Probolinggo (beritajatim.com) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih terus menjadi ancaman serius. Sejak pertama kali muncul pada Senin (3/8/2026), kobaran api belum sepenuhnya berhasil dikendalikan dan terus membakar area padang savana yang berada di wilayah Kabupaten Probolinggo, Lumajang, hingga Malang.
Kebakaran yang melanda kawasan konservasi ini tidak hanya menyebabkan kerusakan pada tutupan vegetasi, tetapi juga mengancam keberlangsungan satwa liar yang menjadikan kawasan savana Bromo sebagai habitat alami.
Sejumlah satwa endemik diduga terdampak akibat kebakaran yang meluas. Bahkan, satwa yang masih dalam fase berkembang biak seperti anakan burung dan telur yang berada di sarang disebut turut menjadi korban karena tidak mampu menyelamatkan diri dari cepatnya pergerakan api.
Subur, warga Ranupane yang ikut terlibat dalam upaya pemadaman bersama sejumlah pihak, mengungkapkan bahwa dampak kebakaran tidak hanya terlihat dari luasnya lahan yang terbakar, tetapi juga dari hilangnya tempat hidup berbagai jenis satwa.
“Yang terbakar bukan hanya rumput atau pepohonan saja. Banyak burung kecil yang masih anakan belum bisa terbang, termasuk telur-telurnya, ikut terbakar. Kalau burung yang sudah dewasa mungkin masih bisa menyelamatkan diri karena dapat terbang menjauh,” kata Subur, Rabu (5/8/2026) sore.
Ia menyebut, kawasan padang savana dan Bukit Teletubbies merupakan salah satu habitat bagi berbagai jenis satwa endemik. Kebakaran yang berlangsung cukup lama berpotensi mengganggu rantai ekosistem apabila tidak segera dihentikan.
Subur menduga kondisi cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyebaran api. Musim kemarau yang membuat vegetasi mengering ditambah hembusan angin kencang menyebabkan api mudah menjalar ke area yang lebih luas.
“Rumput dan kayu-kayu yang kering sangat mudah terbakar. Gesekan antarbagian pohon yang kering juga bisa memunculkan percikan api,” ungkapnya.
Saat ini, upaya pemadaman masih dilakukan oleh tim gabungan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari petugas TNBTS, TNI, Polri, BPBD, relawan, hingga masyarakat sekitar. Namun, kondisi medan yang sulit serta perubahan arah angin menjadi kendala dalam proses pemadaman. (rap/but)



