SURABAYA, KOMPAS - Jumlah guru besar amat penting bagi reputasi dan kelangsungan perguruan tinggi swasta di Surabaya, Jawa Timur. Untuk itu, kampus privat perlu terus mengajukan dan mengukuhkan mahaguru baru dengan tetap memenuhi tridarma perguruan tinggi.
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya mengukuhkan tiga guru besar baru pada Rabu (5/8/2026). Ketiganya adalah Ignatius Srianta untuk kepakaran mikrobiologi pangan, Dian Retno Sari Dewi untuk kepakaran teknik rantai pasok (supply chain engineering), dan Lannie Hadisoewignyo untuk kepakaran teknologi farmasi sediaan solida.
Dengan pengukuhan itu, UKWMS yang terdiri dari 10 fakultas dengan 40 program studi diploma 3, sarjana, profesi, dan pascasarjana telah memiliki 38 guru besar. Kampus swasta sejak 20 September 1960 ini berambisi menambah 15 mahaguru lagi dalam dua tahun mendatang.
”Kami berharap pengukuhan guru besar memastikan kontribusi nyata bagi masyarakat sesuai tridarma perguruan tinggi,” ujar Rektor UKWMS Sumi Wijaya. Peningkatan dan keberadaan mahaguru diharapkan menjamin reputasi dan kelangsungan kampus swasta dalam perjalanan perkembangan perguruan tinggi nasional.
Menurut Sumi, guru besar ialah nyawa kampus untuk pengajaran, penelitian, dan pengabdian. Reputasi dan integritas kampus dipertaruhkan terutama dari kontribusi pengajar termasuk guru besar dalam pemajuan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM) untuk peradaban masyarakat.
Sumi menyadari, kampus swasta amat sulit mengejar ketertinggalan dari kampus negeri terkemuka termasuk dalam pengukuhan guru besar. Apalagi PTN mendapat privilege dan atensi dari pemerintah. Selain itu, publik masih memandang kampus negeri jauh lebih baik daripada privat.
”Maka, bagi kami, keberadaan guru besar yang berkontribusi dan berdampak positif bagi kehidupan masyarakat akan memelihara reputasi dan ketertarikan publik untuk kuliah di sini,” kata Sumi.
Pada April 2026, Universitas Ciputra mengukuhkan tiga mahaguru baru. Ketiganya ialah Astrid untuk kepakaran ilmu desain dan perilaku, Trianggoro Wiradinata untuk kepakaran kecerdasan bisnis, dan Adi Suryaputra Paramita untuk kepakaran sains data. Dengan demikian, UC yang didirikan pada 7 Februari 1990 telah memiliki 19 mahaguru.
Menurut Rektor UC Wirawan ED Radianto, pengukuhan mahaguru bukan sekadar pencapaian akademik kampus dan pribadi dosen. Guru besar diharapkan memperkuat peran kampus agar tetap relevan dengan tantangan zaman.
”Kami ingin memastikan teknologi, data, dan pemahaman manusia berjalan sebagai satu kesatuan untuk menghasilkan solusi nyata,” ujar Wirawan, guru besar kewirausahaan. Mahaguru harus terus menghasilkan riset unggul yang sekaligus dapat diaplikasikan dan bermanfaat nyata bagi pemajuan peradaban masyarakat.
Wirawan melanjutkan, keberadaan mahaguru penting untuk pembentukan generasi pemimpin masa depan melalui kampus. Guru besar juga inspirasi dan motor penggerak perubahan dari kampus yang berdampak luas.
Pada Februari 2026, Universitas Surabaya (Ubaya) mengukuhkan 10 guru besar. Dengan penambahan menjelang Dies Natalis ke-58 itu, Ubaya telah memiliki 36 guru besar. Kampus swasta yang berdiri sejak 11 Maret 1966 ini berambisi menambah mahaguru menjadi 55 orang sampai 2027.
Menurut Rektor Ubaya Benny Lianto, penambahan mahaguru yang signifikan akan memacu ekosistem riset dan inovasi kampus. ”Semakin memperkuat strategi sebagai kampus yang mengedepankan inovasi berbasis riset,” katanya.
Kesepuluh mahaguru itu ialah Go Lisanawati dengan ranting ilmu hukum antipencucian uang dan pendanaan terorisme, Felizia Arni Rudiawarni dengan ranting ilmu market-based accounting research, Werner Ria Murhadi dengan ranting ilmu manajemen keuangan dan investasi, Rika Yulia dengan ranting ilmu biomedis klinis, dan Oeke Yunita dengan ranting ilmu karakterisasi herbal.
Selain itu, Kartini dengan ranting ilmu teknologi fitofarmasi, Amelia Lorensia, dengan ranting ilmu farmasi klinis komunitas penyakit pernafasan, Joko Siswantoro dengan ranting ilmu machine learning, Lisana dengan ranting ilmu adopsi teknologi di pendidikan, dan Sulistyo Emantoko Dwi Putra dengan ranting ilmu bioteknologi.
Benny mengatakan, kampus yang memiliki banyak guru besar akan meningkatkan kapasitas ilmiah, kolaborasi riset, dan penghiliran inovasi. ”Mereka perlu terus mendorong penelitian unggul, kolaborasi dengan industri yang lebih luas, dan solusi inovatif yang berdampak bagi kehidupan bangsa,” ujarnya.
Untuk kampus swasta lainnya di Surabaya, Universitas Kristen Petra telah memiliki 17 guru besar. Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) telah mengukuhkan 32 mahaguru. Universitas Dr Soetomo (Unitomo) telah memiliki 24 guru besar. Universitas Hang Tuah (UHT) telah mengukuhkan 28 mahaguru.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VII Dyah Sawitri pernah mengatakan, kampus swasta perlu terus meningkatkan reputasi dan keunggulan. Yang terutama ialah mendorong peningkatan jumlah guru besar.
”Peran guru besar itu strategis bagi pemajuan kampus,” ujar Sawitri, guru besar ilmu ekonomi dan mantan Rektor Universitas Gajayana Malang.
Jika dibandingkan dengan kampus negeri terkemuka di Surabaya, swasta memang masih tertinggal jauh. Universitas Airlangga telah mengukuhkan lebih dari 370 mahaguru. Institut Teknologi Sepuluh Nopember telah memiliki lebih dari 255 guru besar. Universitas Negeri Surabaya sudah punya lebih dari 153 mahaguru.





