PALEMBANG, KOMPAS — Angka kejadian kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan melonjak drastis dalam sebulan terakhir akibat fenomena El Nino. Di tengah meluasnya titik api, tim pemadam mulai dihadapkan pada krisis sumber air di lapangan.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto saat dihubungi dari Palembang, Selasa (4/8/2026), mengatakan, eskalasi karhutla di Sumsel terus meningkat tajam. Hingga Selasa petang, sebanyak 254 personel Manggala Agni terus dikerahkan untuk memadamkan api yang tersebar pada berbagai titik krusial.
Di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), tim berupaya memadamkan api di Lebak Pancur dengan estimasi area terbakar sekitar delapan hektar, Lebung Batang seluas enam hektar, Sungai Menang, dan sekitar Jalan Tol Kayu Agung-Palembang-Betung (Kapalbetung) di kawasan Jejawi. Titik api pun tengah dijinakkan di Suka Jaya, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim dengan luasan mencapai 2,5 hektar.
Untuk kawasan Kota Palembang, operasi difokuskan di Sematang Borang dan sekitar Jalan Tol Kapalbetung di kawasan Pulokerto. Wilayah lain yang juga menjadi sasaran pemadaman adalah Rantau Bayur di Kabupaten Banyuasin dan Karang Agung di Musi Banyuasin.
Selain dari darat, pemadaman ikut dibantu tim udara melalui sejumlah helikopter waterbombing. "Kondisi saat ini memperlihatkan semakin meningkatnya frekuensi dan intensitas kejadian karhutla di Sumsel," ujar Ferdian.
Mengantisipasi kebakaran yang diprediksi berlangsung panjang hingga akhir tahun, personel Manggala Agni dari provinsi tetangga kini mulai disiagakan. Pasukan tambahan dari wilayah Jambi pun sudah dipersiapkan untuk ditarik ke Sumsel jika pergerakan api kian membesar dan tak terkendali. "Saat ini, Sumsel menjadi provinsi paling rawan karhutla di Sumatera bagian selatan," ungkap Ferdian.
Tingginya eskalasi ancaman karhutla tersebut turut terkonfirmasi data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel. Sepanjang 1 Januari hingga 3 Agustus 2026, total kejadian karhutla mencapai 781 kejadian dengan luas area terbakar 664,87 hektar.
Tren kejadian tersebut menunjukkan lonjakan yang sangat drastis dalam satu bulan terakhir. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, BPBD mendata terdapat 222 kejadian karhutla. Namun, angka tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat pada bulan Juli yang menembus 456 kejadian.
Kondisi kian mengkhawatirkan karena hanya dalam tiga hari pertama di bulan Agustus, sudah tercatat ada 103 kejadian karhutla baru. Adapun OKI menduduki peringkat teratas penyumbang titik api terbanyak.
"Sebagian besar wilayah Sumsel saat ini berada dalam kategori sangat mudah mengalami karhutla pada lapisan atas permukaan tanah. Karena itu, semua pihak dituntut meningkatkan kewaspadaannya, tidak terkecuali masyarakat," kata Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, M Iqbal Alisyahbana.
Tantangan di lapangan pun kian berat seiring menyusutnya cadangan air. Ferdian mencontohkan kondisi di Sungai Menang, OKI, di mana sumber air untuk memadamkan api telah sepenuhnya kering. Itu mengakibatkan petugas lapangan terpaksa melakukan pemadaman secara manual dengan cara menimbun titik api menggunakan tanah.
"Saat ini, hari tanpa hujan (HTH) sudah semakin panjang. Bahkan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) perbantuan dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) yang kembali digelar selama 4-8 Agustus tidak berdampak optimal karena minim potensi awan hujan yang bisa disemai," terang Ferdian.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas 1 Sumsel, Wandayantolis menuturkan, Sumsel telah memasuki puncak musim kemarau. El Nino yang kini aktif pada level kuat membuat uap air mengering sehingga panas permukaan tidak terserap dan memicu kenaikan suhu secara drastis.
Bahkan, sejumlah wilayah di Sumsel mengalami HTH hingga 40 hari. "Secara umum, curah hujan di Sumsel saat ini berada di bawah normal atau lebih rendah dari rata-ratanya," jelas Wandayantolis.
Walau faktor cuaca meningkatkan risiko karhutla, Ferdian menyampaikan, api tidak timbul secara sendiri. Hal itu diyakini dipicu ulah manusia, antara lain kebiasaan membuka lahan dengan cara dibakar. "Tapi, sejauh ini, belum ada tindakan hukum tegas terhadap oknum-oknum tidak bertanggung jawab tersebut sehingga belum ada efek jera," tutur Ferdian.
Merespons tingkat kerawanan karhutla dan adanya dugaan unsur kesengajaan tersebut, Kapolda Sumsel Inspektur Jenderal Sandi Nugroho telah menginstruksikan seluruh jajarannya untuk bergerak masif. Polisi diminta mengedepankan langkah preventif terukur, mulai dari patroli berkelanjutan hingga penegakan hukum yang konsisten.
"Ancaman karhutla sudah di depan mata. Untuk itu, semua jajaran harus memperkuat mitigasi dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu, baik terhadap korporasi maupun individu yang terbukti sengaja membakar lahan," tegas Sandi.





