PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) mulai mengembangkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan layanan purnajual kendaraan niaga Fuso.
Teknologi tersebut dipersiapkan agar potensi kerusakan truk bisa diprediksi lebih awal, sehingga perbaikan dapat dilakukan sebelum kendaraan mengalami mogok di tengah operasional.
Pengembangannya merupakan tahap lanjutan dari sistem telematika Runner yang sudah diperkenalkan Fuso sejak 2018. Selama ini, Runner berfungsi mengumpulkan berbagai data operasional kendaraan, mulai dari lokasi, konsumsi bahan bakar, hingga perilaku pengemudi.
Ke depan, data tersebut akan diolah menggunakan AI untuk menghasilkan analisis kondisi kendaraan secara lebih akurat.
"Kalau sekarang telematik itu mengumpulkan data, nanti AI akan membaca pola-pola tersebut. Misalnya cara pengereman, akselerasi, sampai kondisi kendaraan saat digunakan. Dari situ AI bisa memberikan prediksi komponen mana yang kemungkinan akan bermasalah lebih dulu," ujar Sales & Marketing Director PT KTB, Aji Jaya di ICE BSD, Tangerang, Rabu (5/7).
Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi salah satu langkah menuju layanan perawatan prediktif. Dengan begitu, pemilik armada dapat melakukan perbaikan sebelum kerusakan berkembang menjadi lebih besar dan menyebabkan kendaraan berhenti beroperasi.
Aji menjelaskan konsep tersebut penting bagi kendaraan niaga, karena setiap truk yang tidak beroperasi akan berdampak langsung terhadap produktivitas bisnis pelanggan.
"Kalau sudah bisa diprediksi lebih awal, customer bisa menjadwalkan servis sebelum kendaraan benar-benar rusak. Tujuannya mengurangi downtime semaksimal mungkin," katanya.
Meski demikian, Aji mengakui AI tidak serta-merta mampu menghilangkan seluruh potensi kerusakan kendaraan. Menurutnya, masih ada banyak faktor yang memengaruhi kondisi truk, termasuk kebiasaan pengemudi dan disiplin dalam melakukan perawatan berkala.
"Zero downtime itu target yang ingin didekati, bukan berarti kendaraan tidak akan pernah rusak. Yang kami lakukan adalah bagaimana teknologi bisa membantu mengurangi risiko tersebut semaksimal mungkin," ujarnya.
Sebagai dasar pengembangan AI, KTB telah memiliki basis data yang dikumpulkan melalui Runner selama beberapa tahun terakhir. Sistem telematika tersebut sudah tersedia pada kendaraan Fuso sejak 2018, meski pemanfaatannya masih bergantung pada aktivasi oleh pelanggan.
Selain memantau posisi kendaraan secara real time, Runner juga mampu merekam berbagai parameter operasional seperti konsumsi bahan bakar, waktu idle, kecepatan kendaraan, hingga perilaku mengemudi.
Seluruh informasi tersebut menjadi bahan pembelajaran AI untuk mengenali pola kerusakan berdasarkan karakter penggunaan armada.
Menurut Aji, pengembangan AI menjadi bagian dari transformasi layanan purnajual Fuso yang kini tidak lagi hanya berfokus pada perbaikan ketika kendaraan mengalami kerusakan, tetapi juga mencegah kerusakan terjadi sejak awal.
"Kalau kita bisa mengetahui potensi masalah lebih cepat, biaya operasional pelanggan juga bisa ditekan. Itu yang sedang kami kembangkan sekarang," tutup Aji.





