Pemerintah bakal menggelontorkan stimulus pada paruh kedua tahun ini untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Stimulus yang disiapkan mencakup insentif kendaraan listrik, bantuan bagi sektor pertanian menghadapi musim kemarau, hingga berbagai program penopang daya beli masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebuttarget pertumbuhan ekonomi 2026 diharapkan tetap mencapai 5,4%, sesuai asumsi APBN. Untuk itu, berbagai instrumen kebijakan akan dioptimalkan agar aktivitas ekonomi tetap terjaga pada paruh kedua tahun ini.
“Tentu kami harus menjaga momentum pertumbuhan di atas 5 dan di semester dua ini kita mengharapkan dari segi investasi sebagai penggerak, kemudian dari belanja pemerintah, daya beli masyarakat, serta dari impor dan ekspor,” kata Airlangga dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Rabu (5/8).
Salah satu stimulus yang tengah difinalisasi adalah insentif untuk kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Airlangga menyebut, pemerintah telah menyiapkan anggaran program tersebut dan kini tinggal mematangkan skema pelaksanaannya bersama kementerian teknis.
“Stimulus EV masih dalam pembahasan antarkementerian teknis dan anggarannya sudah ada, tinggal bagaimana kita meluncurkan,” katanya.
Ia menjelaskan, insentif tersebut dirancang untuk mendorong produksi kendaraan listrik nasional, meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta memperkuat ekosistem industri baterai di Indonesia.
Selain itu, pemerintah juga membuka peluang memberikan insentif bagi daerah yang terdampak musim kemarau dan potensi El Nino. Airlangga mengatakan bentuk bantuan masih disusun sesuai kebutuhan masing-masing sektor, khususnya pertanian.
“Tentu kami harus melihat wilayah-wilayah dan kantong-kantongnya. Insentif yang diberikan nanti sesuai dengan kementerian/lembaga yang terkait. Pemerintah tentu akan siapkan anggaran yang diperlukan untuk itu,” kata dia.
Di luar stimulus tersebut, pemerintah melanjutkan berbagai program untuk menopang konsumsi masyarakat pada semester II. Program itu meliputi bantuan pangan berupa beras 10 kilogram bagi 33,24 juta keluarga penerima manfaat, diskon transportasi pada masa liburan sekolah dan Natal-Tahun Baru, serta fasilitas PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk tiket pesawat kelas ekonomi.
Pemerintah juga melanjutkan program magang bagi 150 ribu generasi muda dan pelatihan vokasi bagi 250 ribu pelajar untuk memperkuat kualitas tenaga kerja. Di sektor pembiayaan, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) terus dipercepat dengan plafon sebesar Rp362,19 triliun, sementara bunga pembiayaan Mekaar bagi perempuan pelaku usaha mikro diturunkan menjadi 8% dari sebelumnya sekitar 18-20%.
Airlangga mengatakan, pemerintah optimistis berbagai insentif tersebut dapat menopang pertumbuhan ekonomi pada semester II. Optimisme itu didukung capaian ekonomi pada paruh pertama 2026, di mana Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada triwulan II 2026 dan secara kumulatif mencapai 5,45% pada semester I 2026.
“Pemerintah optimistis momentum pertumbuhan dapat terus dijaga hingga tahun 2026 dan tentunya pemerintah terus waspada terhadap gejolak yang muncul di geopolitik sambil memperkuat fondasi perekonomian nasional,” kata Airlangga.




