Harga emas dunia melonjak ke level tertinggi dalam hampir tujuh pekan pada perdagangan Rabu (5/8/2026).
IDXChannel - Harga emas dunia melonjak ke level tertinggi dalam hampir tujuh pekan pada perdagangan Rabu (5/8/2026), sekaligus mencatat kenaikan harian terbesar sejak Februari.
Penguatan logam mulia ini didorong oleh turunnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya harapan terhadap kemajuan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Harga emas spot naik 4,18 persen menjadi USD4.247,28 per troy ons, setelah sempat menyentuh USD4.264,93 per ons, level tertinggi sejak 18 Juni.
Kenaikan tersebut juga membawa harga emas menembus rata-rata pergerakan (moving average) 50 hari yang kini menjadi area support di sekitar USD4.160 per troy ons.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup menguat 3,7 persen ke USD4.305,20 per ons.
"Pelaku pasar yang lebih awal masuk kembali ke logam mulia karena peluang kenaikan suku bunga telah berkurang dibandingkan pekan lalu. Dolar juga melemah tajam sehingga turut mendukung harga emas. Jeda konflik Iran juga memberikan sentimen positif," ujar analis logam independen Tai Wong, dikutip Reuters.
Dolar AS diperdagangkan di dekat level terendah dalam enam pekan terhadap mata uang utama dunia, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar level terendah dalam sepekan.
Kondisi tersebut terjadi setelah Presiden Donald Trump mengatakan pemerintahannya menggelar pembicaraan yang "sangat baik" dengan Iran dalam negosiasi sepanjang hari, sehingga memunculkan harapan bahwa konflik yang telah berlangsung selama lima bulan segera mereda.
Pelemahan dolar membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri, sementara turunnya imbal hasil obligasi mengurangi biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang aset yang tidak memberikan bunga seperti emas.
Meski demikian, harga emas masih turun sekitar 24 persen dibandingkan rekor tertinggi USD5.594,82 per ons yang dicapai pada Januari.
Sejak pecahnya perang Iran, harga emas juga masih melemah sekitar 19 persen, setelah kekhawatiran terhadap inflasi energi sempat meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga.
Di sisi lain, permintaan emas dari bank sentral pada semester I-2026 tercatat sebagai yang terendah sejak 2022, menurut World Gold Council.
Arus keluar dari exchange-traded fund (ETF) berbasis emas mencapai 45 ton pada kuartal II-2026, ketika harga emas mencatat penurunan kuartalan terdalam sejak 2013, yakni sebesar 14 persen.
Dalam risetnya, J.P. Morgan menilai dengan pembelian bank sentral yang masih terbatas, minat investor ritel yang beralih ke aset lain, serta permintaan fisik di Asia yang masih lemah, arus investasi ke ETF yang sensitif terhadap suku bunga kembali menjadi pendorong utama pergerakan harga emas.
"Untuk mendorong reli yang lebih kuat di pasar logam, diperlukan ekspektasi penurunan suku bunga. Namun untuk saat ini, skenario tersebut baru diperkirakan terjadi paling cepat pada 2027," kata Wong.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot melonjak 4,4 persen menjadi USD62,11 per ons setelah menyentuh level tertinggi sejak 6 Juli.
Sementara itu, platinum naik 0,2 persen menjadi USD1.740,04 per ons dan paladium menguat 1,5 persen menjadi USD1.373,24 per ons.
Keduanya sempat mencapai level tertinggi masing-masing sejak 17 Juni dan 2 Juni seiring optimisme terhadap pembicaraan damai Iran.
Analis Standard Chartered, Suki Cooper, mengatakan harga platinum dan paladium sebelumnya telah mencerminkan berbagai sentimen negatif sejak awal konflik, mulai dari kekhawatiran perlambatan produksi otomotif, meningkatnya pangsa pasar kendaraan listrik, hingga potensi peningkatan pasokan dari daur ulang logam.
Menurutnya, pasar platinum diperkirakan tetap mengalami defisit pasokan sepanjang tahun ini, sedangkan pasar paladium diperkirakan beralih ke surplus pada 2026. (Aldo Fernando)





