Haji Mabrur Dimulai dari Ruang Manasik

harianfajar
4 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Muliaty Mastura Yusuf (Peserta Sertifikasi Ibadah Haji dan Umrah Angkatan IV Kementerian Haji dan Umrah Sulsel)

Kerinduan melaksanakan ibadah haji dan umrah, bukan sebatas kerinduan di permukaan. Tapi, kerinduan itu karena benar-benar telah mendapat panggilan dari Yang Maha Kuasa. Banyak cerita dan kisah tentang orang-orang yang pergi haji, yang tidak disangka-sangka dan diduga-duga. Dari kisah-kisah mereka, salah satu penyebab ikhtiar berhaji itu lahir.

Ada masyarakat dari segi finansial cukup, tetapi belum daftar haji. Ada yang rela menyisihkan hasil jualannya sepuluh atau dua puluh ribu rupiah per hari.Tidak sedikit dari jemaah haji kita kalangan menengah ke bawah tapi mampu menunjukkan ke publik bahwa untuk menyempurnakan rukun Islam kelima, bukan hanya kalangan kelas kaya dan mapan. Kisah mereka baru kita ketahui di setiap musim haji tiba. Kisah itu bikin merinding.

Pelaksanaan haji tahun 2026, patut kita apresiasi positif. Sebab, di tangan kementerian baru ini, tata kelola dan manajemen haji menjadi baik, termasuk bagian Media Centre Haji (MCH). Para petugas haji bekerja maksimal dengan dedikasi tinggi. Mereka petugas haji, menghadapi jumlah jemaah haji kita tertinggi di dunia, 221.000 jemaah.

Tercatat, Indonesia peringkat tertinggi dunia menyusul Pakistan dan India. Kuota haji reguler kita sebanyak 203.320 (92 ℅). Haji khusus 17.680 (8 ℅). 1.050 Petugas Haji Daerah (PHD) dan 685 pembimbing Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU). Untuk Sulawesi Selatan, berada pada posisi ke-4 terbesar setelah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Motivasi Haji dan Panggilan Allah

Tingginya motivasi berhaji di Indonesia lantaran mayoritas penduduknya muslim dan berpijak pada seruan Alquran Surat Al Hajj ayat 27:
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji…”

Melaksanakan Haji adalah menyempurnakan
rukun Islam ke-5: Bagi yang mampu, haji wajib sekali seumur hidup. Jadi ada rasa “hutang” ke Allah kalau belum lunas. Selain itu keinginan berhaji menggebu-gebu karena adanya janji pahala besar. Haji mabrur balasannya surga. Dosa diampuni seperti bayi baru lahir. Ini bikin rindu, serindu-rindunya. Dan banyak lagi kisah-kisah mengapa harus berhaji. Di antaranya, rasanya tidak sreg kita selalu dipanggil pak Haji dan bu hajjah, padahal kita ini belum haji.

Ada yang memberikan air zamzam dan ole-ole lainnya dari tanah suci, menjadi sugesti yang kuat seraya berdoa, semoga kiriman air zamzam ini, bisa juga mengantar ke Mekah.

Antusias masyarakat Indonesia dan Sulsel khususnya menjadikan daftar panjang antrean haji. Inilah nasib calon jemaah haji reguler. Ada provinsi dengan daftar antrean 20 hingga 35 tahun.

Tetapi, animo masyarakat tetap tinggi, sambil menunggu mukjizat. Siapa tau ada regulasi-regulasi baru, Arab Saudi memberikan kuota jamaah Indonesia lebih banyak lagi di tahun 2027, sehingga antrean, terutama lanjut usia (lansia) dapat segera terobati dan mencium aroma Masjidil Haram serta Masjid Nabawi.

Mengapa Pembimbingan Haji Sangat Urgen?
Di tengah membludaknya daftar tunggu jadwal pemberangkatan haji, maka pembimbingan menjadi hal urgen. Jemaah yang dari segi kuantitas tinggi tapi tidak dibarengi dengan pembimbingan maksimal dan profesional, dapat menyebabkan terjadinya kekeliruan dalam beribadah.

