Saat Sampah Berkurang, Pemulung Bantargebang Khawatir Kehilangan Nafkah

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

BEKASI, KOMPAS.com - Pemulung di sekitar TPST Bantargebang, Kota Bekasi mengaku mengalami penurunan pendapatan dari hasil memulung sampah.

Meski pembatasan sampah baru dilakukan melalui pengurangan truk sampah akibat longsornya gunungan sampah beberapa bulan lalu, banyak pemulung mulai resah kehilangan mata pencahariannya.

Berkurangnya volume sampah akibat pengurangan itu membuat pendapatan pemulung turun hingga 50 persen dan memicu kekhawatiran ribuan keluarga yang menggantungkan hidup dari sampah.

Pendapatan Turun Sejak Volume Sampah Berkurang

Andi (32), pemulung sekaligus pengelola lapak plastik di wilayah Ciketing Udik, mengatakan penurunan volume sampah sudah terjadi sejak truk pengangkut sampah dikurangi usai longsor TPST Bantargebang.

"Sudah 50 persen penurunannya. Dari jumlah sampah yang masuk ke sini pun sudah 50 persen, sudah tidak seperti dulu," kata Andi kepada Kompas.com di Kampung Ciketing Udik, Bantargebang, Bekasi, Selasa (4/8/2026).

Baca juga: Menelusuri Bantargebang usai Tutup Open Dumping, Tak Ada Aktivitas di Zona Bekas Longsor

Berkurangnya sampah yang masuk membuat pendapatan para pemulung ikut merosot karena bahan yang bisa dipungut semakin sedikit.

Andi menuturkan, sebelum volume sampah berkurang, pemulung di lapaknya rata-rata bisa memperoleh Rp 100.000 hingga Rp 150.000 per hari.

Kini mereka hanya membawa pulang Rp 70.000 hingga Rp 85.000..

"Kalau sekarang cuma Rp 85 ribu atau Rp 70 ribu per harinya. Ada bahkan yang cuma Rp 45 ribu gara-gara volume sampah yang masuk ke sini sudah berkurang," ujar Andi.

Penurunan itu juga berdampak pada usaha pengolahan plastik miliknya yang mempekerjakan warga sekitar.

KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo Pemulung memilah sampah plastik yang dipungut dari TPST Bantargebang di kampung pemulung di sebuah gang Jalan Pangkalan 5, Ciketing Udik, Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/7/2026)

Sebelum kondisi tersebut terjadi, Andi mengaku mampu meraup penghasilan bersih Rp 300.000 hingga Rp 400.000 per hari.

Akibat pemasukan yang menurun, jumlah pekerja di lapaknya pun ikut berkurang.

Jika sebelumnya ia mempekerjakan sekitar 15-20 orang untuk memilah plastik, kini jumlahnya tinggal sekitar 7-8 orang.

Pemulung Khawatir Kehilangan Mata Pencaharian

Kekhawatiran juga dirasakan Nur Kholis (35), pemulung yang telah 15 tahun mencari nafkah di TPST Bantargebang.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia mengatakan, penutupan satu zona saja sudah membuat persaingan memperebutkan barang bekas semakin ketat karena seluruh pemulung berkumpul di area yang lebih sempit.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hakim MK pertanyakan pengawasan pemerintah di layanan penerbangan
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Mengenal Kehidupan Hanna Sukmaningsih, Anak Kasino Warkop yang Jarang Tersorot
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Utang Warga di PayLater Bank Capai Rp 30,71 T hingga Juni 2026, Naik 33,54%
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Asprindo Dorong Generasi Muda Bangun Usaha Sejak Bangku Sekolah
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
Ruben Onsu Buka Suara soal Tudingan Selingkuh dari Sarwendah
• 9 jam laluintipseleb.com
Berhasil disimpan.