Pulau Pisang: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, mengungkapkan pergerakan angin dan keterbatasan sumber air menjadi tantangan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Tumbang Nusa.
"Perkembangan di lapangan menunjukkan masih terdapat beberapa titik api yang membesar akibat pergerakan angin yang memicu munculnya titik api baru," kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Pulang Pisau, Herman Wibowo, di Pulang Pisau, seperti dilansir Antara, Rabu, 5 Agustus 2026.
Menurut dia, seluruh personel satuan tugas (satgas) di lapangan terus berupaya melakukan pengendalian, pemadaman, dan pembasahan di sejumlah titik kebakaran. Selain cuaca panas, angin yang cukup kencang dan keterbatasan air, api juga terus bergerak mendekati badan jalan.
Penanganan karhutla, kata dia, juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui BPBD Provinsi, Dinas Kehutanan Provinsi, serta bantuan mobil tangki air dan mobil pemadam kebakaran.
Baca Juga :
13 Daerah di Jawa Barat Berstatus Awas Kekeringan
Armada pemadam milik Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau bersama TNI dan Polri juga dikerahkan untuk menahan laju api agar tidak melintasi badan jalan.
"Kerja sama inilah yang selama ini membantu dalam menahan pergerakan api di pinggir jalan sehingga kami bisa mencegah api meloncat ke sisi jalan lainnya," katanya.
Terkait luas lahan yang terbakar, Herman menyebut angkanya masih bersifat dinamis. Berdasarkan data lapangan sekitar tiga hari lalu, luas area terdampak diperkirakan telah mencapai sekitar 122 hektare, namun masih berpotensi berubah seiring pergerakan api dan hasil pemantauan.
"Saat ini pergerakan api mulai mengarah ke Desa Taruna sehingga BPBD mengoptimalkan pembangunan sekat kanal," lanjutnya.
BNPB menangani dampak kemarau di daerah. Foto: Dok. BNPB.
Tiga unit ekskavator dikerahkan untuk memperdalam kanal agar mampu menampung air lebih banyak. Langkah tersebut, terangnya, untuk memperkuat pembasahan lahan sebagai upaya menghentikan laju api menuju desa tersebut.
Herman berharap operasi modifikasi cuaca dapat segera dilakukan. Pelaksanaannya masih bergantung pada kondisi cuaca karena hingga saat ini belum terdapat titik kumpul awan yang memadai di wilayah karhutla.
"Jika dipaksakan saat belum ada kumpulan awan di wilayah ini, hujan justru bisa turun di daerah lain," terangnya.
Pihaknya terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memantau titik kumpul awan. Herman mengatakan jika kondisinya memungkinkan, operasi modifikasi cuaca segera dilaksanakan.