Kita patut mengapresiasi keteguhan negara dalam meningkatkan tata kelola haji. Memberikan kemudahan dalam hal pendaftaran haji secara online. Fasilitas-fasilitas yang dinikmati pun kian ditingkatkan dan memperbanyak jumlah petugas haji demi kenyamanan dan keamanan jemaah.

Maka sugesti beribadah haji itu lebih pada kesadaran atas kekuatan iman yang kita miliki, karena mata melihat orang lain sudah haji dan tangan karena adanya fasilitas negara. Istilahnya, iman tanpa fasilitas menyebabkan susah berangkat
dan fasilitas tanpa iman menyebabkan berangkat tapi riya’.

Maka pembuktian haji
dimulai dari pembimbingan.
Kita tidak dapat menafikan bahwa tidak semua orang yang berangkat paham bagaimana menunaikannya dengan benar. Di sinilah pentingnya pembimbingan.

Bayangkan, jutaan orang dari berbagai negara, bahasa, dan budaya berkumpul di tempat yang sama. Tanpa arahan, mudah terjadi kebingungan, bahkan kesalahan dalam ibadah. Padahal haji yang diterima adalah haji yang sesuai tuntunan Nabi.

Melaksanakan ibadah haji bukan semata wisata religi dan pembimbingan haji bukan sekadar “pelatihan”. Ia adalah bekal. Di manasik, calon jemaah diajarkan rukun, wajib, sunnah haji, doa-doa, hingga manajemen fisik dan mental. Petugas juga mengingatkan tentang kesehatan, etika, dan cara menjaga kekhusyukan di tengah keramaian.

Lebih dari itu, pembimbing menjadi penenang. Saat jemaah lelah, tersesat, atau sakit, merekalah yang menuntun. Tanpa pembimbingan yang baik, niat baik bisa sia-sia karena tidak sesuai syariat.

Negara sudah memfasilitasi. Sekarang tinggal kita sebagai calon jemaah yang serius belajar. Karena haji mabrur tidak lahir dari keberangkatan saja, tapi dari ilmu dan persiapan.

Jadi jangan berangkat sebelum
lulus pembimbingan. Sebab, pembimbing haji adalah kompas di tengah dua juta jemaah. Tanpa Kompas, orang yang pengalaman berhaji pun bisa tersesat.

Sedikitnya ada empat kompas yang patut diketahui.
Pertama, kompas Ilmu: menuntun ibadah sesuai sunnah.

Ini fungsi utama pembimbing dengan memberikan edukasi sebagai berikut:
Sebelum berangkat, mengajarkan manasik. Mulai dari niat, tawaf, sa’i, wukuf, mabit, lempar jumrah. Diberikan simulasi. Dijelaskan mana rukun, mana wajib, mana sunnah.

Ketika berada di Tanah Suci, mengingatkan urutan ibadah. “Hari ini wukuf, besok mabit di Muzdalifah”. Mengoreksi kesalahan kecil yang fatal. Contoh: salah niat umrah, atau wukuf kurang dari batas waktu. Tujuannya agar haji kita sah dan mabrur. Karena satu kesalahan kecil bisa menggugurkan pahala besar.

Tanpa ilmu, niat baik bisa melenceng. Pembimbing memastikan kita ibadah sesuai tuntunan Nabi, bukan ikut-ikutan orang.

Kedua, kompas manajemen: menuntun tubuh dan logistik.
Haji itu 40% ibadah, 60% manajemen diri. Pada poin ini, pembimbing menjelaskan tentang jadwal dan rute: mengatur kapan berangkat ke Masjidil Haram, lewat pintu mana, pulang jam berapa biar tidak kejebak macet manusia.
Kesehatan: mengingatkan minum, istirahat, bawa obat. Saat di Arafah-Muzdalifah-Mina, pembimbing yang pastikan jemaah tidak dehidrasi dan tidak terpisah rombongan.

Logistik: mengatur pembagian makan, koper, gelang identitas. Saat puncak haji, pembimbing jadi “koordinator lapangan”.

