REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Industri buku anak Islami mulai beradaptasi menghadapi meningkatnya penggunaan gawai pada anak usia dini. Penerbit mengembangkan buku interaktif yang memadukan unsur visual, audio, dan pembelajaran untuk menjaga minat baca sekaligus memperkuat pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam.
Pelaku industri menilai pendekatan tersebut menjadi salah satu strategi agar buku fisik tetap relevan di tengah perubahan pola belajar Generasi Alpha yang semakin akrab dengan teknologi digital. Buku tidak lagi hanya berfungsi sebagai media baca, tetapi juga dikembangkan menjadi sarana belajar yang lebih interaktif agar mampu bersaing dengan berbagai konten digital.
Baca Juga
Pemerintah Perluas Akses 5,5 Juta Buku Bacaan Bermutu untuk Perkuat Literasi Anak
Perkuat Literasi, Kemendikdasmen Kirim 5,5 Juta Buku Bacaan ke 24 Ribu Sekolah Seluruh Indonesia
Salah satu penerbit yang mengembangkan pendekatan tersebut adalah Ziyadbooks. Selama lebih dari dua dekade, perusahaan menghadirkan buku anak Islami dengan berbagai inovasi, termasuk pengembangan soundbook yang menggabungkan buku cetak dengan teknologi audio untuk meningkatkan pengalaman belajar anak.
Inovasi tersebut turut mengantarkan Ziyadbooks meraih Brand Indonesia Excellence Award 2026 kategori Stationery & Books. Penghargaan itu diberikan kepada merek yang dinilai mampu menjaga konsistensi dan berinovasi di industrinya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
CEO Ziyadbooks Rubiyanta mengatakan, tantangan industri penerbitan saat ini bukan lagi sekadar memproduksi buku, tetapi menghadirkan pengalaman belajar yang mampu bersaing dengan daya tarik layar digital.
“Tantangan industri penerbitan saat ini bukan lagi sekadar memproduksi buku bacaan, melainkan bagaimana membuat literatur fisik mampu bersaing dengan daya tarik layar digital. Kami berfokus merancang literasi yang tidak hanya menanamkan nilai-nilai Islam dan pembentukan karakter, tetapi juga merangsang keterlibatan aktif anak lewat pengalaman belajar interaktif sejak usia dini,” ujarnya, Rabu (5/8/2026).
Menurut Rubiyanta, pengembangan buku interaktif dilakukan untuk menyesuaikan karakter belajar anak yang kini lebih responsif terhadap stimulasi visual dan auditori. Melalui pendekatan tersebut, anak tidak hanya membaca, tetapi juga berinteraksi secara langsung dengan materi pembelajaran sehingga proses memahami doa harian, ibadah, akhlak, maupun pengetahuan dasar menjadi lebih mudah.
Selain materi keislaman, buku yang dikembangkan juga mencakup pengembangan bahasa, sains, dan pengetahuan umum. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendukung perkembangan kognitif sekaligus membangun karakter anak sejak usia dini.
Memasuki lebih dari 20 tahun beroperasi, Ziyadbooks menilai inovasi pada buku anak Islami menjadi bagian dari upaya menjaga relevansi literasi cetak di era digital. Ke depan, perusahaan berencana terus mengembangkan media pembelajaran yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa meninggalkan fungsi buku sebagai sarana membangun budaya membaca dan karakter generasi muda.