Pemerintah Genjot Jaringan Gas Rumah Tangga demi Pangkas Ketergantungan LPG

tvonenews.com
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com – Pemerintah mempercepat pengembangan jaringan gas (jargas) rumah tangga sebagai strategi besar untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang masih sangat tinggi.

Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI M. Qodari menegaskan program jargas bukan sekadar proyek penyediaan infrastruktur energi, tetapi menjadi solusi atas persoalan struktural tingginya impor LPG akibat keterbatasan produksi dalam negeri.

Menurut Qodari, kebutuhan LPG nasional untuk memasak mencapai sekitar lima juta metrik ton setiap tahun.

Namun, kemampuan produksi domestik baru mencapai sekitar 1,4 juta ton sehingga sebagian besar kebutuhan masih harus dipenuhi melalui impor.

“Teman-teman untuk diketahui bahwa kebutuhan gas kita untuk memasak itu satu tahun lima juta metrik ton, tetapi produksi dalam negeri adalah 1,4 juta ton ya kalau ini kita bicara LPG. Artinya, yang bisa diproduksi hanya sekitar 30 persen kurang, dan karena itu sisanya diimpor,” ujar Qodari dalam konferensi pers di Kantor Bakom, Jakarta Pusat, Rabu (5/8/2026).

Ia menjelaskan jaringan gas rumah tangga memanfaatkan gas bumi yang berbeda dengan LPG.

Jika LPG tersusun dari propana dan butana, jargas menggunakan gas bumi berupa metana dan etana yang cadangannya jauh lebih melimpah di Indonesia.

“Nah, LPG itu materinya berbeda dengan jargas, karena jargas ini adalah gas bumi. Gas bumi ini adalah metana dan etana, sementara LPG adalah propana dan butana,” kata dia.

Qodari menilai kondisi tersebut menjadi alasan kuat pemerintah mengalihkan pemanfaatan energi rumah tangga ke gas bumi karena sumber dayanya lebih tersedia di dalam negeri.

“Memang ketersediaan dalam negeri kita, potensi alam kita itu untuk gas alam ya, metana dan etana ini jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan LPG. Mungkin sekitar tiga per empat dari ketersediaan gas di Indonesia adalah kategori gas bumi atau metana dan etana, sehingga sebetulnya memang yang potensial itu adalah metana dan etana,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui pengembangan gas bumi masih menghadapi tantangan utama pada aspek distribusi.

Karena itu, pembangunan jaringan gas menjadi instrumen penting agar pasokan gas bumi dapat langsung dinikmati masyarakat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gempa M 5,6 guncang barat laut Halmahera Barat, tak berpotensi tsunami
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Menjelang HUT ke-81 RI, Ternyata Ada Peran Laksamana Maeda di Masa Lalu untuk Membantu Kemerdekaan Indonesia
• 11 jam lalugrid.id
thumb
Endrick yang Baru Kembali ke Real Madrid Minta Pindah Klub
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Artificial Intelligence dalam Penegakan Hukum: Siapa yang Bertanggung Jawab?
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Dari Oxford hingga Masjid: Jejak Ilmu Islam dalam Peradaban Inggris
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.