Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini kembali mengalami penguatan.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 6 Agustus 2026, rupiah hingga pukul 09.47 WIB berada di level Rp17.908 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 25 poin atau setara 0,14 persen dari Rp17.933 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.932 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.930 per USD hingga Rp17.980 per USD," jelas Ibrahim.
Baca Juga :
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29% di Kuartal II 2026Ibrahim menjelaskan, pergerakan rupiah ditopang rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal II 2026. Realisasi tersebut melampaui proyeksi sejumlah ekonom yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan berada di kisaran 4,8 persen sampai 4,9 persen.
Berdasarkan data BPS, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada kuartal II 2026 mencapai Rp6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan sebesar Rp3.576,2 triliun.
Selain tumbuh secara tahunan, ekonomi Indonesia juga meningkat 3,73 persen dibandingkan kuartal I 2026 (quarter to quarter/QtQ). Sementara itu, secara kumulatif semester I 2026 terhadap periode yang sama tahun sebelumnya (cumulative to cumulative/CtC), ekonomi tumbuh 5,45 persen.
Capaian tersebut berbeda dengan proyeksi sejumlah ekonom yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat dibandingkan kuartal sebelumnya.
Sebelumnya, perlambatan diperkirakan terjadi akibat meningkatnya biaya produksi, ketidakpastian ekonomi global, pengetatan kebijakan moneter di berbagai negara, serta dinamika kebijakan fiskal domestik. Namun, data resmi BPS menunjukkan ekonomi Indonesia tetap mampu tumbuh lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Pasar global pantau perundingan AS-Iran
Dari pasar global, perhatian investor masih tertuju pada perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Pasar merespons positif pernyataan Qatar yang menyebut para mediator telah mencatat kemajuan dalam upaya mengakhiri konflik di kawasan.
Sentimen tersebut turut mendorong penurunan harga minyak dunia. Harga minyak Brent bahkan ditutup di bawah USD80 per barel pada Selasa, menjadi yang pertama sejak 13 Juli.
Dalam percakapan melalui telepon, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani membahas upaya mempersempit perbedaan antara Washington dan Teheran guna meningkatkan peluang tercapainya penyelesaian jangka panjang. Meski demikian, pemerintah Iran membantah adanya negosiasi langsung yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat.
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menantikan sejumlah data ketenagakerjaan Amerika Serikat sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Perubahan ketenagakerjaan sektor swasta versi ADP pada Juli diperkirakan menunjukkan penambahan sekitar 70 ribu tenaga kerja, lebih rendah dibandingkan 98 ribu pada Juni.
Investor juga menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS. Apabila data ketenagakerjaan menunjukkan perlambatan, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed diperkirakan akan semakin berkurang.




