Parpol Masuk Fase Perang Posisi Menuju Pemilu 2029, Apa Maksudnya?

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Sejumlah partai politik mulai memanaskan mesin politik meski Pemilu 2029 masih tiga tahun lagi. Mulai dari konsolidasi organisasi hingga penjaringan bakal calon anggota legislatif. Fase ini dinilai menjadi bagian dari "perang posisi" untuk memperkuat fondasi organisasi menjelang kompetisi elektoral yang sesungguhnya.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Herman Khaeron dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (4/8/2026), mengatakan, seluruh kader Partai Demokrat telah diminta mulai bekerja untuk mempersiapkan kemenangan pada Pemilu 2029. Kerja-kerja diharapkan melalui strategi yang matang, konsolidasi organisasi, dan kerja nyata di tengah masyarakat.

Ia mengingatkan, kemenangan tidak dapat diraih secara instan, melainkan harus dibangun melalui kerja politik yang berkesinambungan, penguatan struktur partai, serta kedekatan dengan masyarakat.

"Musyawarah Daerah DPD Partai Demokrat yang dilakukan beberapa waktu ini, diharapkan menjadi titik awal penguatan organisasi sekaligus membangun semangat juang seluruh kader untuk terus bersama rakyat dan mewujudkan kemenangan Demokrat pada Pemilu 2029," ujarnya.

Langkah serupa juga dilakukan oleh Partai Nasdem. Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Nasdem di berbagai daerah mulai menggelar rapat koordinasi dan konsolidasi bersama Dewan Pimpinan Daerah (DPD) sebagai bagian dari penguatan organisasi sekaligus penyusunan strategi menghadapi Pemilu 2029.

Partai Golkar bahkan telah mulai menyiapkan bakal calon anggota legislatif (caleg) untuk Pemilu 2029. Salah satunya melalui Training of Trainers (TOT) Akademi Partai Golkar yang digelar di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Senin (3/8/2026).

Kegiatan itu menjadi bagian dari proses kaderisasi bagi kader yang diproyeksikan maju sebagai caleg. Melalui pelatihan tersebut, kader diharapkan memiliki kompetensi saat menjalankan tugas sebagai anggota legislatif.

Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia mengatakan, pada akhir tahun ini, partainya mulai menginventarisasi daftar bakal caleg. Dengan begitu, pada 2027 Golkar sudah mulai menjalankan kerja-kerja politik. "Konsolidasi diselesaikan semua di tahun 2026," ujarnya.

Baca JugaJokowi Safari Politik ke Lampung Lalu NTT, Apa Misi dan Targetnya?

Menurut Bahlil, memenangkan pemilu bukan semata soal yang pintar mengalahkan yang bodoh atau yang kuat mengalahkan yang lemah.

"Ini persoalannya adalah yang cepat mengalahkan yang lambat. Nah, kita partai harus melakukan koreksi internal. Dan salah satu yang harus kita lakukan, menurut saya, adalah proses pengkaderan, rohnya di sini," ucapnya.

Ia juga mengingatkan, metode kampanye dan strategi politik perlu menyesuaikan perkembangan zaman. Karena itu, perubahan strategi harus diiringi dengan penguatan kualitas kader.

Sekretaris Jenderal Partai Golkar Sarmuji menambahkan, bakal caleg Golkar tidak hanya berasal dari jajaran pengurus partai, tetapi juga organisasi sayap dan berbagai organisasi yang menjadi bagian dari jaringan Partai Golkar. Meski pembagian daerah pemilihan (dapil) untuk Pemilu 2029 belum dilakukan, persiapan kader tetap dimulai sejak dini.

”Ya, untuk turun sejak dini. Sebenarnya kalau pembagian dapil untuk konteks Pemilu 2029 kita belum bagi ya. Kita belum tugaskan para fungsionaris untuk turun ke masing-masing dapil kecuali anggota DPR RI yang bersangkutan," kata Sarmuji.

Proses verifikasi

Sementara itu, Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia mulai menyiapkan proses verifikasi sebagai partai politik peserta Pemilu 2029. Tahapan verifikasi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dijadwalkan berlangsung pada Juli-Desember 2027.

Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta, saat ditemui seusai wawancara khusus dengan Kompas untuk program siniar "Gercep" di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta, Selasa (4/8/2026), mengatakan, partainya meluncurkan Desk Verifikasi Partai Politik (Verpol) guna memastikan kelengkapan administrasi, kepengurusan, hingga kesiapan memenuhi persyaratan verifikasi KPU. Menurut dia, langkah tersebut juga menjadi penanda dimulainya penguatan manajemen partai di seluruh tingkatan.

"Insya Allah dengan kepemimpinan yang solid, kita akan lolos verifikasi partai politik dan menjadi peserta Pemilu 2029. Kita akan menjemput kemenangan pada Pemilu 2029," ujar Anis.

Selain menyiapkan verifikasi, Gelora mulai mempersiapkan bakal caleg yang akan bertarung pada Pemilu 2029.

Baca JugaPartai Baru Bermunculan, Memang Mudah Jadi Peserta Pemilu?

Menyangkut rencana verifikasi parpol, Anis mengusulkan agar prosedurnya disederhanakan. Menurut dia, prosedur yang rumit membuat ongkos politik menjadi sangat besar.

"Kalau kita membuat prosedur yang terlalu banyak ini sama aja kita makan makanan appetizer, pendahuluannya sama makanan sampingannya lebih gede daripada main course-nya," ujarnya.

Ia pun mengingatkan, biaya politik yang tinggi berpotensi melahirkan oligarki politik karena hanya orang-orang yang memiliki sumber daya besar yang mampu menjadi elite politik.

Tidak bisa instan

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia Arifki Chaniago menilai langkah parpol yang sudah mulai memanaskan mesin politik merupakan hal yang wajar. Menurut dia, kontestasi politik tidak dimulai ketika tahapan pemilu dibuka, melainkan jauh sebelumnya.

"Dalam politik, kontestasi tidak dimulai ketika tahapan pemilu dibuka, tetapi jauh sebelumnya. Bahkan, saya menyebut fase ini sebagai pra-musim kompetisi politik menuju Pemilu 2029," ujar Arifki.

Menurut Arifki, setiap partai menghadapi tantangan yang berbeda. Partai besar berfokus memperkuat mesin organisasi, melakukan konsolidasi, dan merekrut figur-figur potensial. Sementara partai yang belum memiliki kursi di parlemen berkonsentrasi memenuhi persyaratan kelembagaan, termasuk menghadapi verifikasi faktual.

"Semua itu membutuhkan waktu dan tidak bisa dilakukan secara instan," katanya.

Ia juga menilai masih adanya ketidakpastian terkait desain sistem pemilu, seperti besaran ambang batas parlemen maupun kemungkinan perubahan regulasi, sehingga membuat partai harus menyiapkan berbagai skenario sejak dini. "Dalam politik, partai yang paling siap beradaptasi biasanya memiliki peluang lebih besar dibandingkan partai yang menunggu kepastian," ujarnya.

Baca Juga”Early Booking” Dukungan Prabowo hingga Anies Jadi Capres, Strategi Partai Baru?

Lebih jauh, Arifki menilai yang diperebutkan saat ini, bukan hanya suara pemilih, melainkan juga modal politik, mulai dari kader terbaik, tokoh publik, jaringan sukarelawan, hingga penguasaan ruang digital dan opini publik. "Karena itu, saya menilai kita sudah memasuki fase perang posisi, yakni periode ketika setiap partai berlomba memperkuat fondasi sebelum memasuki kompetisi elektoral yang sesungguhnya," katanya.

Ia menilai langkah partai yang mulai bergerak sejak sekarang bukanlah kampanye yang terlalu dini, melainkan investasi politik jangka panjang.

"Kemenangan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling kuat saat masa kampanye, tetapi oleh siapa yang paling siap membangun organisasi, kader, dan strategi jauh sebelum pertandingan dimulai," ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cari Tempat Healing Akhir Pekan? TAMAN brightspot 2026 Kembali Hadir di Urban Forest Cipete
• 9 jam laluherstory.co.id
thumb
Destry Damayanti Dijadwalkan Bertemu Presiden pada 5 Agustus, Ada Apa?
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Nyesek! Wika Salim Kenang Masa SMP, Diteriaki Tetangga hingga Dituduh Ngelonte
• 11 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Piala AFF 2026: John Herdman Beberkan Penyebab Timnas Indonesia Kalah 0-3 dari Vietnam
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
4 Bulan Dirawat di Rumah Sakit, Christina Applegate Akhirnya Diperbolehkan Pulang
• 10 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.