JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah kehidupan perkotaan yang serba cepat, semakin banyak anak muda dan pekerja urban memilih kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bukan hanya sebagai alat mencari informasi atau membantu pekerjaan, tetapi juga sebagai tempat mencurahkan isi hati.
Mulai dari persoalan pekerjaan, konflik keluarga, tekanan akademik, hingga rasa kesepian, kini dituliskan ke chatbot AI yang dapat diakses kapan saja.
Respons yang cepat, tidak menghakimi, dan selalu tersedia membuat teknologi tersebut menjadi alternatif baru bagi sebagian masyarakat untuk mencari dukungan emosional.
Baca juga: Kalau Cerita ke Orang Kadang Takut Disebarkan Kala Anak Muda Lebih Pilih Curhat ke AI
Namun, di balik kemudahan itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengingatkan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran psikolog maupun psikiater.
Ketergantungan terhadap AI hingga menunda mencari bantuan profesional justru berpotensi memperburuk kondisi kesehatan mental seseorang.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan AI sebagai pengganti psikolog maupun psikiater.
Menurut Ani, AI memang dapat membantu seseorang mengungkapkan perasaan, menata pikiran, memperoleh informasi umum, hingga menyadari bahwa dirinya membutuhkan bantuan.
Bagi sebagian orang yang belum siap berbicara kepada keluarga, teman, atau tenaga profesional, AI juga dapat menjadi pintu awal untuk mengenali kondisi emosionalnya.
Namun, teknologi tersebut tidak mampu memahami kondisi seseorang secara menyeluruh, tidak dapat melakukan pemeriksaan klinis, maupun menilai tingkat risiko psikologis seseorang.
"AI dapat menjadi salah satu alat bantu awal untuk refleksi diri atau mencari informasi, tetapi tidak dapat menggantikan peran psikolog klinis maupun psikiater, terutama untuk kondisi yang membutuhkan penanganan profesional," kata Ani saat dihubungi Kompas.com, Selasa (4/8/2026).
Ia menjelaskan, penggunaan AI menjadi berisiko apabila membuat seseorang menunda mencari pertolongan, terutama ketika keluhan berlangsung terus-menerus, semakin berat, mengganggu tidur, pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, atau disertai keinginan menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Baca juga: Saya Sampai Nangis Saat Curhat ke AI Cerita Pekerja Muda Mencari Pendengar Tanpa Menghakimi
Dalam kondisi tersebut, masyarakat diminta segera berkonsultasi dengan tenaga profesional melalui puskesmas, rumah sakit, maupun layanan JakCARE.
"Posisi kami bukan melarang penggunaan AI, tetapi memastikan masyarakat memahami batasannya. AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu untuk refleksi dan memperoleh informasi awal, bukan untuk mendiagnosis diri atau menjadi satu-satunya sumber dukungan," ujar Ani.
Menurut Ani, masyarakat juga perlu memahami bahwa kesehatan mental bukan hanya membutuhkan informasi atau respons, melainkan empati, pemahaman terhadap konteks individu, asesmen kondisi psikologis, hingga intervensi yang tepat apabila diperlukan.
Cerminan kebutuhan untuk didengarAni menilai, meningkatnya masyarakat yang mulai menjadikan AI sebagai tempat curhat merupakan bagian dari perubahan cara mencari dukungan emosional di tengah kehidupan yang semakin digital.
AI dinilai mudah diakses, mampu memberikan respons dengan cepat, serta menyediakan ruang bagi seseorang untuk bercerita kapan saja tanpa merasa dihakimi.
"Fenomena ini bukan sekadar tren penggunaan teknologi. Kondisi tersebut juga menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat untuk didengar dan memperoleh dukungan," ujar Ani.
Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang menghadapi hambatan untuk mengakses layanan kesehatan jiwa, mulai dari stigma, keterbatasan waktu dan biaya, kekhawatiran terhadap kerahasiaan, hingga minimnya informasi mengenai layanan yang tersedia.
Baca juga: Polisi Tewas di Asrama Brimob Palmerah, Diduga Dianiaya Prajurit TNI
Karena itu, Dinkes DKI terus memperkuat pelayanan kesehatan jiwa melalui peningkatan literasi kesehatan mental, perluasan layanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun rumah sakit rujukan, serta pengembangan layanan telekonsultasi JakCARE agar masyarakat memperoleh bantuan secara lebih cepat dan fleksibel.
Selain itu, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan penguatan sistem rujukan juga terus dilakukan agar pelayanan kesehatan jiwa berjalan efektif dan berkesinambungan.
Ani juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap keamanan data pengguna AI, termasuk penggunaan informasi pribadi dan tanggung jawab penyedia platform.
Tekanan hidup perkotaanAni mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak keluhan kesehatan jiwa yang teridentifikasi melalui skrining, kunjungan ke fasilitas kesehatan, maupun layanan konsultasi.
Meski demikian, meningkatnya jumlah masyarakat yang mengakses layanan belum tentu berarti jumlah gangguan kesehatan jiwa juga bertambah.
Kondisi tersebut juga dapat mencerminkan semakin luasnya pelaksanaan skrining, meningkatnya kesadaran masyarakat, berkurangnya stigma, serta semakin mudahnya akses terhadap layanan kesehatan jiwa.
Sebagai kota metropolitan, Jakarta memiliki berbagai dinamika yang memengaruhi kondisi psikologis masyarakat, seperti tekanan pekerjaan dan pendidikan, tuntutan produktivitas, persoalan keluarga, tekanan ekonomi, kemacetan, hingga keterbatasan waktu beristirahat.





