JAKARTA, DISWAY.ID - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) hujan buatan sebanyak 1-2 kali dalam seminggu untuk menghadapi El Nino.
OMC hujan buatan dilakukan berkala jika ketersediaan awan di udara memungkinkan.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk mitigasi dari dampak El Nino dan kemarau panjang yang terjadi di Indonesia, termasuk Jakarta.
BACA JUGA:Menko Polkam Pastikan Situasi Nasional Aman dan Terkendali, Masyarakat Dihimbau Tak Percaya Hoaks
Adapun fenomena El Nino diprediksi berlangsung hingga pertengahan bulan Oktober 2026.
"Saya sudah memberikan persetujuan, kalau bisa setiap minggu itu satu sampai dua kali dibuat hujan buatan atau modifikasi cuaca." ujar Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung di Balai Kota, Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.
Keputusan tersebut diambil setelah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta berkoordinasi dengan BMKG dan BPNP.
"Puncak El Nino kali ini akan panjang, mungkin salah satu yang terpanjang dibandingkan tahun 2023." sambungnya.
Pemprov DKI berharap langkah tersebut bisa menekan risiko kekeringan serta meminimalisir potensi bencana susulan di ibu kota.
Sementara itu, BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus yang mencakup 48,84 persen wilayah Indonesia, kemudian berlanjut pada September dengan cakupan sekitar 25,41 persen wilayah daratan.
BACA JUGA:BGN Perketat Tata Kelola MBG, Zero Tolerance Keracunan Hingga Ancam Tutup Dapur
Sebagian besar wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Kondisi tersebut turut memicu peningkatan titik panas di sejumlah daerah rawan kebakaran hutan dan lahan.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan menjelang puncak musim kemarau pada Agustus hingga September.





