kru ialah pemadaman tetapi gagal. Selanjutnya, kapal menyalakan peringatan dan pengumuman permintaan berkumpul seluruh penumpang di haluan dan menggunakan rompi apung. ”Sekoci ada tetapi waktu tidak memungkinkan untuk menurunkannya,” kata Syafii.
Mengenai keberadaan sekoci dan perahu karet keselamatan juga diamini oleh Suntana dan Masyud. KMP Mutiara Sentosa II telah menjalani ramp check pada Juni 2026 dan dinyatakan laik laut. Bahtera ini oleh otoritas dinyatakan menemuhi persyaratan keselamatan, pencegahan pencemaran, dan pengawakan.
Masyud mengatakan, dari ramp check diketahui bahwa sekoci tersedia, kebutuhan rompi apung tercukupi, dan kru kapal dalam kondisi andal sehingga mendapatkan kelaiklautan. ”Hasil penilaian itu laik laut. Krunya juga sudah memenuhi persyaratan sehingga dapat diberikan kelaiklautan bagi kapal untuk melayani pelayaran,” ujarnya.
Adapun menurut Aleik, KNKT menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban kebakaran KMP Mutiara Sentosa II. Kecelakaan laut ini harus menjadi pelajaran berharga untuk meningkatkan dan menjamin keselamatan pelayaran.
Untuk investigasi kebakaran yakni penentuan sumber api dan penyebabnya, lanjut Aleik, menjadi tantangan besar dan kompleks. ”Karena tidak lagi terlihat di permukaan, harus ditentukan dahulu di mana posisi kapalnya dan bagaimana pemeriksaan bawah airnya. Tidak mudah karena di laut terbuka, kedalaman, arusnya besar,” katanya.
Suntana mengatakan, kecelakaan laut ini akan dievaluasi oleh pemerintah untuk menguatkan mitigasi dan memastikan keselamatan pelayaran. ”Bila ditemukan dugaan tindak pidana dari penyelidikan oleh Polda Jatim akan diproses sesuai aturan berlaku. Kementerian Perhubungan sebagai regulator akan menyempurnakan supaya hal ini tidak terjadi lagi,” ujarnya.
”Sanksi akan diberikan sesuai aturan yang ada. Sanksi diberikan kok seperti kecelakaan laut sebelumnya. Sanksi ada administrasi, pencabutan, dan lain-lain,” kata Suntana.