Di tengah dua juta orang, satu detik lengah bisa hilang. Pembimbing yang pegang daftar nama dan titik kumpul.

Ketiga, kompas hati yang menuntun mental dan spiritual.
Ini yang sering dilupakan.
Pembimbing memberikan ramuan mental dan spiritual seperti penjernih pikiran. Jemaah pasti capek, rewel, berantem dengan teman sekamar; sudah mau naik pesawat tiba-tiba bleng minta pulang karena tidak ada yang mengurus ternak ayam di kampung, maka pembimbing jadi penengah. Mengingatkan: “Kita ke sini bukan buat marah, tapi buat sabar”.

Pembimbing juga sebagai penenang: ketika ada jemaah panik tersesat, sakit, atau kehilangan paspor. Pembimbing yang menenangkan sambil cari solusi ke petugas Saudi.
Pembimbing sebagai penyemangat. Penyemangat: di Arafah banyak yang nangis. Di Mina banyak yang mengeluh. Pembimbing mengingatkan kembali tujuan awal: “Ini sekali seumur hidup. Khusyuk ya”.

Keempat, kompas bahasa dan budaya: Jembatan dengan dunia. Menjadi penerjemah saat berhadapan dengan petugas Saudi; menjelaskan budaya lokal agar jemaah tidak melanggar aturan dan menjaga nama baik Indonesia di mata dunia. Intinya adalah haji tanpa pembimbing ibarat berlayar tanpa nahkoda di tengah samudra manusia.

Pembimbing bukan menggantikan usaha kita. Tapi dia memastikan setiap langkah kita tidak sia-sia.

Bila negara telah menyiapkan pembimbing terbaik, maka tugas kita adalah mendengarkan secara seksama, mencatat dan menaatinya.
Karena haji mabrur tidak diawali ketika sampai di tanah suci. Tapi dimulai dari ruang manasik di kampung kita.

Bagaimana Kementerian Haji dan Umrah mengatasi masalah antrean?

Seperti dijelaskan sebelumnya, antrean jemaah haji meningkat dari tahun ke tahun. Pendaftar setiap hari ada dan terus-menerus tak pernah redup.

Hal paling mungkin dilakukan adalah:
Pertama, optimalisasi kuota. Negosiasi tiap tahun dengan Arab Saudi untuk tambahan kuota 2025-2026 Indonesia dapat tambahan 20.000 kuota.
Kedua, haji khusus / ONH Plus: jalur dengan kuota terpisah, masa tunggu lima hingga tujuh tahun. Biaya lebih tinggi tapi fasilitas berbeda.

Ketiga, digitalisasi pendaftaran: Sistem SISKOHAT online biar transparan. Jamaah bisa cek porsi antrean lewat aplikasi.
Keempat, edukasi Haji Mabrur. Kampanye agar yang sudah mampu secara ekonomi tidak menunda daftar, tapi juga tidak menumpuk di usia tua
Kelima, wacana haji furoda dan skema multi-year: menambah opsi keberangkatan tanpa mengurangi kuota reguler. Atau meniadakan haji furoda dan menambah kuota reguler.

Tantangannya adalah kuota dari Saudi belum bisa dinaikkan drastis karena kapasitas di Makkah, Mina, Arafah terbatas. Meski antrean panjang masih tetap mengular, tapi teruslah berikhtiar untuk sampai ke sana.

Semoga calon jemaah haji dapat memahami semua rangkaian ibadah secara terstruktur dan runtut berkat pembimbingan haji yang masif. Sehingga predikat haji mabrur benar-benar diperoleh dari ruang manasik di wilayah kita.
(*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BMKG Ungkap Penyebab El Nino 2026 Datang Lebih Cepat dan Berpotensi Sangat Kuat
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Hujan Deras Guyur Jakarta Usai Berminggu-minggu Kering
• 23 jam laludetik.com
thumb
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 5 Motor Harley Bekas dari China
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
KPK Buka Peluang Periksa Pihak Lain Terkait Kasus Bupati Rejang Lebong
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Industri kripto diharapkan beradaptasi dengan "quantum computing"
• 9 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.