Saat AI Gerus Penghasilan Pelukis Pasar Baru

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Sentra Lukisan Pasar Baru menjadi tempat bagi para pelukis menggantungkan hidup dari goresan kuas di atas kanvas. Namun, di tengah perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang kini mampu menghasilkan gambar hanya melalui beberapa kata perintah, bisnis lukisan manual mulai menghadapi tantangan.

kumparan menyambangi sentra lukisan yang berada di depan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Rabu (5/8). Salah satu pelukis yang ditemui adalah Wawan Setiadi (51), yang telah 30 tahun melukis sekaligus menjalankan usaha lukisan di kiosnya.

Menurut Wawan, perkembangan teknologi digital hingga kemunculan AI memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen. Namun, kondisi itu juga berdampak pada penghasilan pelukis karena karya digital bisa ditawarkan dengan harga lebih murah.

“Ya banyak dampaknya, satu sisi mungkin orang jadi punya banyak pilihan, artinya digital atau manual. Cuma buat pelukis agak berat, satu sisi kita berkurang incomenya, di satu sisi mereka (AI) lebih murah, jadi buat kita agak merugikan si,” cerita Wawan kepada kumparan.

Wawan mengaku pendapatannya kini berkurang sekitar 50 persen dibandingkan sebelum teknologi digital berkembang pesat. Saat ini, ia memperoleh sekitar Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per bulan, dari sebelumnya yang bisa mencapai Rp 6 juta-Rp 8 juta.

“Sebelum digital itu bisa Rp 6 juta, Rp 7 juta, Rp 8 juta, banyak. 50 persen lah (turunnya),” ujarnya.

Meski menggerus pendapatan, Wawan tak sepenuhnya memandang AI sebagai ancaman. Teknologi tersebut justru mulai ia manfaatkan sebagai alat bantu dalam proses kreatif, salah satunya untuk mengembangkan konsep awal karya karikatur.

Di saat yang sama, kemunculan AI mendorong Wawan untuk terus mengasah kemampuan agar karya manualnya memiliki karakter yang berbeda. Lukisannya saat ini dibanderol mulai dari sekitar Rp 500 ribu untuk ukuran A4 maupun karya berukuran kecil lainnya.

“Kita ini kan sekadar mengandalkan skil manual kan, ya lebih lagi kita harus berkompetisinya gimana lukisan kita harus berbeda dari AI,” kata Wawan.

Cerita serupa datang dari Yanto (46), pelukis di Sentra Lukisan Pasar Baru yang telah menekuni profesinya sejak 2006. Dampak yang dirasakannya bahkan lebih besar. Yanto mengaku pendapatannya merosot hingga 70 persen sejak kemunculan AI.

Menurutnya, perbedaan harga menjadi salah satu faktor yang membuat konsumen beralih dari lukisan manual ke gambar digital.

“Hampir 70 persen (turun). Semenjak AI ada aja. Ya banyakan pakai digital kan daripada pakai manual. Kadang-kadang faktor persaingan harga, hampir 70 persen lah perbandingan harganya juga 70 persen,” ujarnya.

Penurunan itu juga terlihat dari jumlah pesanan yang diterima. Yanto mengatakan saat ini hanya mendapat sekitar satu hingga dua pesanan lukisan dalam sebulan.

Kendati demikian, Yanto memilih beradaptasi. Seperti Wawan, ia mulai memanfaatkan AI untuk menunjang proses kreatif dan mencari inspirasi dalam melukis.

“Di sisi AI ya membantu juga sebenarnya sih, cuma kalau penghasilan pendapatan ya kita turun drastis,” kata Yanto.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Magang Kemenkeu Reguler Periode II 2026 Dibuka, Simak Jadwal, Syarat, dan Dokumen Pendaftarannya
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Kasus Mayat Dalam Karung di Depok, Polisi Bekuk Pria Diduga Pembunuh
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Gara-gara Satu Adegan di Makam, Lubang Tindik Ari Irham Tiba-tiba Tertutup, Kok Bisa?
• 13 jam lalugrid.id
thumb
Menkes dan BGN Duduk Bareng Ahli Gizi, Bahas Perbaikan MBG
• 1 menit laluliputan6.com
thumb
Penampakan Tanah Merah Depok, Lokasi Jenazah Buang Jenazah Kunaefi Korban Mutilasi Saepullah
• 6 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.