New York: Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Selasa waktu setempat. Investor kini mencermati pasar valuta asing dan menanti rangkaian data ketenagakerjaan AS.
Mengutip Xinhua, Rabu, 5 Agustus 2026, indeks dolar yang mengukur nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,04 persen menjadi 99,858.
Pada penutupan perdagangan di New York, euro naik menjadi USD1,1533 dari USD1,1514 pada sesi sebelumnya. Poundsterling Inggris naik menjadi USD1,3452 dari USD1,3431 pada sesi sebelumnya.
Dolar AS dibeli seharga 157,66 yen Jepang, lebih tinggi dari 156,74 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS melemah menjadi 0,8092 franc Swiss dari 0,8101 franc Swiss.
Mata uang Negeri Paman Sam itu juga naik menjadi 1,4066 dolar Kanada dari 1,4045 dolar Kanada. Dolar AS melemah menjadi 9,5192 krona Swedia dari 9,5557 krona Swedia.
Baca Juga :
Dolar AS Melemah, Pasar Cermati Sinyal Berbeda dari AS dan IranSelain mencermati pasar valuta asing, investor juga menunggu rangkaian data ketenagakerjaan AS yang menjadi acuan bagi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan jumlah lowongan pekerjaan (JOLTS) pada Juni mencapai 7,359 juta, lebih rendah dibandingkan proyeksi pasar sebesar 7,454 juta. Data Mei juga direvisi turun menjadi 7,537 juta dari sebelumnya 7,594 juta.
Meski demikian, pasar tenaga kerja AS dinilai masih cukup kuat karena tingkat perekrutan maupun pemutusan hubungan kerja (PHK) relatif stabil.
Kondisi tersebut memperkuat pandangan, fokus utama The Fed saat ini tetap pada pengendalian inflasi, sementara pasar tenaga kerja masih berada dalam kondisi yang sehat.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati laporan nonfarm payrolls Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada Jumat sebagai indikator utama kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan suku bunga The Fed.
(Dolar AS. Foto: Freepik)
Harga minyak turun redam tekanan inflasi
Di sisi lain, harga minyak dunia kembali melemah untuk hari kedua berturut-turut setelah muncul optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan diplomatik antara AS dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober turun sekitar enam persen menjadi USD78,72 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) pengiriman September terkoreksi 5,8 persen ke level USD75,65 per barel.
Penurunan harga energi diperkirakan dapat membantu meredakan tekanan inflasi global. Namun, pelaku pasar masih menunggu kepastian hasil negosiasi kedua negara sebelum mengambil posisi lebih lanjut di pasar keuangan.




