Seorang perempuan berinisial W (30) tewas dengan luka tembak di kepala di kamar mandi yang ada di dalam sebuah kamar di Medan, Sumatera Utara. Mantan suaminya, polisi berinisial Brigadir IH (30) berada di dalam kamar bersama dua anaknya saat kejadian. Polisi mengatakan barang bukti mengarah pada bunuh diri. Namun, penyelidikan mendalam masih dilakukan. Keterangan dua anaknya juga menentukan.
Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Medan Komisaris Besar Jean Calvijn Simanjuntak, Selasa (4/8/2026) malam, mengatakan penyelidikan telah dilakukan dengan melakukan otopsi jenazah korban, pemeriksaan laboratorium forensik, identifikasi oleh Inafis (sistem basis data sidik jari), dan memeriksa sejumlah saksi kunci.
“Telah terjadi dugaan insiden bunuh diri. Proses masih berjalan. Para penyidik masih melakukan penyelidikan lanjutan. Semoga bisa dilakukan dengan baik dan cermat,” kata Calvijn.
Kematian W dilaporkan oleh IH ke Polrestabes Medan pada Minggu (2/8/2026). W ditemukan tewas di kamar mandi kamarnya, yang berada di perumahan Bumi Asri, Medan. Polisi menemukan satu luka tembak di kepala W.
Calvijn menyebut, tembakan itu berasal dari senjata jenis revolver yang merupakan senjata resmi Polri yang digunakan IH. IH adalah penyidik di Unit Reserse Kriminal di Kepolisian Sektor Sunggal yang dibawahi oleh Polrestabes Medan.
Saat terjadi tembakan, kata Calvijn, ada lima orang di dalam rumah selain W. Mereka adalah IH, anak IH dan W berinisial M (9), adik dari M, salah seorang anggota keluarga IH, dan seorang pengasuh.
IH dan W sudah bercerai sejak 2021. W juga sudah tinggal di Jakarta sejak mereka bercerai. “Dua bulan yang lalu, W bersama anaknya, M, datang ke Medan,” kata Calvijn.
Selama di Medan, W tinggal di rumah IH. Dia melakukan beberapa aktivitas seperti melayani tamu dan lain sebagainya. Berdasarkan pengakuan IH kepada penyidik, kata Calvijn, IH bersama W dan dua anaknya berada di dalam kamar tidur pada Minggu (2/8/2026).
IH lalu keluar sebentar dari kamar. Namun, saat kembali ke kamar, dia hanya menemukan dua anaknya saja di ruang tidur. Dia lalu memeriksa kamar mandi yang terkunci dari dalam. IH lalu melihat tasnya yang berada di kamar sudah terbuka.
Setelah diperiksa, senjata revolver yang sebelumnya ada di dalam tas tidak ada lagi. IH lalu mencoba mengetuk pintu kamar mandi dan berkomunikasi dengan W untuk mencegah bunuh diri.
Menurut pengakuan IH, saat itu dia masih bisa berkomunikasi dan mendengar suara W. IH berupaya membujuk W agar keluar dari kamar mandi dan tidak melakukan penembakan atau bunuh diri. “Terakhir ada ucapan dari korban, ‘maafkan saya’. Setelah ucapan itu, dari kamar mandi terdengar suara letusan satu kali,” kata Calvijn.
Calvijn menyebut, mereka melakukan penyelidikan untuk mendalami kebenaran dari pengakuan IH tersebut. Salah satu yang paling penting adalah tes usap residu penembakan. Pemeriksaan ini dilakukan dengan alat usap kapas khusus untuk memeriksa sisa partikel mesiu dari tangan, kulit, dan pakaian seseorang untuk memastikan keterlibatan dalam peristiwa penembakan.
Tes usap ini dilakukan dua kali yakni oleh tim dari Labfor Polda Sumut dan juga Inafis Polrestabes Medan. Pengujian ini dilakukan terhadap IH dan W.
“Di tubuh dan pakaian saksi IH tidak ditemukan sisa residu. Sementara, di jari tangan, badan, dan baju milik korban ditemukan sisa residu mesiu,” kata Calvijn. Tes usap residu penembakan yang dilakukan oleh Labfor maupun Inafis hasilnya sama.
Calvijn menyebut, dokter forensik juga melakukan otopsi terhadap jenazah korban. Mereka menemukan satu luka tembak di bagian kepala. Dokter tidak menemukan bekas kekerasan baik dengan benda tajam maupun benda tumpul.
Penyelidikan penyebab kematian W, kata Calvijn, juga dilakukan dengan pemeriksaan saksi utama yang berada di kamar selain IH, yakni anaknya M dan adiknya. Polisi masih melakukan pemeriksaan awal karena keluarga mereka masih berduka.
Berdasarkan pemeriksaan awal, kata Calvijn, keterangan dari M sejauh ini berkesesuaian dengan penjelasan IH, khususnya soal komunikasi IH dengan W serta suara letusan dari kamar mandi. Namun, pemeriksaan lebih mendalam masih akan dilakukan untuk memastikan urutan kronologi. Pemeriksaan juga harus dilakukan lebih hati-hati mengingat M masih berusia 9 tahun.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polretabes Medan Ajun Komisaris Besar Adrian Risky Lubis mengatakan, penyelidikan lebih lanjut masih terus dilakukan untuk mendalami kasus tersebut.
Sementara itu, pihak keluarga akan memberikan keterangan tentang kematian W setelah proses otopsi dan pemakaman selesai.





