AI Jadi Tempat Curhat Anak Muda, Psikolog: Mereka Mencari Ruang Aman Tanpa Penghakiman

kompas.com
16 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah kehidupan yang semakin cepat, sebagian anak muda dan pekerja urban kini mulai menemukan ruang baru untuk mencurahkan isi hati.

Bukan hanya kepada teman, keluarga, atau tenaga profesional, tetapi juga kepada teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Percakapan dengan AI yang awalnya banyak digunakan untuk membantu pekerjaan, mencari informasi, hingga menyelesaikan persoalan sehari-hari, kini berkembang menjadi tempat berbagi cerita personal.

Mulai dari tekanan pekerjaan, masalah hubungan, rasa kesepian, hingga kecemasan yang sulit disampaikan kepada orang lain.

Psikolog klinis senior sekaligus Direktur Personal Growth dan anggota Tim Ahli Kelompok Kerja Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan, Ratih Ibrahim, memahami fenomena tersebut sebagai tren baru dalam cara masyarakat mencari ruang aman untuk bercerita.

"Saya sangat mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Ada sebuah tren baru, curhat ke AI, terutama di kalangan anak muda," ujar Ratih saat dihubungi Kompas.com, Selasa (4/8/2026).

Baca juga: Kalau Cerita ke Orang Kadang Takut Disebarkan Kala Anak Muda Lebih Pilih Curhat ke AI

Menurut Ratih, ada beberapa alasan yang membuat seseorang merasa lebih nyaman berbagi cerita kepada AI dibandingkan kepada orang terdekat maupun tenaga profesional.

Salah satu faktor utamanya adalah anggapan bahwa AI tidak memberikan penghakiman atau penilaian terhadap cerita yang disampaikan penggunanya.

"Pertama, AI tidak menghakimi. Dia kan menerima saja semua keluhan, curhat, narasi apapun yang disampaikan kepadanya. AI tidak punya perasaan, meskipun kesannya empatik," kata Ratih.

Ia menjelaskan, banyak orang masih memiliki kekhawatiran ketika ingin menceritakan masalah pribadi kepada orang lain.

Mereka takut dianggap lemah, terlalu berlebihan, atau justru menjadi beban bagi orang yang mendengarkan.

Kekhawatiran tersebut membuat sebagian orang memilih AI karena merasa lebih aman.

Sebab, AI tidak menunjukkan ekspresi penolakan maupun kritik secara langsung.

"Banyak orang khawatir ketika ia curhat, ia akan dianggap lemah, dramatis, atau menjadi beban bagi orang yang kepadanya ia bercerita. AI kan bukan orang. Karenanya ada rasa aman meskipun semu, karena AI tidak memberikan ekspresi penolakan atau kritik," tutur Ratih.

Selain faktor rasa aman, kemudahan akses juga menjadi alasan lain seseorang memilih AI sebagai tempat bercerita.

Di tengah rutinitas masyarakat urban yang padat, tidak semua orang memiliki waktu untuk mencari seseorang yang siap mendengarkan cerita mereka.

Baca juga: Saya Sampai Nangis Saat Curhat ke AI Cerita Pekerja Muda Mencari Pendengar Tanpa Menghakimi

Sementara AI dapat digunakan kapan saja tanpa perlu menyesuaikan waktu dengan orang lain.

Ia mengatakan, seseorang dapat "bercerita" kapan saja tanpa harus menunggu orang lain memiliki waktu luang.

Selain itu, penggunaan AI juga memberikan rasa anonimitas dan kendali kepada penggunanya.

Seseorang dapat menentukan sendiri informasi apa yang ingin dibagikan tanpa khawatir cerita tersebut diketahui oleh lingkungan terdekat.

Menurut dia, kondisi tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari masih adanya stigma di masyarakat terhadap layanan kesehatan mental.

Tidak sedikit orang yang masih merasa takut atau ragu berkonsultasi dengan psikolog karena khawatir mendapatkan label tertentu dari lingkungan.

Akibatnya, AI sering kali menjadi langkah awal yang terasa lebih mudah sebelum seseorang benar-benar mencari bantuan profesional.

Namun, Ratih mengingatkan bahwa AI tetap memiliki keterbatasan.

Teknologi tersebut tidak dapat menggantikan hubungan interpersonal yang hangat antara manusia.

"Meskipun demikian kita tetap perlu paham bahwa AI tidak mampu menggantikan hubungan interpersonal yang hangat," ujar Ratih.

Dalam psikologi, kata dia, proses penyembuhan seseorang tidak hanya membutuhkan solusi atau jawaban, tetapi juga hubungan yang melibatkan empati nyata dan pemahaman terhadap konteks kehidupan seseorang.

Meskipun memiliki keterbatasan, Ratih menilai AI tetap dapat memberikan manfaat apabila digunakan secara tepat.

Baca juga: Dinkes DKI: AI Bukan Pengganti Psikolog dan Psikater untuk Curhat

AI dapat menjadi alat bantu untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk membantu seseorang memahami kondisi emosinya.

Menurut dia, AI dapat digunakan untuk membantu seseorang mengenali emosi yang sedang dirasakan, membuat jurnal emosi, hingga melakukan latihan relaksasi ringan.

Selain itu, AI juga dapat membantu seseorang melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang maupun mengingatkan strategi coping atau cara menghadapi tekanan secara lebih sehat.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Dengan kata lain, AI dapat digunakan sebagai pendamping untuk meningkatkan kesadaran diri atau self-awareness serta mendukung proses self-help.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Koo Kyo Hwan Tampil Nyentrik di Poster Film Baru Revival Man: The Red
• 21 jam lalubeautynesia.id
thumb
728.842 Warga Telah Aktivasi IKD, Pemkot Jakbar Diganjar Penghargaan
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Kebun Harmoni Turut Bangkitkan Harapan Baru Warga di Huntara Aceh Tamiang
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
Rizky Billar Ungkap Adanya Dugaan Penggelapan Dana Rp3,1 Miliar oleh Orang Terdekat
• 4 jam lalugrid.id
thumb
Kemenhub Dorong Super Apps Transportasi Nasional, Integrasikan Data-Layanan
• 16 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.