BEKASI, KOMPAS.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi memastikan dugaan pencemaran yang menyebabkan air Kali Bekasi berubah menjadi hitam pekat, berbusa, dan mengeluarkan bau menyengat, berasal dari wilayah Kabupaten Bogor.
Kesimpulan tersebut diperoleh setelah tim DLH Kota Bekasi membandingkan hasil uji laboratorium terhadap sampel air yang diambil di wilayah Kabupaten Bogor dengan sampel dari Kali Bekasi di Kota Bekasi.
"Hasil uji laboratorium menunjukkan karakteristik pencemar pada sampel di Kabupaten Bogor sama dengan yang masuk ke Kali Bekasi. Artinya, sumber pencemaran berasal dari Kabupaten Bogor," ujar Kepala DLH Kota Bekasi Kiswatiningsih kepada awak media, Rabu (5/8/2026).
Baca juga: Kali Bekasi Menghitam dan Berbau, Warga Diminta Tak Gunakan Air PDAM untuk Konsumsi
Kiswatiningsih menjelaskan, penelusuran bermula setelah pihaknya menerima laporan mengenai perubahan warna air Sungai Cileungsi pada 19 Juli 2026.
Sehari kemudian, tim Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH), UPTD Laboratorium, dan Pasukan Katak mengambil sampel air di sejumlah titik, mulai dari Delta Pekayon, Jembatan Kemang Pratama, Bantargebang, hingga Cipendawa.
Pada 22 Juli 2026, tim kembali turun ke lapangan setelah menerima laporan bahwa air Kali Bekasi di wilayah Bekasi Utara juga berubah menjadi hitam.
Penelusuran kemudian diperluas hingga kawasan Cluster Ontario, Kota Wisata, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.
"Kami melakukan penelusuran sampai ke Kabupaten Bogor untuk memastikan apakah karakteristik pencemar yang masuk ke Kota Bekasi sama atau tidak. Hasilnya terbukti sama," kata Kiswatiningsih.
DLH selanjutnya membandingkan hasil uji laboratorium terhadap sampel yang diambil pada 20 Juli dan 22 Juli.
Hasil pengujian menunjukkan parameter pencemar yang identik sehingga memperkuat dugaan bahwa sumber pencemaran berasal dari wilayah hulu di Kabupaten Bogor.
Selain mengidentifikasi sumber pencemaran, DLH juga memantau pergerakan aliran limbah. Pada 20 Juli, air berwarna hitam pekat terpantau di kawasan Kemang Pratama, Bekasi Selatan. Dua hari kemudian, kondisi serupa telah mencapai wilayah Bekasi Utara.
"Diperlukan sekitar dua hari sampai pencemaran itu mengalir dari Bekasi Selatan ke Bekasi Utara," ujar Kiswatiningsih.
Baca juga: Penampakan Kali Bekasi dan Kali Medan Satria Menghitam, Berbusa hingga Bau Menyengat
Pemantauan terbaru di titik pertemuan Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi juga menunjukkan perbedaan warna air. Air Sungai Cikeas tampak berwarna cokelat akibat sedimen, sedangkan Sungai Cileungsi masih berwarna hitam keabu-abuan.
Menurut Kiswatiningsih, kondisi tersebut menunjukkan aliran limbah dari wilayah hulu masih terus berlangsung hingga memasuki Kota Bekasi.
"Ini menunjukkan perjalanan limbah masih terus terjadi dari Kabupaten Bogor menuju Kota Bekasi," katanya.





